Hiu paus yang terdampar di Bantul akan diawetkan

Sumber gambar, AP
Bangkai hiu paus yang terdampar di Pantai Pandansimo Baru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, kemungkinan besar akan diawetkan untuk dijadikan wahana edukasi.
Program manager organisasi pemerhati binatang Animal Friends Jogja (AFJ), Dessy Angelina, mengatakan keputusan ke arah itu diambil setelah pertemuan dengan perwakilan warga termasuk camat, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bantul dan Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada.
"Pihak kecamatan sangat antusias menjadikan bangkai hiu sebagai sarana wisata edukasi dengan pendampingan dan bantuan dari BKSDA serta Fakultas Biologi UGM," kata Dessy pada BBC Indonesia.
Ia mengatakan saat tim AFJ tiba di lokasi, hiu paus itu masih hidup tetapi sudah lemas karena sempat ditarik warga agar mendekat ke pantai.
AFJ menyayangkan pihak berwenang yang dinilai tidak optimal mengamankan hiu tersebut.
"Meski sudah tidak bernyawa lagi, ada rencana dari Fak Biologi UGM untuk diteliti tetapi karena kurangnya kerja sama dari pihak berwenang, badan hiu sudah terinjak-injak dan dicongkel sehingga merugikan pengambilan data," kata dia.
'Terancam punah'
Awalnya ada warga yang ingin mengambil sirip dan tulang hiu tetapi niat itu berhasil dibatalkan oleh BKSDA yang menyatakan bahwa meski hiu paus bukan termasuk hewan dilindungi di Indonesia, hewan ini terancam punah.
"Bangkai hiu paus ini tidak untuk diperjualbelikan karena ini musibah," kata Dessy.
Opsi untuk menenggelamkan hiu seperti yang dilakukan terhadap bangkai paus sperma di Bekasi, ditolak warga dengan alasan arus laut lebih banyak mengarah ke pantai sehingga jika dipotong-potong dan dibawa ke laut, bangkai akan kembali terbawa ke pantai dan membusuk.
"Opsi untuk mengubur hiu tidak diterima karena warga tidak ingin urun tenaga dan mereka merasa tidak ada keuntungan yang mereka dapat," kata Dessy.
Pekan lalu seekor paus sperma ditemukan terdampar di Pantai Muara Gombong, Bekasi. Paus itu berhasil dikembalikan ke laut, tetapi ia tidak dapat bertahan hidup dan ditemukan mati beberapa jam kemudian.
Bangkai paus tersebut ditenggelamkan ke laut dalam dengan pemberat seberat lima ton.









