Sebagian warga Syiah bertahan di pengungsian

Sehari hari sesudah Pemerintah Kabupaten Sampang berusaha memulangkan lebih dari 200 warga Syiah yang sudah dua minggu mengungsi di Gelanggang Olahraga (GOR) Sampang, masih banyak warga yang memilih bertahan karena tidak ada jaminan keamanan dari polisi.
Mereka adalah anggota komunitas Syiah di dusun Nangkernang, kecamatan Omben, yang mengungsi sejak akhir Desember karena massa dari kelompok Sunni membakar pesantren dan sejumlah rumah di dusun itu.
Penasehat hukum warga Syiah tersebut, Hertasning Ichlas, menegaskan kepada BBC Indonesia bahwa sebagian warga belum bersedia kembali ke rumah asalnya.
"Kemarin ada negosiasi dengan pemerintah kabupaten, polisi dan tentara agar warga mau pulang ke dusun terkait dengan beban biaya makan dan fasilitas. Menurut mereka, siaga pengungsi hanya berlangsung selama tujuh hari saja," kata Hertasning.
"Namun masalahnya, dalam negosiasi tidak ada titik temu tentang keamanan. Pemerintah tidak bisa menjanjikan keamanan sehingga membuat pemulangan menjadi alot prosesnya."
Menurut Hertasning, warga sebenarnya sudah rindu rumah dan akan pulang tanpa paksaan jika ada jaminan keamanan.
"Ancaman terhadap keselamatan mereka sudah jelas di depan mata, kita tidak ingin terjadi peristiwa seperti penyerangan terhadap komunitas Ahmadiyah di Cikeusik. Saat itu polisi beralasan kesulitan tenaga keamanan," kata Hertasning.
Hingga saat ini baru sekitar 30 orang warga yang meninggalkan pengungsian berhubung mendapat laporan bahwa rumah dan ternak mereka dijarah.
BBC Indonesia mencoba menghubungi Kepolisian Daerah Jawa Timur namun belum berhasil.









