Koleksi Museum Nasional 'harus diduplikasi'

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M. Nuh merancang langkah pengamanan benda koleksi museum, termasuk pembuatan duplikasi koleksi setelah terjadi kasus pencurian empat artefak emas berusia setidaknya 1000 tahun di Museum Nasional, Jakarta.
Hilangnya empat artefak emas dari masa Mataram Kuno tersebut diketahui pada hari Rabu (11/09) dan baru dilaporkan kepada polisi Kamis sore.
Polisi dan pihak-pihak terkait hari Jumat (13/09) melakukan olah TKP dan disaksikan oleh sejumlah pejabat, termasuk M. Nuh.
Kepada wartawan, Nuh menjelaskan tiga langkah yang akan dilakukan untuk memastikan keamanan benda-benda koleksi museum.
"Pertama kita tetap selamatkan aset hilang dengan menyampaikan info pencurian ke balai lelang dan asosiasi kolektor, intinya ingin mengamankan aset yang hilang itu," kata Nuh.
"Kedua, untuk hal-hal khusus terkait warisan budaya, kita harus punya duplikasinya. Jadi duplikasinya yang dipamerkan, tidak harus yang aslinya untuk menghindari terjadi apa-apa," tambahnya.
Ia juga meminta agar sistem keamanan diubah dengan teknologi yang modern agar setiap gerakan di setiap ruang bisa direkam video.
CCTV tak berfungsi
Keempat artefak yang hilang berada di dalam satu buah lemari kaca yang dipajang di ruang Kasana, lantai dua gedung lama museum yang memiliki semboyan 'Untuk Kepentingan Umum" atau Ten Nutte Van Het Algeemeen itu.
Pada Jumat (13/09), kepolisian kembali melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan kepada sejumlah pegawai museum.
Seluruh staf juga diminta berkumpul untuk diambil sidik jarinya guna menyelidiki dugaan adanya keterlibatan orang dalam.
"Kemarin sudah sembilan yang diperiksa, sekarang 28 lagi diperiksa, termasuk sekuriti internal, bagian arkeologi, tata usaha, teknisi, dan kepala rumah tangga," kata Kasat Reskrim Jakarta Pusat, AKBP Tatan Dirsan kepada wartawan.
"Kami belum bisa berasumsi orang dalam atau bukan, belum bisa menduga-duga."
Dalam pemeriksaan hari ini, juga diketahui bahwa CCTV di ruangan tersebut sudah tidak berfungsi setidaknya dua bulan lalu sehingga menyulitkan penyidik mengidentifikasi pelaku.
Sementara alarm yang seharusnya berbunyi ketika kerjadi pencurian juga masih diperiksa.
"Pencurian ini terdeteksi saat seorang office boy berinisial R membersihkan kaca di lantai dua pada hari Rabu, esok harinya pada Kamis, kehilangan itu baru dilaporkan."
Pengelolaan lemah

Menurut pemerhati museum Asep Kambali pengelolaan museum secara umum memang masih lemah, terutama dari sisi keamanan.
"Museum di Indonesia memang tidak memiliki keamanan yang baik. CCTV di beberapa museum hanya formalitas," katanya.
"Anggaran yang kecil dan sebagainya itu saya kira hal-hal yang bisa disiasati. Yang terpenting bagaimana totalitas mengelola museum. Pemerintah seolah-olah beranggapan museum tidak perlu diperhatikan, padahal itu lebih berharga nilainya daripada uang," tambahnya.
Museum Nasional sendiri dibangun pada 1862 oleh pemerintah Hindia Belanda di lokasi yang dulu dikenal dengan Koningsplein West (kini Jalan Medan Merdeka Barat 12) di atas lahan seluas 26.500 meter persegi.
Museum ini menyimpan 141.000 benda bernilai sejarah yang terdiri dari Klik koleksi pra sejarah, arkeologi, numismatik, heraldik, keramik, etnografi, sejarah dan geografi.
Pada tahun 1871, Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Thailand berkunjung ke museum ini dan memberikan hadiah sebuah patung gajah perunggu yang kemudian dipajang di halaman depan museum dan seiring waktu, masyarakat mengenal Museum Nasional dengan nama Museum Gajah atau Gedung Gajah.









