Pluto sebenarnya planet atau bukan?

Pluto as shown by the New Horizons probe in 2015

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Fernando Duarte
    • Peranan, BBC World Service

Pada 2006, Pluto diklasifikasi ulang sebagai planet kerdil oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU). Di Hari Internasional Pluto yang jatuh pada 18 Februari, kami melihat kembali mengapa keputusan ini menuai kontroversi dan mengapa beberapa pihak menyambut baik publisitas yang dibawanya.

Sama seperti banyak rekannya di Observatorium Lowell, Kevin Schindler bergidik ketika Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengumumkan pada Agustus 2006 bahwa, singkatnya, Pluto bukan lagi sebuah planet.

Keputusan itu sangat kontroversial di lembaga penelitian yang berbasis di Flagstaff, sebuah kota di negara bagian Arizona, AS.

Pasalnya, di tempat itu juga astronom Amerika Clyde W. Tombaugh pertama kali menemukan Pluto pada 18 Februari 1930 – tanggal yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pluto Internasional.

"Hampir setiap penemuan besar yang berkaitan dengan Pluto memiliki hubungan dengan Flagstaff," kata Schindler, sejarawan Observatorium Lowell, kepada BBC.

"Bahasa halusnya, kami agak khawatir karena kami menganggap keputusan IAU itu cukup buruk."

Langkah yang tidak terduga

Namun, tampaknya "tetangga jauh Bumi yang beku” itu mendapatkan manfaat dari perdebatan yang terjadi.

Dalam 17 tahun terakhir, Observatorium Lowell telah mengalami peningkatan animo sehingga harus membangun pusat pengunjung baru, yang akan siap pada 2024.

Clyde W. Tombaugh in 1928

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Astronom Clyde W. Tombaugh menemukan Pluto pada 18 Februari 1930.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

"Sampai 2006, kami memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 60.000 pengunjung per tahun. Pada 2019, tepat sebelum pandemi Covid-19 melanda, kami mencatat hampir 100.000 orang datang dan berpartisipasi dalam acara festival kami, seperti 'I Love Pluto'," Schindler kenang.

"Kami bergurau bahwa kontroversi ini sangat bagus untuk bisnis sehingga kami semua berharap hal itu terjadi lebih awal," tambahnya.

"Keputusan IAU tampaknya membuat lebih banyak orang tertarik pada astronomi..."

Namun, klasifikasi ulang Pluto sebagai planet kerdil, yang secara efektif mendegradasikannya dari "liga utama" planet Tata Surya, masih membuat marah beberapa orang, bukan hanya orang-orang yang bekerja di Observatorium Lowell.

Alan Stern dikenal sebagai pengkritik keputusan IAU itu, yang mengeluarkan Pluto dari daftar planet Tata Surya dengan melakukan pemungutan suara dari 424 delegasi yang hadir pada pertemuan serikat pekerja pada Agustus 2006 di Praha.

Dia adalah ilmuwan NASA yang memimpin tim ekspedisi New Horizons yang mencapai Pluto pada 2015.

Delegates of the IAU vote in the "Pluto session" in August 2006

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Secara kontroversial Pluto "dikeluarkan" sebagai planet Tata Surya pada 2006 oleh pemungutan suara anggota International Astronomical Union (IAU).

"Pemungutan suara bukanlah cara kerja sains. Kami tidak melakukan pemungutan suara untuk teori relativitas atau fisika kuantum," kata Stern kepada BBC.

"IAU bisa saja memilih bahwa langit berwarna hijau. Itu tidak secara otomatis menjadikannya benar."

Lalu, sebenarnya apa yang bisa disebut sebagai planet?

Di tengah kontroversi Pluto ada pertanyaan yang tampaknya tidak ada salahnya untuk dilontarkan: apa itu planet?

Kata planet berasal dari orang Yunani Kuno. Mereka memperhatikan bahwa Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus, planet-planet yang terlihat dengan mata telanjang, bergerak jauh lebih nyata di langit daripada bintang-bintang.

Fakta itu membuat benda-benda langit itu disebut planet (pengembara).

Namun, apa yang didefinisikan oleh istilah itu adalah cerita lain.

Meskipun Pluto dengan cepat ditambahkan ke daftar planet Tata Surya setelah penemuannya pada 1930, beberapa dekade berikutnya para astronom masih berspekulasi bahwa pendatang baru itu bisa saja menjadi contoh pertama yang terdeteksi dari sejumlah benda es kecil di luar orbit Neptunus, yang dikenal sebagai Sabuk Kuiper.

Spekulasi meningkat pada 1992, ketika para astronom mendeteksi 1992 QBI, Kuiper Belt Object (KBO) pertama, dengan diameter 160 kilometer (jauh lebih kecil dari Pluto, yang lebarnya 2.376 kilometer).

Tahun 2000-an dimulai dengan tiga penemuan besar KBO yang ukurannya kira-kira sebanding dengan Pluto.

Image of dwarf planet Eris and its satellite Dysnomia captured in 2005 by the Hubble telescope

Sumber gambar, ESA/Nasa/M. Brown

Keterangan gambar, Penemuan Objek Sabuk Kuiper lainnya seperti Eris menggerus posisi Pluto di "liga besar".

Salah satunya, Eris yang terlihat pada 2005. Diperkirakan ukurannya lebih besar dari Pluto.

Masih di tahun yang sama, pada Juli, NASA mengumumkan bahwa "ilmuwan telah menemukan planet kesepuluh di Tata Surya".

Temuan ini mendorong IAU untuk membentuk sebuah komite yang bertugas menentukan apa yang dimaksud dengan planet, dengan tujuan mengajukan draf proposal akhir kepada para anggota.

Ironisnya, salah satu rencana awal tidak hanya mempertahankan Pluto sebagai planet, tetapi juga "mempromosikan" Charon, bulan terbesarnya, serta Eris dan Ceres - benda angkasa antara Mars dan Jupiter yang secara singkat ditetapkan sebagai planet setelah ditemukan pada 1801.

Namun, pada akhirnya delegasi IAU memilih definisi dengan kriteria berikut: sebuah planet harus mengorbit bintang, ukurannya harus memiliki gravitasi yang cukup untuk menjadikannya berbentuk bundar, dan harus cukup besar sehingga gravitasinya bisa menghilangkan benda apa pun dengan ukuran yang sama di dekat orbitnya.

Aturan terakhir itu menyegel nasib Pluto, karena ia berbagi lingkungan orbitnya dengan objek es KBO lainnya.

Pluto kemudian dipindahkan ke kategori baru sebagai "planet kerdil".

Tetapi tidak semua orang yakin. Para ahli seperti Stern mempertanyakan aturan "pembersihan lingkungan orbit", dengan alasan bahwa Bumi gagal memenuhi definisi yang ditentukan pada 2006 itu karena memiliki lebih dari 12.000 asteroid di sekitarnya.

Kontroversi lain muncul, menyoroti jumlah pemilih yang rendah pada pemungutan suara.

Pada waktu itu, hanya kurang dari 20% dari 2.700 delegasi yang menghadiri konferensi 10 hari di Praha itu yang benar-benar memberikan suara. Sebab, penyelenggara mengadakan pemungutan suara pada hari terakhir acara.

Alan Stern during the New Horizons Pluto fly-by press conference in 2015

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Alan Stern, kepala ilmuwan dalam misi New Horizons NASA ke Pluto, adalah pengkritik vokal reklasifikasi Pluto.

"IAU seperti membuat diri mereka sendiri sebagai lelucon karena saya terus melihat dan mendengar orang-orang dan para kolega menyebut Pluto sebagai sebuah planet," kata Stern dengan penuh keyakinan.

Ilmuwan NASA itu menambahkan bahwa peneliti planet seperti dia mengabaikan aturan IAU dan mengadopsi definisi geofisika dari sebuah planet – yaitu memiliki gravitasi yang cukup untuk menjadikannya berbentuk bundar dan memiliki massa yang cukup untuk menjalani fusi nuklir di bagian dalamnya.

Di bawah aturan itu, Pluto dan semua planet-planet "kerdil" lainnya memenuhi syarat sebagai planet.

Bagaimanapun, Stren merasa mendapatkan pembenaran dari temuan misi New Horizons.

Diluncurkan pada Januari 2006, penjelajah luar angkasa tak berawak itu mencapai Pluto sembilan tahun kemudian dan membuat banyak penemuan tentang planet kerdil yang memaksa para ilmuwan untuk merevisi modelnya.

Salah satu penemuannya adalah: Pluto mungkin memiliki "lautan air yang luas dan cair yang mengalir di bawah permukaan".

"Kami menunjukkan bagaimana Pluto adalah dunia yang jauh lebih kompleks daripada yang kami duga dan itu membuat saya semakin yakin bahwa definisi planet yang sekarang tidak dapat diterapkan."

Icy dunes on Pluto's surface

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pluto adalah dunia yang jauh lebih kompleks dari yang kita duga sebelumnya - di sini kita melihat bukit es di permukaan.

“Kami tetap mencintai Pluto”

Kepala IAU, ahli astrofisika AS Debra Elmegreen, mengatakan kepada BBC melalui email bahwa dia tidak kaget dengan perdebatan yang terjadi secara berkepanjangan.

"Pluto ditemukan dalam masa hidup anak tertua kita, jadi sudah tertanam dalam pengetahuan kita," tulis Prof Elmegreen, yang menjabat sejak 2018.

"Selain itu, planet adalah hal pertama yang dipelajari kebanyakan anak-anak tentang luar angkasa."

Picture of Lowell Observatory's tip boxes which prompt visitors to voice their opinion on Pluto's status

Sumber gambar, Lowell Observatory/Kevin Schindler

Keterangan gambar, Observatorium Lowell memungkinkan pengunjung untuk menyampaikan pendapatnya tentang status Pluto.

Namun, dia tidak yakin reklasifikasi IAU terhadap Pluto akan diubah dalam waktu dekat dan secara diplomatis mengisyaratkan bahwa mungkin sudah waktunya untuk beranjak.

"Kami tetap mencintai Pluto, tetapi klasifikasi merupakan dasar bagi semua sains karena kami mengenali kesamaan dan perbedaan antar objek. Itulah cara kami memahami fisika, kimia, atau geologi yang mendasarinya," kata Profesor Elmegreen.

"Pluto akan tetap menjadi prototipe dari klasifikasi baru ini (planet kerdil), tetapi itu tidak mengubah signifikansinya dalam memahami evolusi sistem planet."

Kepala IAU itu mengakui bahwa debat benar-benar membantu orang-orang tetap fokus terhadap astronomi.

Jadi, mungkin mereka tidak terlalu memikirkan akun parodi Clyde W. Tombaugh di Twitter, atau pemungutan suara yang dibuat oleh Kevin Schindler di Flagstaff.

Dalam beberapa tahun terakhir, pengunjung yang ingin memberikan sumbangan ke Observatorium Lowell diminta untuk memasukkan uang tunai mereka ke dalam kotak berlabel status Pluto menurut mereka - planet, planet kerdil, lainnya atau 'Saya tidak peduli' .

"Saya senang karena para pengunjung kami memilih [status pluto] dengan uang mereka," kata sejarawan itu sambil tersenyum.