Pilkada DKI: PR berat menanti gubernur terpilih

Hari ini 6,9 juta warga DKI Jakarta mendapat kesempatan menentukan calon pemimpin mereka pilihan mereka yang diharapkan dapat membenahi kota ini dan menjadikannya tempat yang lebih layak ditinggali.
Bukan tugas mudah untuk memimpin ibukota karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi. Pengamat masalah perkotaan dari Universitas Trisakti Yayat Supriyatna mengatakan daya dukung dan daya tampung Jakarta sudah melampaui batas sehingga sulit mendapatkan keamanan dan kenyamanan.
"Angka urbanisasi sangat tinggi, orang datang ke Jakarta karena kota ini memberikan harapan tinggi untuk perubahan nasib dan ekonomi. Itulah daya tariknya," kata Yayat pada Pinta Karana dari BBC Indonesia.
"Tapi persoalannya sampai kapan Jakarta seperti ini? Kapan bisa menjadi liveable city yang nyaman ditempati?" sambung dia.
Yayat menyebut sejumlah masalah yang tidak kunjung tercapai penyelesaiannya.
"Akar masalah adalah pertumbuhan penduduk yang sulit dikendalikan. Banyak orang yang gagal di daerah menyerbu masuk ke dalam kota karena kesempatannya begitu besar," kata dia.
Urbanisasi ini terjadi karena konsep pembangunan berbasis otonomi daerah bisa dikatakan gagal.
"Sehingga orang mengharap Jakarta satu-satunya tempat untuk mendapat perubahan, bahkan ada satu kawasan yang sangat padat yaitu Tambora dengan kepadatan 20 ribu orang tinggal di setiap 1 km persegi," kata yayat.
Kekumuhan menjadi persoalan Jakarta ke depan karena pengendalian penduduk yang semakin sulit untuk dilakukan akibat ketiadaan badan yang bertanggung jawab terhadap hal ini di tingkat nasional.
"Jakarta menampung 27 juta penduduk yang tersebar di Jabodetabek, dari sisi konteks pertumbuhan kota ini sudah jadi megapolitan tapi dari sisi tata kelola kota tidak beda dari kota-kota lain karena kapasitas birokrasi, sistem kota, manajemen tidak mencerminkan konsep yang mengadopsi kepentingan kota itu.
Masalah sanitasi
Selain pertumbuhan penduduk, sanitasi juga menjadi masalah besar karena sebagian besar air tanah Jakarta sudah terkontaminasi.
"Salah satu bakteri yang umum ditemukan di air Jakarta adalah ecoli karena limbah yang bisa diolah hanya 2,5% saja sedangkan sisanya tidak bisa," kata Yayat.
Sanitasi juga sangat terkait dengan ketersediaan air bersih atau air permukaan di Jakarta.
"Air sungai di Jakarta untuk disiram ke tanaman saja tidak direkomendasikan, apalagi untuk manusia sehingga yang menjadi bahaya laten ke depan bagi Jakarta adalah kualitas hidup penduduknya."
Ia juga menyayangkan kurangnya pembinaan pemkot bagi masyarakat dalam hal bencana, termasuk kebakaran.
"Dalam musim kemarau di Jakarta bisa ada 800 kebakaran dalam setahun, artinya dalam sebulan bisa terjadi 3-4 kali kebakaran," papar Yayat.
"Itu sebuah fenomena bencana bagi sebuah kota karena kebakaran itu akan menghasilkan orang-orang miskin baru di Jakarta tapi tidak banyak dilakukan pembinaan masyarakat oleh pemkot bagaimana agar kebakaran tidak terjadi lagi," kata dia.

Pesan untuk gubernur terpilih
Yayat meminta kepada siapa pun pasangan gubernur dan wakil gubernur yang terpilih agar segera mengambil tindakan untuk memberikan warga Jakarta kualitas kehidupan yang lebih baik.
"Masyarakat mengeluhkan kemacetan, kita tahu macet bukan hanya dari internal Jakarta tapi juga dari eksternal. Gubernur harus mengubah kebijakan untuk mengatasi kemacetan dan hal itu harus dilakukan dengan melakukan redistribusi fungsi pembangunan Jakarta," kata dia.
Redistribusi fungsi berarti beban Jakarta diurai ke daerah sekitarnya atau kegiatan-kegiatan disebarkan ke pusat-pusat pertumbuhan baru di luar Jakarta sehingga beban ibukota berkurang dan distribusi penduduk merata serta infrastruktur bisa disebar ke wilayah-wilayah lain.
"Tugas gubernur ke depan jangan menunda masalah seperti kemacetan, jangan berwacana lagi tapi berbuatlah, bertindaklah, berbuatlah, berani melakuan terobosan, koordinasi dengan pemerintah pusat dan pemda sekitarnya," kata dia.
Gubernur juga harus berani memberi contoh pada masyarakat bagaimana masyarakat dididik untuk menggunakan angkutan massal sebagai bentuk perubahan sosial karena banyak pejabat di Jakarta atau di Indonesia tidak berani memberi contoh ketauladanan dalam bentuk praktek-praktek yang langsung bisa memberi panutan bagi masyarakat.
"Siapa yang bisa menikmati kemacetan sebagai bagian kehidupan? Karena rata-rata yang terjadi di Jakarta orang berusaha beradaptasi dengan kesulitan dan persoalan sehari-hari tapi buat orang yang biasa teratur, masuk Jakarta seperti perangkap," tambah Yayat dan mengutip tulisan di sebuah majalah asing tentang Jakarta.
"Majalah itu bilang jika anda ingin belajar kesabaran, datanglah ke Jakarta dan akan anda nikmati bagaimana kesabaran itu sebagai proses untuk mencintai kota ini."









