Mendag: Toefl tinggi supaya diplomasi dagang tak mengecewakan

Gita Wirjawan

Sumber gambar, 1

Keterangan gambar, Kemampuan bahasa Inggris pejabat Indonesia lemah dibanding negara tetangga.

Meski banyak dikritik Kementrian Perdagangan tetap akan meneruskan rencana mencetak 1.000 PNS berskor TOEFL 600 karena dianggap penting untuk mendongkrak keuntungan ekonomi dalam diplomasi dagang maupun investasi Indonesia.

Mendag Gita Wirjawan mengatakan kemampuan bahasa Inggris merupakan bagian dasar dari upaya memenangkan kompetisi ekonomi dunia, dimana di Asia banyak negara sudah lebih dulu punya kemampuan tinggi untuk itu.

"Ini sangat berkorelasi dengan kinerja (Kementrian) secara keseluruhan, apalagi untuk Kementrian Perdagangan yang harus bisa eksis dalam komunitas global,"kata Gita dalam wawancara dengan wartawan BBC Indonesia, Dewi Safitri.

Untuk menunjang target itu Kementrian Perdagangan mengalokasikan anggaran Rp6 miliar dalam bentuk dana pelatihan kemampuan berbahasa Inggris bagi karyawannya.

Dari sekitar 3.000 pegawai di kementrian tersebut, baru 150 diantaranya diketahui memiliki skor TOEFL setinggi 500, 12 lainnya diatas 600.

Akibatnya target menyulap 1.000 PNS dengan skor setara dengan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa pascasarjana tingkat doktoral itu banyak disambut kritik sebagai 'ambisius' dan hampir mustahil terpenuhi.

Namun Gita berpendapat lain.

"Kenapa tidak (600)? Apa memang harus 300? Empiris atau tidak, ternyata bisa (sudah terbukti) di BKPM,"sergah Gita, mencontohkan situasi sama yang pernah terjadi di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dipimpinnya beberapa tahun lalu.

Dari 580 karyawan BKPM saat itu, menurut Gita kini sudah 258 karyawan lolos dengan skor TOEFL 600.

Kritik dan tentangan terhadap strategi ini, menurut Gita yang lulusan Universitas Harvard di AS, justru menunjukkan sikap meremehkan kemampuan para PNS.

"Mereka sangat berasumsi bahwa PNS itu tidak mampu, dan itu menyinggung perasaan saya,"tambah pria lulusan Harvard ini.

'Second class'

Bukan saja untuk kalangan PNS, kemampuan berbahasa Inggris rata-rata di Indonesia memang terbilang rendah dibanding negara lain yang bukan pengguna Inggris sebagai bahasa utama sehari-hari.

Dalam survey kemampuan berbahasa Inggris di 44 negara, lembaga pengajar bahasa English First tahun 2011 menyebut Indonesia berada pada peringkat 34 dari 44 negara dunia. Negara tetangga dekat Malaysia, jauh berada di peringkat 9, sementara kemampuan bahasa Inggris warga Korea Selatan, Guatemala dan Kosta Rika masih lebih bagus dari Indonesia.

Menurut Guru Besar Kebijakan Publik dan pakar birokrasi UGM, Prof. Agus Dwiyanto, ini bukan temuan mengejutkan.

"Dibanding birokrasi negara-negara tetangga kita, memang mereka lebih globalized,"kata Agus.

Padahal kemampuan berbahasa yang rendah, bukan cuma bahasa Inggris, menurut Agus menjadi indikasi penting kemampuan pegawai bersangkutan dalam bidang lainnya.

"Karena bahasa adalah jendela untuk menyerap pengetahuan dan informasi dan kemudian mengkomunikasikannya pada pihak lain."

Kesulitan berbahasa akibatnya akan membuat PNS 'rendah diri' dan mental semacam ini menurut Agus sangat umum ditemui dalam birokrasi Indonesia.

Kelemahan-kelemahan ini menurut Agus merupakan akumulasi dari beberapa alsan termasuk kualitas calon PNS yang rendah dan bentuk tes saringan masuk PNS yang tidak banyak mengukur kemampuan calon.

"PNS kita kan rata-rata second class graduate, yang kelas satu pilih kerja di tempat lain,"kata Agus sambil tertawa.

Kementrian Perdagangan mengumumkan akan mulai ujian saringan resmi penetapan tes TOEFL bagi pegawainya pekan depan pada 10-11 Januari.Para pegawai dijanjikan pelatihan rutin tiap hari sampai mereka lulus dengan skor yang ditetapkan.