Airbus 380 alami 'gangguan' mesin

Gangguan mesin dianggap sebagai penyebab utama kembalinya pesawat Qantas yang sedang terbang dari Singapura menuju Sydney, Australia.
Sejumlah pakar penerbangan membenarkan bahwa salah satu mesin pesawat berbadan lebar A380 milik Qantas itu bermasalah.
Konsultan manajemen perbangan Heru Gunawan menjelaskan kepada BBC, "Ada bagian yang jatuh kelihatan bagian dari mesin. Karena ada ledakan namun yang meledak bukan badan pesawat bukan pula kokpit. Kemungkinan dari sesuatu yang ada pembakaran, berarti mesin."
Sementara pakar penerbangan Tom Ballantyne dikutip kantor berita AP mengatakan, masalah yang terjadi dengan A380 ini merupakan insiden paling serius sejak beroperasi.
Menurut dia, matinya mesin bida menyebabkan pesawat jatuh. Namun A380 dirancang untuk terbang hanya dengan dua mesin dan pilot tampaknya terlatih menangani kerusakan mesin.
Sementara Presiden Direktur Qantas Alan juga Joyce mengatakan pesawat mengalami gangguan mesin dan untuk sementara semua jenis pesawat A380 tidak diterbangkan.
Di dalam mesin
Konsultan manajemen penerbangan Heru Gunawan menambahkan ada kemungkinan kerusakan itu terjadi di dalamnya mesin pesawat A380 itu.
"Pada saat take off memang waktu paling berisiko. Biasanya waktu take off menggunakan full power. Kalau logika saya, ledakan itu terjadi berarti karena ada sesuatu yang tersumbat," katanya.
Faktor eksternal sebagai penyebab kerusakan mesin itu juga mungkin saja terjadi, kata Heru Gunawan, misalnya ada benda masuk ke dalam mesin saat take off.
Gangguan terhadap pesawat jenis ini bukan pertama kalinya, September 2009 Singapore Airlines A80 dipaksa kembali ke Paris kembali setelah kerusakan mesin. Tanggal 31 Maret, Qantas A380 dengan 244 penumpang mengalami pecah dua bannya ketika mendarat di Sydney setelah terbang dari Singapura.
Airbus telah menyerahkan 37 pesawat A380 sejauh ini. Tiga belas dioperasikan Emirates, 11 oleh Singapore Airlines, enam oleh Qantas, empat oleh Air France dan tiga oleh Lufthansa.









