Riau tanggapi pernyataan SBY soal kabut asap

Seorang warga Kota Dumai, Riau mengenakan masker di pelabuhan kota itu.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Seorang warga Kota Dumai, Riau mengenakan masker di pelabuhan kota itu.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah, BPBD, Kota Dumai, Riau, mengatakan kesulitan untuk menangani kebakaran dan dampak kabut asap dalam waktu dua hari di wilayahnya, seperti yang dituntut <link type="page"><caption> Presiden Susilo Bambang Yudhoyono</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/03/140314_kabut_asap_riau_presiden_turun_tangan.shtml" platform="highweb"/></link>.

"Saya rasa, satu atau dua hari agak sulit (dilaksanakan), karena luasan yang terbakar di Dumai itu sangat luas. Jadi agak susah untuk memadamkan dalam satu atau dua hari," kata Kepala BPBD Kota Dumai, Noviar Indraputra Nasution, kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Jumat (14/03) siang.

Noviar menyatakan hal itu setelah ditanya apa komentarnya atas pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui akun Twitternya, Kamis (13/03) malam, yang menyatakan akan mengambil alih penanganan persoalan kabut asap di Riau.

"Kalau dalam waktu 1-2 hari ini Pemda Riau dan para menteri tidak bisa mengatasi, kepemimpinan dan pengendalian akan saya ambil alih," demikian pernyataan SBY dalam tweeternya.

Kota Dumai merupakan salah-satu wilayah di Riau yang disebut memililki titik api akibat pembakaran hutan atau lahan. Kota ini juga terdampak berupa kabut asap sehingga sebagian warganya terganggu kesehatannya.

Lebih lanjut Noviar mengatakan, pihaknya tetap berupaya semaksimal mungkin dengan mengandalkan "kekuatan yang ada untuk melakukan pemadaman."

Menurutnya, kendala terbesar yang dialami pihaknya adalah menjangkau titik api karena jangkauan wilayahnya yang melebar dan meluas.

"Armada kita tidak bisa ke sana, karena akses tidak ada," ungkapnya.

Persoalan lainnya, menurutnya, adalah minimnya air untuk memadamkan kebakaran. "Karena, kalau seandainya lokasi kebakarannya dekat, sumber airnya tidak ada, itu tidak mungkin kita laksanakan," kata Noviar.

Sulit dipadamkan

Dia juga mengatakan, kebakaran di hutan gambut di Dumai sulit dipadamkan karena "kalau di atas tidak ada api, tapi di dalamnya tetap merambat apinya."

Kabut asap di wilayah Riau sudah masuk kategori berbahaya bagi warga Pekanbaru.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Kabut asap di wilayah Riau sudah masuk kategori berbahaya bagi warga Pekanbaru.

"Mudah-mudahan jika Allah punya kuasa, mudah-mudahan turun hujan. Makanya kita sholat Istighosah agar hujan turun di Dumai," kata Noviar.

Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), Kamis (13/03) mengatakan, kondisi kualitas udara di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya "sudah pada level berbahaya."

Mereka juga menyatakan, bencana asap akibat kebakaran lahan dan hutan di Riau sangat berdampak terhadap kesehatan penduduk Riau dan hal ini dapat dilihat dari kasus penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi kulit, asma, iritasi mata dan Penumonia.

Seorang <link type="page"><caption> dokter ahli paru-paru</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2014/03/140313_kabut_asap_riau_kesehatan.shtml" platform="highweb"/></link> mengatakan, dia telah merekomendasikan agar warga yang berisiko yaitu anak-anak, manula, bayi dan ibu hamil untuk dievakuasi ke wilayah yang tidak terdampak.