Rangkaian unjuk rasa di beberapa negara terus berlangsung

Terbaru  17 September 2012 - 19:10 WIB
Unjuk rasa anti-AS di Peshawar, Pakistan.

Para mahasiswa juga turun ke jalan membakar bendera AS di Peshawar, Pakistan.

Seorang pengunjuk rasa di Pakistan tewas ditembak dalam rangkaian terbaru unjuk rasa menentang sebuah film amatir yang dianggap menghina Islam.

Sekitar 800 orang di kawasan Upper Dir, Pakistan barat laut, hari Senin 17 September membakar klub wartawan serta beberapa gedung pemerintah dan terlibat adu tembak dengan polisi.

Di ibukota Afghanistan, Kabul, sekitar 1.000 pengunjuk rasa membakar mobil dan melemparkan batu ke ke arah polisi.

Sementara di Indonesia sekitar 200 orang melempar bom molotov dan batu dalam aksi unjuk rasa di luar gedung Kedutaan Besdar Amerika Serikat, di Jakarta Pusat.

Wartawan BBC Indonesia Dewi Safitri yang berada di lokai unjuk rasa mengatakan 11 orang terluka dan empat di antaranya harus dibawa ke rumah sakit.

Situasi di Jakarta akhirnya bisa dikendalikan dan para pengunjuk rasa menjelang petang mulai membubarkan diri.

"Saat ini empat orang ditangkap polisi untuk ditanyai sehubungan dengan dugaan melakukan aksi anarkis dalam unjuk rasa," lapor Dewi Safitri.

Kawasan Taliban dan al-Qaeda

"Saat ini empat orang ditangkap polisi untuk ditanyai sehubungan dengan dugaan melakukan aksi anarkis dalam unjuk rasa."

Dewi Safitri

Rangkaian unjuk rasa mengungkapkan kemarahan atas film amatir berjudul Innocence of Muslims yang dibuat di Amerika Serikat berlangsung sejak pekan lalu di beberapa belahan dunia dan hingga hari ini, Senin 17 September, belum mereda.

Selain satu korban jiwa di Upper Dir, pihak kepolisian Pakistan mengatakan dua pengunjuk rasa lainnya terluka.

Unjuk rasa juga berlangsung di Peshawar -kota terbesar di Pakistan barat laut- yang melibatkan 3.000 mahasiswa serta pelajar yang turun ke jalan-jalan sambil membakar bendera AS dan meneriakkan slogan anti-AS.

Sentimen anti-Amerika Serikat meningkat di kawasan Pakistan barat laut karena daerah perbatasan dengan Afghanistan ini merupakan kawasan berlindung Taliban dan al-Qaida.

Di ibukota Afghanistan, kepolisian melepaskan tembakan ke udara untuk mencegah pengunjuk rasa memasuki kawasan kantor-kantor pemerintahan.

Sekitar 20 aparat kepolisian menderita luka-luka akibat lembaran batu dari para pengunjuk rasa.

Sementara di Libanon, pemimpin Hisbullah, Sheikh Hassan Nasrallah, menyerukan aksi unjuk rasa selama seminggu dilangsungkan tidak hanya atas Kedutaan Besar Amerika Serikat tapi juga untuk menekan pemerintah negara-negara Islam agar mengungkapakan kemarahan kepada AS.

Link terkait

Topik terkait

BBC © 2014BBC tidak bertanggungjawab atas isi dari situs internet pihak luar

Halaman ini akan lebih baik dilihat dengan dengan penjelajah terbaru yang memiliki fasilitas style sheets (CSS). Anda memang bisa melihat isi halaman dengan menggunakan penjelajah saat ini, namun tidak bisa untuk mendapatkan pengalaman visual secara menyeluruh. Mohon perbaraui penjelajah anda atau gunakan CSS, jika memungkinkan.

]]>