Cerita remaja Inggris yang hilang enam tahun dan ditemukan di pegunungan terpencil Prancis

Sumber gambar, GREATER MANCHESTER POLICE
Remaja asal Inggris Alex Batty, 17 tahun, dinyatakan hilang pada 2017 setelah liburan dengan ibu dan kakeknya di Spanyol. Dia ditemukan di Pyrenees, pegunungan terpencil di barat daya Prancis pada awal Desember 2023.
Ibu dan kakeknya, Melanie dan David Batty, meninggalkan Inggris bersama Alex untuk liburan selama sepekan di Spanyol pada 30 September 2017.
Dia terakhir terlihat di Pelabuhan Malaga pada 8 Oktober tahun itu, hari dimana mereka diperkirakan akan kembali ke Inggris. Mereka tak pernah kembali ke kampung halaman.
Tahun-tahun setelahnya adalah sebuah kehidupan nomaden di sejumlah negara, seperti Spanyol, Maroko, serta sebuah komunitas spiritual di Pyrenees, pegunungan terpencil di barat daya Prancis.
Namun, pada Senin, 11 Desember silam, sekitar tengah malam, Alex meninggalkan ibunya ketika sedang terlelap.
Dia telah mengisi ranselnya dengan empat T-shirt, tiga celana, kaus kaki, celana, skateboard, senter, sejumlah uang dan sebuah pisau.
Tujuan Alex adalah mencapai kota terdekat, Toulouse, sekitar 110 km ke utara.
Di tengah perjalanan, Alex ditemukan oleh sopir pengiriman paket yang melihatnya di jalan di kaki bukit Pyrenees, dekat Toulouse pada suatu dini hari.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Fabien Accadini, mahasiswa yang bekerja sampingan sebagai pengantar paket menemukan Batty saat melewati kaki pegunungan Pyrenees di barat daya Prancis.
Fabien Accadini mengendarai motornya menembus gelapnya tengah malam Rabu silam, dia sedang mengantarkan obat-obatan ke sebuah farmasi dekat Desa Chalabre.
Hujan turun sekitar pukul 03:00 waktu setempat dan Fabien Accadini melewati seorang pejalan kaki.
Mahasiswa Toulouse itu belum menyadari si pejalan kaki adalah remaja berusia 17 tahun yang meninggalkan kehidupan ibunya di komune spiritual nomaden demi mencari neneknya di Inggris.
Begitu Melanie Batty, ibu Alex Batty, memutuskan untuk pindah ke Finlandia, Alex tahu sudah saatnya dia berpisah dengan ibunya dan juga kakeknya, David Batty.
Kaki lembah Pyrenees dikenal menarik bagi orang-orang yang tengah mencari gaya hidup alternatif.
Alex Batty rupanya sudah berjalan kaki selama empat hari dan empat malam, tidur pada siang hari dan melanjutkan perjalanan malam hari supaya tidak ada yang melihatnya.
Dia cuma punya €100 (Rp1,69 juta) di kantongnya, tanpa telepon genggam dan berusaha mencapai Toulouse.
Baca juga:
Apa pun yang bisa dia temukan di berbagai ladang dan kebun akan dimakannya.
Fabien Accadini melihat remaja pria berambut pirang, lumayan tinggi, mengenakan sweter putih dan jins hitam dan menggunakan senter di kegelapan malam.
Tangan satunya memegang papan luncur dengan ransel di punggung.
Fabien Accadini, yang sedang studi kiropraktik, menjadi penasaran dan memutar kendaraannya.

Sumber gambar, GREATER MANCHESTER POLICE
Dia menawarkan tumpangan kepada sang remaja pria, yang mengaku bernama Zach dan, menurut Fabien Accadini, agak pemalu.
“Kami berusaha berbincang-bincang dalam Bahasa Prancis tetapi saya perhatikan Bahasa Prancisnya tidak bagus dan saya memutuskan untuk mengajaknya bicara dalam Bahasa Inggris,” Fabien Accadini mengatakan kepada La Dépêche du Midi.
“Kita mengobrol lebih dari tiga jam. Dia sangat cepat mengungkap identitas sebenarnya, Alex Batty, dan kemudian menceritakan kisahnya. Dia menggambarkan bagaimana ibunya menculiknya waktu dia berumur 12 tahun.”
Melanie Batty dan kakek Alex, David Batty, meninggalkan Manchester Raya untuk berlibur selama satu minggu di Marbella pada 30 September 2017.

Sumber gambar, GREATER MANCHESTER POLICE
Alex Batty dikabarkan terakhir kali terlihat di Pelabuhan Malaga, Spanyol, pada 8 Oktober 2017, di hari di mana Melanie, David, dan Alex dijadwalkan pulang ke Inggris.
Tim jaksa penuntut Prancis telah merangkum apa saja yang terjadi terhadap Alex Batty selama enam tahun petualangannya setelah berbicara dengannya.
Dari selatan Spanyol, ketiga anggota keluarga pergi ke Maroko dan menghabiskan dua hingga tiga minggu di sana untuk bergaya hidup nomaden, berpindah-pindah dalam celah waktu masing-masing beberapa minggu.
Mereka sudah merasakan gaya hidup alternatif sewaktu berkunjung ke Maroko pada 2014, menurut nenek Alex Batty, Susan Caruana.
Alex Batty bercerita kepada Fabien Accadini, si pengantar paket, bahwa dirinya, Melanie, dan David pergi ke utara menuju Prancis setelah tinggal bersama komune 10 orang di sebuah rumah mewah di Spanyol.
Pada titik itu sudah tahun 2020 atau 2021, dan Alex Batty dan ibunya bergabung ke “komune spiritual yang agak aneh… jauh dari gaya hidup normal” di lembah-lembah Pyrenees.
Apa yang terjadi selama dua tahun setelahnya adalah sebuah kehidupan nomaden yang ganjil, bercampur dengan banyak keluarga dari Kanada, Spanyol, dan India.
“Rupanya ada fobia terhadap elemen-elemen kehidupan tertentu yang artinya keluarga ini berkelana dengan sebuah komunitas berisikan 10 orang,” ujar wakil jaksa penuntut Toulouse, Antoine Leroy.

Mereka bertahan hidup dengan bekerja serabutan dan berkebun, pindah dari satu tempat ke tempat lain hanya dengan sayur mayur dari kebun sendiri dan panel-panel surya milik Melanie Batty yang berharga.
“Selama bertahun-tahun anak muda ini menjalani hidup dengan memboyong panel-panel surya ke mana-mana, hanya bepergian dengan berbagi mobil,” ujar jaksa penuntut, “selalu di tempat-tempat dengan rumah besar dan beberapa keluarga lainnya datang dan pergi.”
Alex Batty tidak menyebut-nyebut kakeknya kepada Fabien Accadini, dan jaksa penuntut Prancis meyakini dirinya telah meninggal dunia enam bulan silam.
Alex Batty juga tidak tahu di mana tepatnya dia sebelumnya tinggal, hanya tahu di sekitar pegunungan Prancis yang berbatasan dengan Spanyol, di wilayah Ariège, Aude, atau Pyrenees Timur.
Fabien Accadini menyadari siapa penumpang di belakangnya setelah menelusuri namanya di internet.
Alex Batty mengaku kehausan. Dia punya uang tapi tidak punya telepon, dan dia pun meminjam telepon genggam Fabien Accadini untuk menghubungi neneknya, yang juga walinya, melalui Facebook.
Kata-kata pertamanya ke neneknya selama enam tahun sangatlah pendek: “Halo nenek ini aku Alex, aku di Toulous Prancis, aku benar-benar berharap nenek mendapat pesan ini, aku sayang nenek, aku mau pulang ke rumah.”

Sumber gambar, France Télévisions
Fabien Accadini mengatakan kepada stasiun TV Prancis bahwa sang remaja itu merasa lega dirinya berhasil kabur: “Dia tidak mau menghabiskan seluruh hidupnya di komunitas itu. Dia ingin punya kehidupan nyata dengan masa depan yang sesungguhnya.”
Begitu Melanie Batty mengumumkan niatnya untuk pindah ke Finlandia, Alex memutuskan gaya hidup nomaden bukanlah untuk dirinya, ujar jaksa penuntut.
Jaksa penuntut menyadari Alex Batty tidak merasakan pendidikan formal dan minim pengalaman teknologi, kendati dia terlihat kalem dan cerdas dan gampang diajak berkomunikasi.
Dia tidak pernah menggunakan istilah sekte, hanya komunitas spiritual, dan Fabien Accadini berujar tidak ada kesan Alex Batty dikekang dalam cara apa pun dan dia bebas untuk pergi.
Niatan awal Alex Batty rupanya adalah untuk mencari kedutaan di kota besar Prancis, alih-alih Fabien Accadini mengontak gendarmeri, kepolisian militer Prancis.
Fabien Accadini mengendarai motornya ke Revel, tepat di luar Carcassonne, dan meninggalkan Alex Batty bersama aparat setempat yang mengecek identitasnya dan mengantarnya ke Toulouse sebelum dia kembali ke Inggris pada akhir pekan.
'Perasaan campur aduk'
Keberadaan Melanie Batty, ibu Alex yang tidak memiliki kewalian atas anaknya, hingga kini tidak diketahui.
Dalam pernyataan resminya, Kepolisian Manchester mengatakan sanak saudara Alex Batty di Oldham “merasakan luapan kelegaan” dan “perasaan campur aduk.”
BBC memperoleh kabar bahwa kondisi kesehatan Susan Caruana, nenek kandung Alex yang juga wali hukumnya, terlalu rapuh untuk bepergian ke Toulouse.
Melalui Kepolisian Manchester Besar, Susan Caruana pada Jumat sore waktu setempat menyatakan: “Saya tidak bisa menggambarkan rasa lega dan kebahagiaan saya bahwa Alex telah ditemukan dalam kondisi sehat walafiat.”
“Saya berbicara dengannya semalam dan sungguh senang mendengar suaranya dan melihat wajahnya. Saya tidak sabar untuk melihatnya langsung begitu kami dipertemukan kembali.”
Susan Caruana menghimbau agar privasi keluarganya dihargai, dengan menambahkan: “Yang utama adalah dia aman, setelah pengalaman hidup yang bisa membuat siapa pun kewalahan, apalagi untuk anak-anak.”
Pada 2018, Susan Caruana mengatakan kepada BBC bahwa dia meyakini Melanie Batty dan David Batty membawa Alex Batty untuk tinggal bersama komunitas spiritual di Maroko.
Susan Caruana menambahkan kala itu Melanie Batty dan David Batty tengah mencari gaya hidup alternatif dan mereka tidak mau Alex Batty pergi ke sekolah.
BBC memperoleh kabar bahwa tim jaksa penuntut di Toulouse telah secara resmi menyerahkan kasus ini ke kepolisian Inggris.














