Survei: Efek tokoh lebih signifikan dibanding kampanye

PKB

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, PKB adalah salah satu partai yang mengandalkan tokoh.

Satu hari sebelum hari terakhir kampanye legislatif 2014, efek kampanye dirasakan kurang signifikan dibandingkan efek <link type="page"><caption> tokoh</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/04/140403_partai_demokrat_rapat_umum.shtml" platform="highweb"/></link> terhadap elektabilitas partai.

Demikian hasil survei yang dipaparkan Indikator Politik Indonesia Jumat pagi (04/04) di Jakarta.

Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia mengatakan kampanye kurang efektif karena umumnya dihadiri oleh simpatisan partai bukan oleh calon pemilih yang belum menentukan pilihannya.

Selain itu, karena terdapat banyak partai, partai sulit membedakan program dan ideologi mereka dengan partai lain.

"Karena itu pemilih susah untuk membedakan janji-janji prospektif ke depan yang ditawarkan semua partai. Yang mereka lihat adalah rekam jejak ke belakang. Karena rekam jejak partai itu sama-sama korup, kemudian mereka (pemilih) melihatnya figur," kata Burhanuddin.

Menanggapi hal tersebut, Priyo Budi Santoso, Wakil Ketua DPR RI, mengatakan identitas partai sekarang sudah hilang dan yang terpenting adalah apakah partai dipercayai publik atau tidak dan untuk itu dibutuhkan seorang tokoh.

Peran tokoh

Hal yang sama juga diakui oleh Marwan Jafar, Ketua Fraksi PKB di DPR RI yang mengatakan rakyat Indonesia cenderung melihat figur.

Survei Indikator Politik Indonesia menunjukkan Jokowi adalah tokoh yang paling populer menjelang pemilu legislatif dan diperkirakan mampu meningkatkan elektabilitas PDIP.

Survei ini melibatkan 1.220 responden di seluruh Indonesia dan diadakan dalam kurun waktu 28 Februari - 10 Maret dan 18-24 Maret 2014.

Peran tokoh ini juga pernah diungkap dalam survei-survei lain, termasuk peran SBY bagi Partai Demokrat.