Ancaman teror Natal, polisi perketat keamanan

bom
Keterangan gambar, Bom bunuh diri meledak di Markas Polres Poso, Sulawesi Tengah pada pertengahan tahun ini.

Polisi meningkatkan upaya pencegahan aksi teror dan gangguan keamanan menjelang akhir tahun menyusul terlacaknya sejumlah rencana aksi teror, kata seorang petinggi Polri, Jumat (13/12).

Informasi tersebut berasal dari beberapa penangkapan terduga teroris beberapa bulan terakhir, kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie.

"Kita mengetahui ada rencana-rencana mereka [teroris] melakukan aktivitas di akhir tahun dan itu yang kita coba lakukan pencegahan," kata Sompie kepada wartawan BBC Indonesia Christine Franciska.

Sementara itu, pengamat mengatakan kelompok teroris cenderung memanfaatkan periode menjelang pemilihan umum untuk melakukan aksinya.

Peneliti terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, menilai momen menjelang pemilu merupakan waktu yang dinilai cocok untuk melakukan teror karena perhatian polisi sedang terbagi antara pengamanan pemilu dan kewaspadaan aksi teror.

"Fokus biasanya menurun karena terbagi, kewaspadaan mereka rentan untuk diserang.

Ini terjadi sebetulnya pada Juli 2009 dengan <link type="page"><caption> bom di Hotel Marriot</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2010/05/100520_jibril.shtml" platform="highweb"/></link> kedua dan pada 2004 ada bom Kuningan," kata Taufik.

"Tren ini menjadi kekhawatiran sendiri kalau intelijen tidak bekerja dengan baik. Namun dengan kekuatan dan kapasitas kelompok teroris yang ada sekarang, saya belum melihat mereka cukup mampu [melakukan teror besar]," sambungnya.

Penilaian ini diungkapkan Taufik Andrie menanggapi adanya ancaman teror menjelang perayaan Natal pada akhir tahun ini, menjelang tahun pemilu 2014.

"Secara umum tren dua tahun terakhir target teror ditujukan ke <link type="page"><caption> aparat keamanan</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/09/130911_policeshot.shtml" platform="highweb"/></link>, tetapi bukan tidak mungkin target acak masih terus dilakukan," sambungnya.

"Memang Natal dan perayaan Tahun Baru rawan karena ini menjadi titik strategis karena identik dengan kaum nasrani yang bagi sebagian dari mereka masih dianggap musuh. Namun dari tahun ke tahun isu ini menurun karena kelompok teroris lebih banyak menyoroti isu global tentang Suriah misalnya."

Ancaman bom Natal

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kamis (12/12) kemarin meminta kepolisian untuk meningkatkan kewaspadaan.

Momen Natal dan Tahun Baru, menurutnya, rentan digunakan oleh pihak tertentu untuk tujuan tidak baik.

"Saya telah menerima laporan dari Kapolri tentang adanya elemen-elemen yang merancang gangguan keamanan dan ketertiban di tempat-tempat tertentu," kata Yudhoyono seperti dimuat dalam situs kepresidenan.

Gangguan keamanan tersebut, lanjut Presiden SBY, seolah-olah berkaitan dengan Pemilu. "Padahal tidak," ujar Presiden SBY.

Adapun Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutarman mengatakan pengamanan di sejumlah tempat akan diperketat.

"Kami akan mengerahkan dua pertiga dari personil kami dan aparat keamanan di gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya, pusat perbelanjaan, wisata dan tempat-tempat hiburan yang sering dikunjungi oleh publik (selama liburan Natal dan Tahun Baru)," kata Kapolri Jenderal Sutarman, seperti dikutip AFP.