BSNP: kebocoran ujian nasional sedikit

Badan Standar Nasional Pendidikan, BSNP, badan independen yang mengurus Ujian Nasional mengakui kebocoran masih terjadi namun mengklaim lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.
"Secara umum dugaan manipulasi kebocoran sangat sedikit, karena BSNP bersama pemerintah dan pemerintah daerah melakukan pengamanan secara ketat mulai dari percetakan... dengan melibatkan kepolisian," kata Profesor Mungin Edi Wibowo, anggota BSNP.
Kementrian Pendidikan Nasional menyediakan delapan nomor telepon, saluran faksimili serta email yang aktif 24 jam untuk menampung berbagai keluhan UN.
Humas Diknas, Setiono mengatakan posko menerima lebih dari 1.000 keluhan melalui posko, mencakup keluhan kebocoran dan manipulasi atau penjualan soal.
Mungin Edi Wibowo mencontohkan kasus manipulasi soal di Medan yang sudah diselidiki dan diserahkan ke polisi karena menyangkut tindak pidana.
Peningkatan keamanan
Mungin Edi Wibowo mengatakan untuk pelaksanaan Ujian Nasional di masa depan, BNSP akan melakukan evaluasi di sejumlah bidang termasuk masalah percetakan yang menurutnya masih tidak sesuai standar operasional dan pendistribusian.
Dia juga mengatakan sistem pengamanan akan ditingkatkan.
Wakil Mentri Fasli Djalal sebelumnya mengatakan kebocoran soal ujian masih terjadi antara lain akibat ambisi pemerintah daerah yang menetapkan target lulus 100%.
Fasli mengatakan untuk menekan kemungkinan kecurangan kementrian Diknas bisa meniru sistem yang dipakai dalam saringan Masuk Perguruan tinggi Negeri yang menggunakan sistem pengawalan maksimum sejak percetakan hingga kelas.
Tahun ini dorongan untuk melakukan kecurangan bisa jadi sedikit kendur karena pemerintah memberikan sejumlah kompromi penyelenggaraan UN.
Standar nilai kelulusan yang biasanya terus naik, tahun ini tidak berubah dari nilai 5,5 untuk tiap mata pelajaran.
Siswa yang beroleh nilai 4 pun masih bisa lulus, asal nilai rata-ratanya mencapai 5,5.









