KPI nilai media provokatif

- Penulis, Ervan Hardoko
- Peranan, BBC Indonesia
Sejak insiden penangkapan tiga petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia oleh polisi air Malaysia pertengahan Agustus lalu, berita seputar menegangnya hubungan kedua negara terus menghiasi media massa terutama televisi.
Namun pemberitaan itu dinilai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) provokatif.
''Dan cenderung asal membuat kontroversi,'' tambah Ezki kepada BBC Indonesia.
''Misalnya dari segi narasumber. Sudah jelas PDI-P itu lawannya pemerintah, diadulah mereka dengan partai pemerintah. Padahal persoalannya bukan di situ. Persoalannya harusnya penyelesaian ketegangan Indonesia-Malaysia.''
Bagaimanapun KPI menganggap belum ada pelanggaran etika pemberitaan.
Namun dalam pertemuan berkala mereka dengan para pimpinan media, KPI akan membicarakan persoalan ini.
Liputan berimbang
Pendapat KPI ini dibantah media yang getol memberitakan ketegangan hubungan Indonesia-Malaysia.
Kepada BBC Indonesia pemimpin redaksi Metro TV Elman Saragih membantah jika dikatakan berita-berita mereka tidak berimbang.
''Menlunya saja kami kasih tempat untuk menjelaskan posisi Malaysia. Bahkan perdana menterinya hingga pengamat dari Malaysia. Kami fair-fair saja.''
''Tapi sebagai pemimpin redaksi saya memang wajib membela bangsa Indonesia, kedaulatan bangsa, membela harkat, dan martabat bangsa,'' tegas Elman.
Sementara TV One yang tak kalah getolnya dibanding Metro TV juga menolak penilaian KPI.
TV One menurut pemimpin redaksinya, Karni Ilyas, menegaskan pihaknya tidak pernah berupaya melakukan provokasi apapun melalui berita-berita yang disiarkan.
Meskipun Karni mengakui bahwa dalam salah-satu acara bincang-bincang sempat dibahas perbandingan kekuatan militer Indonesia dan Malaysia.
''Tetapi di koran sekelas Tempo atau pun Kompas perbandingan itu ada,'' kata Karni.
''Maksud saya kalau ada dua negara bertikai dan menuju konflik, perbandingan itu wajar,'' tutur Karni.









