Warga Syiah Sampang dipaksa meninggalkan pengungsian

Warga Syiah di Sampang, Madura yang sudah lebih dari dua minggu mengungsi ke Gelanggang Olahraga Sampang, Kamis (12/01) dipaksa meninggalkan lokasi pengungsian.
Atas prakarsa pemerintah Kota Sampang dan instansi terkait, mereka diminta kembali pulang ke tempat tinggal mereka semula yaitu di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben.
"Kami dipaksa keluar dari gedung olahraga untuk kembali ke dusun kami, tapi kami berempat yaitu saya, Ustad Tajul (Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang), adik saya dan adik ustad tidak boleh pulang oleh bapak Halim Toha (pejabat kantor Departemen Agama Sampang)," kata Iklil al Milal, salah-seorang perwakilan pengungsi, kepada wartawan BBC Indonesia Pinta Karana, melalui telepon, Kamis (12/01) sore.
Belum ada keterangan dari Pemda Kabupaten Sampang dan kepolisian setempat atas informasi pemulangan sekitar 300 orang warga Syiah ini.
BBC Indonesia menghubungi telepon seluler dua pejabat kepolisian setempat, namun tidak dijawab.
Namun menurut Iklil, dia dan tiga orang lainnya belum diperbolehkan pulang karena "alasan keamanan".
Mereka tinggal di GOR Sampang sejak pesantren mereka di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dibakar sekelompok orang yang mengaku warga Sunni, akhir Desember 2011 lalu.
Jaminan keamanan
Walaupun aparat kepolisian dan aparat pemda setempat menjamin keamanan pengungsi saat pulang, menurut Iklil, sebagian pengungsi masih meragukan jaminan itu.
Sejumlah laporan menyebutkan, sebagian rumah warga Syiah di dusun Nangkernang dirusak dan ternaknya dijarah setelah serangan itu.
Pemda Kabupaten Sampang sebelumnya menjanjikan untuk mengganti kerugian yang dialami warga Syiah setempat.
Lembaga Human Rights Watch melalui pegiatnya Andreas Harsono menyayangkan pemulangan pengungsi warga Syiah yang terkesan dipaksakan itu.
"Polisi belum menangkap pelaku, rumah korban juga hangus terbakar, sekarang ratusan orang Syiah diusir keluar dari pengungsian," kata Andreas Harsono kepada BBC Indonesia.









