Penjaga hutan Kolombia: Belajar mendengar alam dari suku Kogi yang hidup terisolasi selama lebih dari 500 tahun

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Ellie Howard
- Peranan, BBC Travel
Selama lebih dari 500 tahun, masyarakat adat Kogi di Kolombia telah menjalani hidup dalam isolasi. Namun kini, sebuah inisiatif pariwisata mengungkap cara hidup mereka yang unik.
Desa Minca yang terletak di utara Kolombia seolah memiliki bebunyian khasnya sendiri, yang tidak bisa diciptakan oleh manusia.
Ketika saya berjalan di sisi barat desa, suara-suara yang mengiringi fajar terdengar kian nyaring: jangkrik yang merdu, cuitan burung tanager, hingga anjing melolong dari kejauhan.
Pemandu saya, Otoniel Gil Garavito, mengisyaratkan agar saya berhenti sejenak di bawah ranting-ranting pohon caracoli yang bersenandung.
Sambil menunjukkan bulu-bulu ekor merah yang berkelebat di antara dedaunannya, Garavito memberikan teropongnya kepada saya, lalu bersiul.
Seekor burung cinnamon becard berhenti sejenak untuk mendengarkan siulannya.

Sumber gambar, Benedict Kraus/Alamy
Burung mungil itu biasa ditemukan di Amerika Latin, meski tidak termasuk dalam 24 spesies endemik yang ingin saya temui saat mengunjungi Taman Nasional Alam Sierra Nevada de Santa Marta.
Pegunungan di wilayah pesisir kuno ini adalah rumah bagi burung endemik kontinental yang terpenting di dunia, yang menggambarkan kekayaan ekologisnya.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Cagar Biosfer Dunia Unesco ini menjadi rumah bagi 635 spesies burung endemik, termasuk helmetcrest yang terancam punah dan Santa Marta Sabrewing. Keberlangsungan hidup spesies-spesies ini bergantung pada kesehatan ekosistem di wilayah ini.
Gravito tahu bahwa meskipun ketiadaan spesies-spesies ini mengkhawatirkan, dia melihat ironi dalam hasrat saya untuk melihat spesies yang paling langka.
"Setiap burung, bahkan burung yang biasa, adalah istimewa bagi kultur masyarakat adat," kata dia.
Nuwá berarti burung dalam bahasa asli Garavito, bahasa Kogui. Bagi masyarakat adat Kogi, burung dianggap sebagai guru spiritual yang memiliki wawasan mendalam.
Sebagai keturunan langsung dari peradaban Tairona pra-Kolumbus, suku Kogi telah mendiami dataran tinggi pegunungan Sierra selama lebih dari 500 tahun, namun Nuwá BirdLife menjadi badan usaha pertama yang menawarkan tur melihat burung bagi para pelancong. Badan usaha tersebut dimiliki dan dijalankan oleh suku Kogi sendiri.
Nuwá BirdLife menawarkan beragam tur, mulai dari pendakian setengah hari di sekitar Minca hingga tur seharian penuh ke puncak gunung Cerro Kennedy.
Tur dari perusahaan ini menjembatani ilmu pengetahuan Barat dengan kearifan lokal sambil mendorong para pesertanya untuk berpikir bahwa lanskap lingkungannya dibentuk oleh manusia.

Sumber gambar, Cultura Creative RF/Alamy
Suku Kogi secara historis telah berupaya menolak kontak dengan dunia luar.
Ketika gelombang demi gelombang penjajah mengancam keberadaan mereka yang damai, mulai dari suku Karibia pada sekitar tahun 1000 Masehi hingga kolonial Spanyol yang membantun kota pelabuhan pada Santa Marta pada tahun 1525, suku Kogi mundur dari pesisir pantai ke wilayah yang lebih tinggi, di mana awan yang menyelimuti hutan mulai menipis, berbatu-batu, dan berudara dingin.
Mereka diam-diam membangun desa-desa mereka di pelosok pegunungan Sierra Nevada, dan tetap terisolasi selama berabad-abad.
Ketika konflik bersenjata Kolombia antara kelompok gerilyawan dan paramiliter sayap kanan meletus pada tahun 1960-an, suku Kogi menderita.
Hutan asli ditebangi demi produksi kokain.
Dalam beberapa dekade berikutnya, para pengelola lahan, konglomerat dan penebang kayu disokong negara. Suku Kogi yang terdesak memilih menggunakan teknik tebang dan bakar untuk pertanian.
Situasi ini kian menghancurkan tanah leluhur mereka. Saat ini, hanya 17% dari hutan asli Sierra Nevada yang tersisa.

Sumber gambar, Getty Images
Meski baru berusia 22 tahun, Garavito telah menyadari bagaimana hutan awan Minca berubah semasa hidupnya.
"Saya ingat ketika saya datang ke sini 14 tahun yang lalu, saya biasanya bisa mendengar [burung hantu] pada malam hari. Tapi sekarang sudah sulit," kata dia.
Setelah melewati sisi barat Minca, kami berhenti di satu-satunya gereja di desa ini, sebuah bangunan sederhana bercat putih dengan salib kayu kecil.
Kami mendengar deru konvoi mobil 4x4 yang dipenuhi para turis dari kejauhan, dan Garavito pun menghela napasnya.
"Itu adalah suara yang bising," kata dia, meratapi polusi udara yang terus meningkat akibat ulah manusia.
Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa reproduksi burung sangat rentan terhadap kebisingan.
"Biasanya burung bisa mengkomunikasikan bahaya kepada burung-burung lainnya," kata dia.
"Sekarang mereka menjadi kurang waspada terhadap pemangsa yang datang, seperti elang," sambung Garavito.

Sumber gambar, chrispictures/Alamy
Pariwisata yang terus berkembang juga telah berkontribusi mengubah lanskap topografi Sierra Nevada.
Hotel-hotel ala pedesaan, toko roti Swis, dan lahan pertanian biodinamis kini menghiasi jalan-jalan yang mengarah ke air terjun.
Posisi Minca yang berdekatan dengan Lost City Trek (pendakian lima hari menuju reruntuhan Kota Tairona kuno) dan Taman Nasional Tayrona telah menarik perhatian para pengembang properti.
Bahkan, Bandara Internasional Simon Bolivar yang berlokasi tak jauh dari sini diperkirakan akan mengangkut 7,3 juta penumpang dalam beberapa dekade mendatang, meningkat signifikan dari 2,4 juta penumpang pada 2019.
Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan, keseimbangan antara bisnis dan konservasi akan menjadi isu yang terus bergulir.
Saya tengah mengikuti Garavito dalam tur singkat di sekitar pinggiran Minca pada pagi hari, ketika dia berjalan di belakang sebuah hostel dan menyusuri jalan setapak yang dia sebut sebagai Jalur Toucan.
"Setiap spesies berkumpul di tempat khusus," jelasnya sambil meletakkan teropongnya di pohon guarumo.
"Tetapi jika Anda tidak tahu nyanyian mereka, Anda tidak akan pernah bisa melihatnya."
Saya pun menyadari bahwa saya biasanya hanya mengandalkan penglihatan untuk menjelajahi hutan.
Menurut Garavito, suku Kogi hidup sangat selaras dengan lingkungan mereka. Mereka memaknai Sierra Nevada sebagai Aluna atau "ibu pertiwi".
Mereka percaya bahwa pegunungan tersebut terhubung sebagai kekuatan kehidupan, secara ekologis dan spiritual, dan manusia harus mendengarkannya.
Dia juga menjelaskan bahwa masyarakat setempat memiliki "burung pembawa pesan" seperti elang, burung kutilang, dan beberapa spesies tenager yang merupakan memberi tanda-tanda dalam kehidupan sehari-hari.
"Burung kukuk tupai memberi tahu kita tentang bahaya," katanya.
"Berarti Anda mendapatkan pesan perlindungan."
Bagi para pakar burung dari Barat, suara burung membantu menjelaskan perilaku yang ditunjukkan oleh berbagai spesies.
Namun, Garavito menjelaskan bahwa Kogi tidak hanya akan memperhatikan panggilan peringatan burung dan mengawasi bahaya yang mengintai di semak-semak, tetapi juga menafsirkan panggilan tertentu sebagai indikasi gejolak pribadi dalam diri seseorang, atau ketika terjadi sebuah kebohongan.
Dia memiliki misi agar para pelancong memahami bahwa tindakan dan niat kita terikat dengan alam, dan komunikasi yang saling menguntungkan dapat terbangun melalui kepedulian terhadap lingkungan.

Sumber gambar, Getty Images
Saat kami berjalan di sepanjang jalan setapak yang berlumpur dan dipenuhi semak-semak, Garavito menunjuk ke arah hutan lebat yang mengelilingi kami.
"Kami tidak memiliki dewa," katanya. "Segala sesuatu yang hidup memiliki ayah dan ibu, pohon memiliki ayah dan ibu (Kaldakshé dan Kaldāwiā), sungai memiliki ayah dan ibu, seperti diri kita.. Ini bukan konservasi Barat, ini lebih kepada perlindungan spiritual."
Menurut Dr Luci Attala, anggota dewan Tairona Heritage Trust yang telah membuat dua film dokumenter mengenai suku Kogi, "Apa pun yang dilakukan oleh suku Kogi tampaknya bisa meregenerasi tanah dengan sangat cepat".
Attala menjelaskan bahwa melalui persembahan perlindungan spiritual, di mana para pemimpin Kogi mendengarkan secara mendalam dan berkomunikasi lewat tanda-tanda alam seperti suara gelembung halus di sungai, mereka telah menghidupkan kembali ekosistem Guachaca yang pernah hancur, hanya dalam kurun 20 tahun.
"Hal ini tidak mudah dijelaskan dengan metode konvensional," kata Attala.
"Suku Kogi terlihat hanya melakukan sedikit hal, namun mereka secara aktif terlibat dengan lingkungan tersebut dengan cara yang hanya mereka sendiri yang memahaminya."
Saat ini, Attala tengah mengerjakan proyek restorasi ekologi kolaboratif yang dipimpin oleh suku Kogi. Proyek itu diberi nama Múnekañ Masha (yang berarti "biarkan terlahir kembali"), di mana dua kelompok dengan metode yang sangat berbeda - para ahli lingkungan dari Barat dan para pemimpin masyarakat adat - berusaha mempelajari metode konservasi satu sama lain.
Secara tradisional, suku Kogi tidak mengenal waktu, hitungan, atau tulisan seperti yang dipahami oleh budaya lain.
"Ini bukan soal menerjemahkan ide pihak lain agar sesuai dengan paradigma ilmu pengetahuan yang tegas atau cara-cara konvensional dalam memahami konservasi," jelas Attala.
"Ini soal bagaimana menemukan cara agar memungkinkan dunia yang berbeda dapat hidup berdampingan."

Sumber gambar, Getty Images
Pada tahun lalu, Garavito mengajar anak-anak setempat yang bukan penduduk asli mengenai ornitologi sebagai bagian dari Fly High Bird Club, yakni program kepemudaan yang mengintegrasikan pengetahuan penduduk asli dan etno-ornitologi (studi dan hubungan antara manusia dan burung).
"Saya menjelaskan fungsi serangga dan tanaman dan meminta mereka untuk mempelajari siklus hidup pohon," katanya.
"Saya akan menunjukkan kepada mereka bagaimana buah dimakan oleh serangga, serangga dimakan oleh burung, dan bagaimana ini semua merupakan wujud komunikasi."
Dia menggarisbawahi bahwa ketika para petani lokal dan wisatawan memahami bahwa lingkungan di sini saling berhubungan dan lebih bernilai untuk ekowisata, maka skala kerusakan lingkungannya akan berkurang.
Garavito masih menyimpan harapan untuk masa depan yang baik. Semakin banyak wisatawan yang datang ke wilayah ini, berarti seruan masyarakat Kogi semakin berpeluang untuk didengar.
"Yang penting adalah komunikasi," kata Garavito.
"Yang penting Anda memahami saya."
--
Artikel versi Bahasa Inggris berjudul What can we learn from Colombia's remote Kogi people? dapat Anda baca di BBC Travel.









