Natal pertama di panti jompo, tanpa keluarga dan tanpa kemeriahan

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Tri Wahyuni/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Suasana Panti Wredha Kasih Ayah Bunda saat perayaan Natal.

Hari Natal tahun ini adalah perayaan Natal pertama bagi Sally dan Sutopo, sejak keduanya memutuskan memeluk agama Katholik. Namun, keduanya tidak bisa merasakan kemeriahan Natal seperti orang-orang pada umumnya karena kini mereka hanya menghabiskan waktu di panti jompo.

Suara kicauan burung dan rintik gerimis menyambut kedatangan kami di Panti Wredha Kasih Ayah Bunda di Karawaci, Tangerang, Banten. 

Tidak ada kemeriahan perayaan Natal di sana. Hanya ada beberapa pernak-pernik, yang terpasang di pintu-pintu dan satu pohon Natal berhiaskan lampu, di samping patung Bunda Maria yang terletak di ruang tengah.

Satu-satunya suara keramaian terdengar dari arah dapur dan ruang makan, yang ada di bagian belakang bangunan. Rupanya, para penghuni panti sedang menikmati makan siang mereka. 

"Hari ini belum ada (keluarga) yang berkunjung dan tidak ada yang membuat janji," kata penanggung jawab panti Siti Rahayu kepada BBC News Indonesia. 

Itu berarti 11 penghuni panti yang beragama Kristen dan Katolik- dari total 16 penghuni- merayakan Natal tanpa anggota keluarga mereka. 

Keterangan video, Perayaan Natal tanpa kemewahan di panti jompo

Baca juga:

Natal pertama, tanpa keluarga

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Dwiki Marta/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Oma Sally mengaku tidak pernah kesepian meski tinggal jauh dari keluarga.

Sudah enam tahun Silvianty Sutedja, atau yang akrab disapa Oma Sally, tinggal di Panti Wredha Kasih Ayah Bunda. Namun, baru pada tanggal 23 September lalu, dia menjalani sakramen baptis dan resmi menganut agama Katolik. Sebelumnya, Oma Sally beragama Buddha.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Natal tahun ini adalah Natal pertama buat Oma Sally. Meski hanya bisa ‘merayakan’ di panti dan tanpa keluarga, dia mengaku tetap senang dan “tidak kesepian”.

“Kemarin ini juga dibawain baju Natal, suruh dipakai,” kata Oma Sally ketika ditanya tentang keluarganya.

Lagi pula, semua penghuni panti sudah dianggap Oma Sally seperti keluarganya sendiri karena saat ini hanya merekalah “orang-orang terdekat” dan bisa dimintai bantuan atau sekadar menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

Sebenarnya perayaan Natal bukan hal yang asing bagi Oma Sally karena mayoritas penghuni panti merayakan Natal setiap tahun dan ia juga ikut merayakan. Namun, sebagai penganut baru agama Katolik, dia mengatakan perayaan kali ini sungguh berbeda.

“Dulu kalau ada lagu-lagu Natal saya kurang ini [memahami] artinya. Kalau sekarang lagu itu benar-benar berkesan di hati saya.

Ini adalah Natal pertama saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas berkat yang diberikan kepada saya. Karena di dalam diri saya, sepertinya ada Tuhan yang mendampingi,” ujar Oma Sally.

Perempuan berusia 75 tahun yang duduk di kursi roda sejak 2021 itu mengatakan “Natal tidak perlu meriah” asalkan ada “kepedulian terhadap sesama”.

“Kita bisa berkumpul, bernyanyi bersama, makan enak bersama,” kata dia.

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Dwiki Marta/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Opa Sutopo merayakan Natal pertamanya dengan sederhana dan tanpa perayaan meriah.

Tak berbeda jauh dengan Oma Sally, Opa Sutopo juga baru merayakan Natal pertamanya di panti jompo. Dia baru dibaptis pada 29 November lalu.

Tak ada rasa sedih yang menghinggapi hati Opa Sutopo, meski Natal pertamanya harus dia lewatkan tanpa perayaan yang meriah seperti orang-orang kebanyakan. 

“Kita tak perlu terlalu mewah-mewah. Kalau kita merasa damai di hati, [itu] sudah cukup,” kata Opa Sutopo saat berbincang dengan BBC News Indonesia di halaman panti.

Dia pun tidak berharap ada perayaan-perayaan meriah karena dia tahu kondisi di panti tidak memungkinkan untuk melakukan itu, apalagi sejak pandemi Covid-19 muncul.

Lansia termasuk kaum rentan yang harus dilindungi ketika pandemi Covid menyerang dan peraturan kunjungan ke panti semakin diperketat sejak saat itu.

Di perayaan Natal peratama Opa Sutopo ini, dia berharap situasi segera membaik sehingga bisa merayakan Natal dengan lebih meriah.

“Mungkin [perayaan Natal] nanti lebih meriah, nanti kan sudah bebas, orang bisa datang, kita juga bisa keluar, mau ke gereja juga bisa. Kalau sekarang kan belum bisa karena ada prokes,” ujar laki-laki berusia 69 tahun itu.

Penanggung jawab Panti Wredha Kasih Ayah Bunda Siti Rahayu mengatakan meskipun kondisi pembatasan terkait pandemi Covid di luar sudah mulai longgar, tapi pantinya tetap menerapkan protokol kesehatannya demi melindungi penghuni panti yang termasuk golongan rentan.

“Biasanya kalau ada acara oma-opa di sini [di teras], tamunya di situ [di halaman]. Jadi, tetap ada jarak. Kalau interaksi langsung, tak semua, hanya satu dua,” kata Siti Rahayu, yang akrab disapa Yayu, sambil menunjukkan area yang dimaksud.

Sebelum pandemi, para tamu bebas berbaur dengan para penghuni panti, tanpa harus menjaga jarak.

Tidak menikah dan tidak ada yang mengurus

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Tri Wahyuni/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Oma Sally senang tinggal di panti karena pola makannya jadi teratur.

Bertahun-tahun hidup di panti tidak membuat Oma Sally merasa kesepian. Selama masih merasakan kehadiran Tuhan, dia mengatakan tidak akan kesepian.

Justru di panti ini juga dia mendapatkan banyak teman. Kalau tidak tinggal di panti, justru dia akan sendirian karena Oma Sally tidak menikah dan adiknya, yang tinggal bersamanya, sibuk mengurus keluarganya sendiri.

“Di sana [di rumah] saya enggak ada yang ngurusin. Semua kerja, sibuk, pergi pagi, pulang malam, jadi di rumah sendiri,” kata dia.

Keputusan keluarga yang membawanya ke panti jompo juga tidak menyinggungnya sedikit pun. Dia justru malah bersyukur karena keluarganya masih mau membiayai dia.

“Kasihan sama kakaknya, katanya. Di sini kan teratur makan, sehari tiga kali. Kalau di rumah saya kadang-kadang tak mau makan nasi, suka nyolong-nyolong beli gorengan,” ujar Oma Sally yang pernah divonis kekurangan gizi oleh dokter karena terlalu banyak mengonsumsi gorengan dan tidak mau makan nasi serta sayur-sayuran.

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Tri Wahyuni/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Oma Sally menganggap semua penghuni panti sebagai keluarganya.

Menjalani masa tua di panti jompo diakui Oma Sally sudah direncanakan sejak lama, apalagi setelah dia tahu tidak ada kesempatan lagi buat menikah dan memiliki anak.

Keputusan Oma Sally untuk tidak menikah bukan tanpa alasan. Dulu dia lebih memilih bekerja keras “sampai tua” di pabrik, secara serabutan, untuk membiayai adik-adiknya yang berjumlah sepuluh orang. Dia bahkan menolak ajakan laki-laki yang ingin mempersuntingnya, demi membantu orang tuanya.

“Saya tak menyesal karena saya sudah berbakti pada orang tua dan adik-adik. Kalau tak adik-adik bisa telantar,” kata Oma Sally dengan tegas.

Kalau Oma Sally memutuskan tidak menikah karena ingin membantu keluarga, Opa Sutopo memilih tidak menikah karena dia tidak ingin membebani siapapun. 

“Daripada ikut saudara saya, mendingan tinggal di sini, saya lebih enak, lebih aman, lebih nyaman. Kalau di tempat saudara kalau apa-apa kan repot,” ujar Sutopo.

Sebelum tinggal di panti dia tinggal bersama keluarga sepupunya di Jakarta.

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Dwiki Marta/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Hidup di panti jompo tidak selalu berarti hidup dalam kesepian.

Status lajang yang disandangnya hingga kini membuat dia memutuskan untuk tinggal di panti jompo. Sebelumnya, dia tidak bahkan tidak pernah membayangkan akan menghabiskan masa tuanya di sini.

“Waktu saya masih ABG, dokter pernah bilang saya sakit jantung. Makanya saya tidak berani [punya pasangan] karenadibilangbegitu kan jadi berpikir, nanti menyusahkan,” kata Sutopo.

Kala itu Opa Sutopo mengalami keluhan sesak napas ketika berjalan. Namun, lama kelamaan dia sudah tidak pernah merasakannya lagi, bahkan sampai saat ini.

Koran dan televisi jadi pengusir bosan

Natal di panti jompo

Sumber gambar, Tri Wahyuni/BBC Indonesia

Keterangan gambar, Penghuni panti menyaksikan misa Natal secara online.

Panti Wredha Kasih Ayah Bunda tidak punya kegiatan khusus bagi para penghuninya. Hanya kegiatan senam pagi dan bernyanyi bersama yang biasanya dijadwalkan. 

Sisanya, setiap penghuni bebas melakukan kegiatan apa saja, asalkan masih dilakukan di panti.

Oma Sally mengatakan kegiatan yang paling sering dia lakukan di kala senggang adalah membaca koran. Berita apa saja yang ada di koran dia baca untuk mengurangi rasa bosan.

Selain itu, Oma Sally juga mengaku senang menonton televisi, terutama berita. Yayu mengatakan berita favorit Oma Sally adalah kasus Ferdy Sambo.

“Saya dengarkan, baca di koran juga ada sebagian,” kata Oma Sally tampak bersemangat.

“Kemarin ini dia mau mengadakan natalan, pas bapaknya Yosua, Samuel, ditanya, ‘Natal ini apa yang hilang?’

Dia bilang kehilangan anaknya, Yosua sudah enggak ada. Kan tahun kemarin dia masih ikut Natalan di rumahnya,” Oma Sally menceritakannya dengan lancar.

Memiliki kegemaran yang sama, membaca dan menonton berita, Oma Sally dan Opa Sutopo kerap membahas isu-isu terkini untuk mengusir kebosanan. 

“Saya sering mengajak ngobrol Sutopo. Di koran, kalau ada yang saya enggak ngerti, saya tanya dia. 

"Kayak kemarin ini, yang katanya tak boleh diekspor lagi, bauksit ya? Saya tanya bauksit itu apa? Dia jelasin,” kata Oma Sally yang mengaku selalu membaca koran setelah Opa Sutopo selesai membaca koran.