Berurai air mata meliput tsunami Aceh

aceh

Hari ini delapan tahun silam gempa 9,3 SR mengguncang Aceh pada pukul 08:15 WIB diikuti terjangan gelombang tsunami.

Korban berjatuhan di Banda Aceh, sebagian Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Barat dan Pidie serta Aceh Utara saat air laut menyapu daratan antara tiga hingga lima kilometer dari pesisir pantai di sebagian wilayah di provinsi ujung paling barat Indonesia itu

Media massa dari berbagai belahan dunia mengirim wartawan mereka untuk meliput bencana dahsyat itu dan bagi beberapa wartawan peliputan itu meninggalkan kenangan yang sampai sekarang sulit mereka lupakan.

'Pemakaman massal'

Dian
Keterangan gambar, Dian Setia Palupi tiba di Banda Aceh di hari kedua sesudah tsunami

Dian Setia Palupi tiba di Banda Aceh dua hari sesudah bencana terjadi. Pemandangan yang pertama kali menyambutnya adalah kematian.

"Bangunan hancur, bau anyir, mayat di mana-mana, sampai ada yang udah busuk" kata Dian.

Ia tinggal di Banda Aceh selama 10 hari. Satu kenangan yang paling membekas baginya adalah pemakaman massal para korban.

"Sekali saya ngikutin truk yang bawa jenazah untuk pemakaman massal. Dimakamkannya bukan satu-satu, tapi karena saking banyaknya mayat-mayat itu dikubur apa adanya... Saat itu saya merasa bersyukurlah kita yang jika meninggal nanti bisa diurus dengan layak," tambahnya.

Ia berharap jika kelak dapat kembali ke Aceh, daerah-daerah yang dulu hancur sudah dibangun kembali dan para korban selamat yang kehilangan rumahnya bisa mendapat tempat tinggal layak.

'Putus asa'

tiara
Keterangan gambar, Caecilia Tiara meliput di Aceh selama satu bulan

Sementara bagi wartawan RCTI Caecilia Tiara kenangan yang paling memilukan untuknya saat warga yang kehilangan sanak keluarga meminta bantuan untuk mencarinya.

"Wartawan disana dianggap sebagai dewa penolong mereka jadi banyak orang yang datang ke kita bawa foto dan data-data dan minta kita untuk mencari keluarganya yang hilang, mereka berharap banget dengan disiarkan foto-foto itu keluarganya bisa ketemu," kata Tiara.

Ia mengaku hal itu membuatnya sangat sedih dan masih teringat hingga kini.

<italic>"Ga</italic> mungkin kita bisa siarin semua karena durasi terbatas dan kita mengarahkan mereka agar ke Posko PMI misalnya agar lebih akurat tapi mereka sudah putus asa, jadi ya.. sedih <italic>banget</italic> kalau ingat itu," kata dia.

Bagi wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, peliputan tsunami Aceh meninggalkan trauma yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyembuhkannya.

"Trauma itu hilang setelah satu tahun kemudian meliput tragedi itu.. melihat rumput tumbuh lagi Masjid Baiturrahman, melihat anak-anak Aceh yang ceria lagi dan merasakan langsung semangat orang Aceh untuk lebih ke depan. Sebelumnya aku selalu menangis setiap melihat wajah anak-anak setelah kejadian itu," kata dia.