RI identifikasi korban kapal tenggelam di Rusia

Sumber gambar, AFP
Pemerintah Indonesia tengah melakukan proses identifikasi tujuh jenazah WNI yang ditemukan tewas akibat tenggelamnya kapal ikan Korea di Laut Bering, Rusia.
Laporan menyebutkan bahwa sebelas jenazah diselamatkan pada Rabu (03/12). Mereka terdiri dari tujuh WNI, tiga orang asal Korea Selatan, dan satu warga Filipina.
Pada Kamis (04/12), kantor berita Korsel Yonhap mengatakan tim penyelamat menemukan empat jenazah baru, namun belum jelas asal negaranya.
Kapal ikan Oryong 501 <link type="page"><caption> tenggelam Senin (01/12)</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/12/141201_korea_kapal" platform="highweb"/></link>, mengangkut total 60 awak - yaitu 35 WNI, 13 dari Filipina, 11 warga Korsel, dan seorang inspektur asal Rusia.
Tujuh orang -<link type="page"><caption> termasuk tiga WNI </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/12/141202_wni_kapal_korea" platform="highweb"/></link>- sudah diselamatkan, namun 37 orang masih dinyatakan hilang dan harapan menemukan korban selamat menipis.
Wakil Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Iqbal Lalu Muhammad, mengatakan Kedutaan Besar RI di Moskow dan Seoul sedang melakukan proses identifikasi.
"Tim pemerintah telah menghubungi keluarga dan kami menyampaikan bahwa ada kemungkinan bahwa anggota keluarga mereka menjadi korban. Kami meminta contoh DNA untuk kemudian dicocokkan," katanya kepada BBC Indonesia.
Terhambat cuaca
Iqbal mengatakan Korea Selatan telah menyatakan komitmen untuk meneruskan upaya pencarian - yang kini telah berlangsung lebih dari tiga hari.
"Korea Selatan mengerahkan 12 kapal, sementara Rusia mengirimkan tiga kapal dan satu pesawat," sambungnya.
Pemerintah Indonesia mengatakan akan terus melakukan pendampingan bagi kerabat korban, termasuk mengurus kepulangan jenazah dan kompensasi yang menjadi hak mereka.
Sementara itu staf KBRI Moskow yang telah berada di kota dekat lokasi kejadian mengatakan cuaca buruk menjadi hambatan besar.
"Gelombang bisa lebih dari 10 meter, dan Rusia sedang musim dingin sehingga siang hari itu waktunya pendek sekali," kata Kiki Kusprabowo kepada BBC.
Kiki mengatakan pihak KBRI bersama Rusia, Korea, dan Filipina kini bersama-sama sedang merundingkan rencana pemulangan jenazah.
"Apakah langsung dipulangkan melalui Rusia atau dibawa dulu ke Korea Selatan. Kami mencari solusi tercepat agar para korban bisa diserahkan kepada keluarga."









