
Dua orang demonstran ditangkap polisi karena diduga provokator
Polisi melakukan negosiasi dengan pimpinan aksi unjuk rasa yang memprotes film Innocence of Muslims di depan gedung Kedubes AS di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, yang sempat diwarnai kerusuhan.
Perwakilan pengunjukrasa menuntut berdialog langsung dengan pihak kedubes, tetapi tuntutan ini tidak dipenuhi oleh pihak kedutaan ataupun aparat kepolisian.
Sampai sekitar pukul 16.00 WIB, para pengunjukrasa masih terlihat berkerumun di luar kedubes AS yang dijada ekstra ketat oleh aparat kepolisian.
Aksi yang dilakukan sekitar 400 orang pengunjuk rasa dari Front Pembela Islam dan beberapa ormas Islam lainnya dimulai dengan berjalan kaki dari Bundaran Hotel Indonesia.
Para pengunjuk rasa berusaha memasuki gedung kedubes tetapi dihalangi oleh polisi. Massa melempari polisi dan gedung kedubes dengan batu serta membakar bendera AS.
Polisi membalas dengan menembakkan gas air mata. Seorang petugas kepolisian terluka di kepala dan dilarikan untuk mendapat perawatan
Dalam upaya meredam kerusuhan, Kapolres Jakarta Pusat AR Yoyol menemui sejumlah perwakilan aksi termasuk Munarman dari FPI.
Provokator
ekitar 700 polisi membentuk barikade di depan gedung kedubes.
Polisi menangkap dua orang pengunjuk rasa yang diduga menjadi provokator kerusuhan.
Sementara itu Senin pagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato di Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Cirebon, Jawa Barat, mengecam film tersebut.
"Saya dan pemerintah terus terang telah menyampaikan ketidaksenangan dan kecaman saya atas dibuat dan diedarkannya film seperti itu yang menurut saya merupakan bentuk pelecehan terhadap sebuah agama,
Meski pun demikian, Yudhoyono meminta aksi-aksi protes terkait isi dan peredaran film itu tidak berakhir pada aksi kekerasan.
"Segala sesuatu tidak boleh melanggar hukum, apalagi sampai menyerang diplomat yang tidak bersalah sampai meninggal dunia," katanya.






