Mantan anggota gang motor prihatin aksi kekerasan

Sumber gambar, AFP
Seorang mantan anggota gang motor menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor di Jakarta pekan lalu.
Dalam satu peristiwa, sekitar 100 orang dari kelompok itu mendatangi toko 7-Eleven di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat dan beberapa diantaranya dilaporkan membawa pedang.
Bahkan mereka dengan berani menyerang kantor Polsek Tanjung Priok.
Korban aksi kekerasan kelompok itu bukan saja kerusakan fisik atau pembakaran sepeda motor namun juga jatuh korban jiwa -antara lain seorang di Kawasan Sunter dan seorang lagi di Jakarta Pusat- sementara sejumlah orang lain menderita cedera karena dipukuli.
Kekerasan itu mengingatkan masyarakat akan aksi serupa yang dilakukan oleh sebuah geng motor bernama XTC di wilayah Jawa Barat beberapa tahun silam.
Seorang mantan anggota XTC mengatakan bahwa 15 tahun silam kelompok bermotor dibentuk sekedar untuk menyalurkan hobi.
"Kalau dulu lebih ke komunitas dan setiap calon anggota XTC diuji dengan turun dari Puncak ke Ciawi dengan motor RX King tanpa rem belakang dalam tempo 15 menit. Tidak ada inisiasi atau perploncoan," kata Waskito Pramono kepada BBC Indonesia.
Menurut Waskito, saat itu geng motor mengembangkan atraksi-atraksi bermotor.
"XTC itu lebih pada belajar free-style, senior-senior mengajarkan berbagai aksi dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kriminal atau kekerasan," kata dia.
Waskito bergabung dengan XTC pada 1997 tetapi karena kesibukan kerja ia memilih keluar dari kelompok tersebut.
"Sesudah dari XTC saya bergabung dengan komunitas bernama Tiger Brotherhood dan itu cenderung ke acara-acara sosial seperti baksos, touring, camping," kata Waskito.
Meski demikian ia masih sempat berkomunikasi dengan rekan-rekannya di XTC.
"Anggota-anggota yang tua-tua akhirnya pensiun dan membubarkan diri tapi karena nama itu bukan brand yang dipatenkan ya mungkin ada anak-anak muda yang terinspirasi dan membentuk gang baru dengan nama XTC juga," kata dia.
Polisi kini sudah bekerjasama dengan aparat TNI untuk mencegah terjadinya aksi kekerasan yang berlangsung secara terbuka. Diduga penyebabnya adalah aksi pengeroyokan yang terjadi pada tanggal 31 Maret, yang menyebabkan seorang aparat TNI tewas.









