Warga di Aceh Tengah masih gunakan jembatan darurat satu bulan pascabencana – Sekali menyebrang Rp30.000

Khairunnisa bersama bayinya berusia 1,5 tahun tak punya pilihan untuk berobat dan mencari kebutuhan hariannya menggunakan jembatan darurat. Ia menggunakan sling baja ini "tidak terhitung" tapi tetap khawatir dengan risiko terjatuh dan terhanyut di sungai deras.

Sumber gambar, Hidayatullah/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Khairunnisa bersama bayinya berusia 1,5 tahun tak punya pilihan untuk berobat dan mencari kebutuhan hariannya menggunakan jembatan darurat. Ia menggunakan sling baja ini "tidak terhitung" tapi tetap khawatir dengan risiko terjatuh dan terhanyut di sungai deras.
Waktu membaca: 7 menit

Sembilan desa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah masih terisolir, setelah tiga jembatan terputus karena banjir bandang dan tanah longsor akhir November lalu.

Warga di sembilan desa yang diperkirakan dihuni 700 keluarga ini sudah hampir satu bulan harus mengatur strategi bertahan hidup.

Sebagian dari mereka kini benar-benar bergantung dari jembatan darurat berupa seutas sling baja yang terbentang di atas sungai deras.

Jembatan darurat itu menjadi satu-satunya akses keluar-masuk yang dipakai penyintas mencari makan dan berobat ke Kota Takengon atau Kabupaten Bener Meriah.

Khairunnisa bersama bayinya berusia 1,5 tahun bersiap untuk meluncur dengan seutas sling baja untuk mencari kebutuhan hariannya dari desa yang terisolir.

Sumber gambar, Hidayatullah/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Khairunnisa bersama bayinya berusia 1,5 tahun bersiap untuk meluncur dengan seutas sling baja untuk mencari kebutuhan hariannya dari desa yang terisolir.

Khairunnisa bersama bayinya berusia 1,5 tahun sedang bersiap menyeberang di jembatan darurat ini. Bayinya terus merengek dalam pelukannya.

"Karena enggak ada jalan lain, terpaksa lewat sini [sling] kami menyebrang. Seperti kemarin itu [sedang] sakit," kata Khairunnisa kepada wartawan Hidayatullah yang melaporkan untuk BBC News Indonesia dari Aceh Tengah, Selasa (23/12).

Warga Desa Burlah ini terlihat sudah hapal bagaimana ikatan tali pengaman melilit hampir di sebagian tubuhnya. "Sudah tak terhitung lagi [menyeberang di sini]," katanya.

Meskipun sudah "tak terhitung lagi" menggunakan jembatan darurat ini, air muka perempuan 24 tahun ini tetap menunjukkan kecemasan mendalam.

Khairunnisa bersama bayinya sedang melintasi sungai deras di Aceh Tengah. Jembatan yang dibuat secara "swadaya" ini tidak gratis. Setiap menyeberang para penyintas harus merogoh kocek Rp30.000.

Sumber gambar, Hidayatullah/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Khairunnisa bersama bayinya sedang melintasi sungai deras di Aceh Tengah. Jembatan yang dibuat secara "swadaya" ini tidak gratis. Setiap menyeberang para penyintas harus merogoh kocek Rp30.000.

"Kekmana enggak takut. Ini kalau jatuh bisa lansung hanyut ke sana," katanya sambil memeluk bayinya lebih erat.

"Di sana [desa saya] tidak ada makanan dan listrik," tambah Khairunnisa.

Baca juga:

Tangan kiri memeluk erat bayi, dan tangan kanan mencengkram gantungan. Dua pria yang sedari tadi membantunya mengikat tali perlahan meluncurkan Khairunnisa.

Di seberang, dua pria lainnya menarik tali, agar tubuh Khairunnisa dan bayinya bisa benar-benar menapak di sisi sungai.

Foto dari angkasa kondisi jembatan yang rusak sebelumnya menghubungkan Desa Burlah dengan Desa Berawang Gajah.

Sumber gambar, Hidayatullah/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Foto dari udara kondisi jembatan yang rusak sebelumnya menghubungkan Desa Burlah dengan Desa Berawang Gajah.

Ia kemudian mengeluarkan uang Rp30.000 dan diberikan kepada orang-orang yang membantu. Biaya ini dikeluarkan untuk sekali menyeberang.

Warga Desa Burlah lainnya, Hamdika mengaku harus berjalan kaki puluhan kilometer melintasi antar kabupaten untuk membeli kebutuhan pokok. Ia harus melalui kondisi medan berlumpur, jembatan putus dan waktu berhari-hari.

Langkah ini terpaksa dilakukan karena ketersediaan bahan makanan di desanya sudah ludes.

Ilustrasi. Warga dari desa yang masih terisolir harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk membeli kebutuhan hariannya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Erlangga Bregas Prakoso/mrh/foc.

Keterangan gambar, Ilustrasi. Warga dari desa yang masih terisolir harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk membeli kebutuhan hariannya.

"Beras, minyak makan, gula, telur, ini yang saya beli ke Desa Kem. Di kampung [saya] sudah putus, tidak ada lagi pasokan makanan," kata pria 21 tahun. Desa Kem yang dimaksud Hamdika ini berada di Kabupaten Bener Meriah.

Beberapa orang dari Desa Burlah menggunakan jembatan darurat setidaknya seminggu sekali.

Foto udara kondisi jembatan yang menghubungkan dua desa telah hancur.

Sumber gambar, Hidayatullah/BBC News Indonesia

Keterangan gambar, Foto udara kondisi jembatan yang menghubungkan dua desa telah hancur.

Mereka keluar dari desa yang terisolir dengan bergelantung pada seutas tali bajar untuk membeli "makanan dan deterjen". Lalu kembali lagi ke desa yang gelap gulita pada malam hari karena listrik masih padam.

"Kalau [persediaan] makanan sudah habis, [kami bertahan dengan] makan pisang rebus," kata seorang penyintas.

Jembatan gantung swadaya yang berbayar

Zumara Winni Kutarga, Camat Ketol, mengatakan terdapat sembilan desa berstatus terisolasi di wilayahnya. Ini karena tiga jembatan yang menjadi jalur nadi mobilitas warga telah luluh lantak akibat diterjang banjir sejak akhir November lalu.

Tiga jembatan ini adalah Jembatan Ayun, Jembatan Bah, dan Jembatan Berawang Gajah.

"Kalau sekarang harus melalui sling darurat yang dibuat oleh masyarakat secara swadaya," kata Zumara yang mengetahui kalau penggunaan jembatan ini tidak gratis.

Sejumlah pengungsi bencana banjir berjalan di Desa Kuala Keureuto, Aceh Utara, Aceh, Senin (8/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nym

Keterangan gambar, Sejumlah pengungsi bencana banjir berjalan di Desa Kuala Keureuto, Aceh Utara, Aceh, Senin (8/12/2025).

Warga dari Desa Bah, Desa Burlah dan Desa Berghang masih sangat bergantung dari jembatan darurat ini.

Sementara itu, Desa Serempah yang juga terisolir, warganya sudah meminta direlokasi ketempat lain. Kata Zumara, pihaknya masih berupaya mencarikan tanah dan lokasi baru bagi sejumlah warga.

Warga meniti jalan pada pohon saat melintasi Desa Pepelah, Kecamatan Pinding, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Senin (22/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc

Keterangan gambar, Warga meniti jalan pada pohon saat melintasi Desa Pepelah, Kecamatan Pinding, Kabupaten Gayo lues, Aceh, Senin (22/12).

"Sebelumnya ada dua desa yang meminta direlokasi, Desa Bah dan Serempah, Bah sudah kita relokasi setelah gempa 2013. Nah, ini sekarang Serempah, karena mereka juga menjadi korban kali ini," jelas Zumara.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan korban jiwa akibat bahala banjir bandang dan longsor Aceh Tengah mencapai 24 orang, dan empat lainnya dinyatakan hilang.

Sejumlah warga korban bencana yang terisolir melintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) lewat jembatan tali darurat penghubung Desa Uyem Beriring dan Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, Gayo Lues, Aceh, Sabtu (20/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc

Keterangan gambar, Sejumlah warga korban bencana yang terisolir melintasi Daerah Aliran Sungai (DAS) lewat jembatan tali darurat penghubung Desa Uyem Beriring dan Desa Pasir, Kecamatan Tripe Jaya, Gayo Lues, Aceh, Sabtu (20/12).

Sebanyak 4.265 unit rumah mengalami kerusakan. Sebagian besar mengalami rusak berat. Badan ini juga melaporkan 61 jembatan rusak akibat akibat terpaan gelombang bah.

Selain berjuang bertahan hidup di tengah kondisi yang tak pasti, warga di Kecamatan Ketol berharap setidaknya jembatan-jembatan yang rusak bisa segera dibangun kembali.

"Agar mudah menyeberang desa. Karena sulit sekali jika keadaan seperti ini," kata Khairunnisa.

Jalan Takengon-Bireuen dan Takengon-Aceh Utara sudah bisa dilalui

Sementara itu, banjir dan longsor yang terjadi akhir November, telah memutuskan akses Takengon, Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah, hampir satu bulan.

Kondisi ini membuat kelangkaan bahan pangan seperti beras, BBM, gas elpiji tidak bisa diperoleh masyarakat

Namun, warga dua kabupaten itu bisa sedikit lega, karena akses jalan Takengon–Bireuen, resmi dibuka pascabencana, 25 Desember 2025.

Tiga jembatan penghubung, yakni Teupin Mane di Bireuen, serta Jembatan Tenge Besi dan Umah Besi, sudah dapat dilalui kendaraan roda empat dan roda enam.

Kepala Bidang Pembinaan Prasarana dan Keselamatan Dinas Perhubungan Bener Meriah, Lukman Hakim, mengatakan terbukanya jalur disambut sukacita oleh masyarakat.

Warga antre melintasi badan jalan lintas Geumpang-Pameu-Takengon saat dibersihkan di Desa Panton Tengah, Rusip Antara, Aceh Tengah, Aceh, Rabu (24/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/agr

Keterangan gambar, Warga antre melintasi badan jalan lintas Geumpang-Pameu-Takengon saat dibersihkan di Desa Panton Tengah, Rusip Antara, Aceh Tengah, Aceh, Rabu (24/12).

"Namun demikian, pemerintah daerah mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar tetap meningkatkan kewaspadaan," kata Lukman Hakim kepada awak media, seperti dilaporkan wartawan Iwan Bahagia untuk BBC News Indonesia.

Seperti diketahui, ruas Takengon–Bireuen merupakan jalur penghubung strategis antar wilayah yang memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta kelancaran distribusi barang dan jasa.

Disepanjang ruas jalan tersebut, masih terdapat sejumlah titik yang kondisi permukaannya belum stabil dan memerlukan penanganan lanjutan.

Foto udara warga menyeberangi sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Khalis Surry/foc

Keterangan gambar, Foto udara warga menyeberangi sungai dengan jembatan darurat di wilayah Tenge Besi, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Sabtu (20/12).

"Selain itu, terjadi peningkatan volume lalu lintas sejak akses jalan kembali dibuka," tambah Lukman.

Sementara itu, akses dari Aceh Utara menuju Kabupaten Bener Meriah dan Takengon melalui ruas jalan KKA juga telah dapat dilalui kendaraan.

Namun masih berklaku sistem buka-tutup sementara waktu, karena masih terdapat beberapa titik di kawasan Wih Pase yang sedang dalam proses penanganan oleh tim penanggulangan bencana.

Warga melihat pekerja saat menggunakan alat berat untuk memperbaiki jalan lintas KKA Aceh Utara - Bener Meriah yang longsor dan amblas di Alue Dua, Aceh Utara, Aceh, Selasa (23/12/2025).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nym

Keterangan gambar, Warga melihat pekerja saat menggunakan alat berat untuk memperbaiki jalan lintas KKA Aceh Utara-Bener Meriah yang longsor dan amblas di Alue Dua, Aceh Utara, Aceh, Selasa (23/12).

"Sebagai bagian dari upaya percepatan perbaikan dan demi menjamin keselamatan pengguna jalan, ruas jalan KKA untuk sementara masih diberlakukan penutupan mulai pukul 07.00 WIB hingga 18.00 WIB," lanjut Lukman Hakim.

Masyarakat juga diimbau agar tidak memaksakan perjalanan, dengan mengikuti informasi resmi dan terkini terkait kondisi lalu lintas, serta mengutamakan keselamatan saat melintasi jalur-jalur tersebut hingga kondisi jalan dinyatakan aman dan normal sepenuhnya.

--

Wartawan Hidayatullah dan Iwan Bahagia di Aceh Tengah melakukan reportase dan menuliskannya.