Ancaman banjir terbesar Jakarta: hujan ekstrim di Puncak

banjir
Keterangan gambar, ketinggian banjir mencapai dua hingga tiga meter

Kondisi cuaca yang terus menerus hujan di kawasan Puncak, Bogor Jawa Barat mengancam ketinggian air yang masuk Jakarta dan bisa berakibat banjir separah 2007.

Curah hujan tinggi dalam durasi panjang selama beberapa jam tanpa henti, dikenal dengan istilah 'hujan ekstrim', di kawasan Puncak akan membuat pintu air bendungan Katulampa kesulitan mengendalikan debit menuju Depok dan Jakarta.

"Sampai siang ini kita cek sudah cenderung menurun, hujan sementara tidak ada lagi," kata Kepala Pos Pintu Air Katulampa Andi Sudirman, paa Dewi Safitri dari BBC.

Ia mengakui hujan tidak sama sekali berhenti di kawasan atas Bogor, tetapi melihat curah yang sudah mengecil kemungkinan status Siaga III tidak akan memburuk dalam waktu singkat.

"Kita monitor, (hujan) sudah cenderung tidak selebat kemarin," tambah Andi.

Ketinggian permukaan air Katulampa menyusut dari puncaknya Selasa (15/1) lalu yang mencapai 210cm. Hingga pukul 13:00 Wib, ketinggian air mencapai 100 cm.

Tinggi air bendungan Katulampa sangat berpengaruh pada kondisi genangan di Jakarta.

"Tahun 2007 waktu banjir besar di Jakarta, tinggi air 250cm, tahun 2010 juga demikian."

'Buka lebar-lebar'

Meski sedikit surut, beberapa titik sekitar Jakarta masih disiram hujan. Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) meramalkan puncak musim hujan Jabodetabek akan berlanjut hingga pertengahan Februari.

"Kita tidak bisa pastikan apa yang terburuk sudah lewat atau belum," kata Andi Sudirman menjawab pertanyaan apakah banjir makin parah akan terjadi lagi.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Pos Pintu Air Mangarai menyatakan membuka kanal pembuangan air maksimal.

" Pokoknya dari Banjir Kanal Barat kita Bukan lebar-lebar, sampai pol," kata petugas Manggarai, Muhammad Ibnu.

Ibnu mengatakan sejak puncak ketinggian permukaan mencapai 1030 pukul 09;00 Wib tadi pagi, air berangsur surut dan kini mencapai 930cm.

"Status kewaspadaan turunkan jadi Siaga II," tambahnya.

Namun Ibnu membantah sejumlah pemberitaan yang menyebut air juga telah dialirkan ke kawasan Istana Presiden dan Menteng, melalui kanal Ciliwung Lama.

"Belum, belum kita buka yang itu. Perintahnya harus dari Gubernur," tegas Ibnu.

Air yang sempat menggenangi Istana menurut Ibnu hanya merupakan limpasan dari jalur pembuangan air sekitarnya akibat besarnya arus dan lebatnya hujan.

Dalam inspeksi sekitar Istana yang tergenang air setinggi lutut pagi tadi Presiden dilaporkan memerintahkan agar Gubernur DKI Jokoknya Widodo 'tak usah memikirkan istana', terkait konsekuensi banjir jika pintu Ciliwung Lama dibuka.