
Massa FPI dan FUI menuntut pembuat film warga AS dihukum mati.
Para pengunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta berangsur-angsur membubarkan diri menjelang senja.
Massa sempat beberapa kali bentrok dengan ratusan aparat Brimob dan Pasukan Huru-hara yang dikerahkan untuk menghalau demonstran mendekati gerbang Kedutaan AS.
Aksi anti film aamtir Innocence of Muslims - yang dibuat oleh seorang warga AS- sudah dua kali berlangsung di Jakarta dan juga di kota-kota lain seperti Makassar dan Medan.
Namun bentrokan cukup keras terjadi Senin (17/09) siang saat demonstran tiba-tiba mendesak ke arah pagar kedutaan sementara aparat belum siap memagari lokasi dengan rapat.
Polisi menembakkan gas air mata sementara demonstran melempari batu dengan ketapel.
Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jendral Untung S. Radjab, menegaskan bahwa aksi kekerasan dimulai oleh para pendemo.
"Kan mereka yang mulai," kata Untung kepada wartawan usai bentrokan.
Benturan dua kubu akhirnya menlukai 11 polisi dan sebagian harus dirawat di rumah sakit.
"Dari 11 yang luka-luka, lima diantaranya sekarang dirawat di RSPAD. Sisanya tadi dirawat di lokasi dengan ambulans yang sudah disediakan. Dari pihak demonstran ada satu," kata Komisaris Besar Rikwanto yang bertuga memimpin operasi keamanan di tempat kejadian.
Demo lanjutan
"Dari 11 yang luka-luka, lima diantaranya sekarang dirawat di RSPAD. Sisanya tadi dirawat di lokasi dengan ambulans yang sudah disediakan."
Kombes Rikwanto
Polisi juga menangkap empat orang yang diduga merupakan peserta demo dan dituding melakukan tindak anarkis.
"Belum ada sangkaan, masih diperiksa. Kita tangkap karena anarkis," tambah Rikwanto.
Kapolda Metro Jaya kemudian memimpin langsung jalannya negosiasi dengan demonstran, dari Front Pembela Islam dan Forum Umat Islam, setelah beberapa kali bentrok.
Kedua kelompok pengunjuk rasa akhirnya bersedia membubarkan diri menjelang petang.
Namun diperkirakan unjuk rasa susulan dengan tema serupa masih akan berlanjut pada hari-hari mendatang.
"Sementara besok tidak ada karena sampai sore ini belum terima permintaan izinnya," ungkap Rikwanto.
Aksi demonstrasi menentang film yang dianggap menghina Islam itu sudah berlangsung di Jakarta Jumat pekan lalu, diikuti ratusan massa dari Hizbut Tahrir Indonesia.






