Dephut usulkan adopsi harimau

Anak harimau Sumatra
Keterangan gambar, Gambar seekor anak harimau Sumatra di hutan yang terekam kamera video

Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan gagasan untuk mengijinkan individu memelihara harimau Sumatra guna melindungi kelangsungan hidupnya.

Bila rencana itu disetujui, orang yang sanggup membayar Rp 1 miliar akan diijinkan memelihara sepasang harimau Sumatra yang semakin langka.

Para pakar memperkirakan saat ini hanya ada sekitar 200 ekor harimau Sumatra di alam bebas, jumlah yang menurun tajam dari sekitar 1.000 ekor di tahun 1970-an.

Kalangan pegiat konservasi mengatakan strategi yang lebih baik untuk melindungi harimau Sumatra adalah menyelamatkan habitat asli mereka dari kehancuran.

Tetapi kepada BBC Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, Darori, mengatakan gagasan ini dimaksudkan untuk mengurangi perburuan harimau dan menanggapi banyaknya permintaan anggota masyarakat untuk memelihara harimau.

Dia menambahkan, permintaan akan diakomodasi dengan syarat yang tidak mudah.

"Syaratnya memang berat, pertama orang-orang ini harus mendepositkan dana minimal sebesar Rp 1 miliar untuk sepasang harimau. Maksudnya bila nanti ada kecelakaan, dana akan digunakan sebagai biaya konservasi," kata Darori.

Meminjam harimau

Darori membantah strategi itu sama dengan menjual atau menjadikan harimau Sumatra hak milik perorangan.

"Itu seperti meminjam. Orang yang meminjam harimau diwajibkan membayar pinjaman setiap tahun yang biaya pajaknya nanti akan kami bicarakan," tambah Darori.

Harimau-harimau yang diadopsi masyarakat akan diperiksa setiap tiga bulan sekali oleh sekelompok ahli yaitu dokter hewan, pegiat LSM harimau, dan petugas Departemen Kehutanan.

Menurut Darori, cara yang terbuka dan bisa diawasi ini lebih baik daripada yang terjadi sekarang, yaitu banyak orang yang tertangkap memelihara harimau secara sembunyi-sembuyi dengan kondisi kandang yang tidak layak.

Tetapi rencana ini ditentang oleh kalangan pegiat konservasi harimau.

Pakar harimau dari Institut Pertanian Bogor, Ligaya Tumbelaka, mengatakan langkah tersebut justru bisa mendorong penangkapan harimau.

"Banyak orang yang suka memelihara harimau karena status. Yang ditakutkan, kalau orang-orang itu boleh mendapatkan harimau, pertanyaannya dari mana harimau itu akan diambil? Kalau mengambilnya kembali dari alam, itu malah akan menyebabkan kepunahan," tukas Ligaya.

Pelajaran dari burung jalak

Hutan yang menjadi habitat harimau banyak rusak akibat penebangan liar. Jumlah harimau semakin menurun akibat perburuan gelap untuk memasok bagian-bagian tubuh harimau, obat-obatan Cina, dan perhiasan.

Para pejabat di bidang konservasi alam mengatakan mereka menarik pelajaran dari kasus burung jalak Bali yang pernah hampir punah, kata wartawan BBC di Jakarta, Karsihma Vaswani.

Tetapi kemudian burung jalak Bali ditawarkan kepada masyarakat untuk dipelihara. Burung-burung itu kemudian berkembang biak dengan lebih cepat dan sekarang tidak terancam punah lagi.

Harimau Sumatra masuk dalam daftar binatang langka berstatus kritis, kategori yang paling terancam punah.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan, Darori, mengatakan saat ini sudah banyak pengusaha besar yang menyatakan ingin memelihara dan merawat harimau Sumatra.