Buku 'Hotel Kerobokan' singkap praktek uang di penjara

Sumber gambar, AFP
Seorang wartawati Australia, Kathryn Bonella menulis buku berjudul "Hotel Kerobokan" yang bercerita tentang pengalaman dan pengamatannya di dalam penjara Kerobokan, Bali.
"Penjara itu kelebihan kapasitas hingga 300%. Anda bisa merasakannya begitu anda melangkah ke ruang kunjungan tempat dimana orang-orang berdesakan dan udara terasa panas," kata Bonella kepada kantor berita AFP.
Penjara Kerobokan dibangun pada 1979 dan saat itu penghuninya hanya 300 orang, atau hanya sepertiga dari total penghuni saat ini.
Pekan lalu, kerusuhan melanda penjara ini setelah sekelompok narapidana memprotes "ketidakadilan perlakuan terhadap sejumlah narapidana."
Akibatnya, ratusan penghuni ditransfer ke penjara lain disusul dengan pergantian kepala penjara.
Tiga tahun
Bonella menyusun bukunya setelah melakukan penelitian selama tiga tahun yang hasilnya terangkum dalam ratusan wawancara dengan para sipir serta para narapidana atau mantan narapidana.
"Para narapidana dapat memesan layanan kamar seperti di hotel antara lain makan malam yang diantar langsung ke sel, bir, bepergian keluar penjara di siang hari. Mereka yang memiliki uang tunai dapat menjalani hidup yang lebih baik [di Kerobokan]," kata Bonella.
Seorang mantan narapidana yang sedang menjalani empat tahun masa hukuman karena kasus narkotika mengatakan "layanan kamar" tidak hanya terbatas pada makanan saja.
"Ada narapidana yang memesan pekerja seks komersial melalui pegawai penjara," kata narapidana tersebut.
Enam puluh narapidana asing dievakuasi dengan alasan keamanan, namun 13 diantaranya meminta kepada petugas agar segera dikembalikan ke Kerobokan karena tidak mau harus kembali beradaptasi jika pindah ke penjara lain.
"Kerobokan adalah penjara dimana pembunuh berantai, psikopat dan penjahat narkotika bercampur tanpa jarak, dan hanya ada 17 sipir untuk mengontrol lebih dari 1.000 orang penghuni," kata Bonella.
Belum ada tanggapan dari Kementerian Hukum dan HAM mengenai isi buku ini. Beberapa pejabat yang dihubungi BBC Indonesia tidak mengangkat telepon genggamnya.









