Sikap Indonesia atas etnis Muslim Uighur di Cina

Uighur

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga etnis Uigur memprotes kedatangan Presiden Cina Xi Jinping di Berlin, Maret 2014.

Serangan di Xinjiang, Cina, Rabu (30/04) dituduh sebagai aksi separatis etnis Muslim Uighur di Cina. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dunia ternyata komunitas Muslim di Indonesia belum menjalin komunikasi dengan kelompok minoritas tersebut.

Tidak seperti etnis Muslim Rohingya di Myanmar yang selama bertahun-tahun menjadikan Indonesia salah satu negara tujuan untuk mengungsi dan membuat mereka mendapat dukungan luas dari Muslim di Indonesia, etnis Uighur hampir tidak terdengar.

Pemerintah Indonesia sendiri dinilai bersikap pasif dalam menyikapi isu ini, ungkap Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua organisasi pegiat hak asasi manusia Setara Institute.

"Mereka (pemerintah Indonesia) sangat berhati-hati apalagi menghadapi kekuatan besar, pemain <link type="page"><caption> penting di dunia, Cina</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/05/140501_xi_xinjiang_kecam.shtml" platform="highweb"/></link>, Indonesia tidak akan gegabah untuk bersikap," kata Bonar.

Selama bertahun-tahun, pemerintah Cina menuduh kelompok separatis dari etnis ini sebagai dalang dari <link type="page"><caption> sejumlah serangan mematikan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2014/04/140430_cina_stasiun.shtml" platform="highweb"/></link> di kawasan Xinjiang seperti yang terjadi Rabu (30/04) lalu dan menewaskan tiga orang.

Sementara itu, Abdul Mu'ti, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengaku organisasinya belum menjalin komunikasi dengan pihak Uighur tetapi mereka bersimpati dengan perjuangan Uigur.

"Kami belum berkomunikasi dengan siapa pun dari Uighur tapi kami bersimpati dengan perjuangannya dan solider dengan sesama umat Muslimin, bukan cuma Muslimin sebenarnya tapi siapa pun mereka yang berjuang untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara," kata Mu'ti.

Uighur

Sumber gambar, AFP GETTY

Keterangan gambar, Seorang perempuan etnis Uighur yang mengungsi ke Thailand

'Belajar di pesantren'

Dihubungi melalui sambungan telepon, Zuhairi Misrawi, kader Nadhlatul Ulama, organisasi Islam tersebesar di Indonesia berpendapat masalah etnis Uighur perlu diselesaikan.

Namun Zuhairi mengungkap karena selama ini belum pernah ada warga Uigur di Indonesia, maka NU belum pernah memberikan bantuan kepada mereka.

Di lain pihak, Felix Siauw, seorang penulis dan guru agama Islam dari etnis Tionghoa menjelaskan sebenarnya di Indonesia terdapat warga etnis Uighur yang datang untuk menimba ilmu agama.

"Saya belum pernah bertemu dengan pengungsi Uighur, tapi saya tahu ada beberapa yang datang ke Indonesia untuk belajar di pesantren," kata Felix.

Namun pernyataan itu diragukan Zuhairi dan Abdul Mu'ti.

Kaum Uighur adalah keturunan kelompok etnis Turki yang tinggal di Xinjiang, Cina, dan juga wilayah lain Asia Tengah dan Timur.

Kaum etnis Uighur yang berada di Xinjiang merupakan satu dari sekitar lima puluh enam kelompok etnis yang ada di Cina.