Dua karyawan Freeport yang terjebak di bawah tanah ditemukan meninggal dunia, polisi ungkap identitasnya

Sumber gambar, Detik.com/Dokumen Freeport
Dua karyawan PT Freeport Indonesia yang terjebak sejak Senin (08/09) lalu di area tambang bawah tanah di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, ditemukan meninggal dunia. Kepolisian dilaporkan sudah mengidentifikasi dua korban tersebut.
Sementara, lima orang karyawan lainnya—yang belum ditemukan—masih terus dicari, kata Freeport.
Dalam keterangan tertulis PT Freeport Indonesia yang diterima BBC News Indonesia, Sabtu (20/09), dua jenazah ditemukan sekitar pukul 08.45 Waktu Indonesia Timur (WIT).
"Dan mengevakuasi [dua jenazah tersebut]," kata Katri Krisnati, VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia.
Secara terpisah, Kepolisian Resor Mimika dilaporkan telah berhasil mengidentifikasi kedua jenazah.
Seperti dilaporkan Seputar Papua.com, Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman berujar, dua jenazah itu adalah Irawan (47) asal Cilacap dan Wigih Hartono (37) asal Tulungagung.
"Saat ini jenazah sedang proses identifikasi atau visum dan disalatkan kemudian hari ini juga, akan langsung diterbangkan ke rumah duka masing-masing," papar Billyandha dalam keterangan resminya, Sabtu (20/09).
Menurutnya, kedua jenazah ditemukan tidak dalam "kapsul penyelamat".
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Keduanya, lanjutnya, ditemukan tertimbun longsoran lumpur basah atau wet muck.
"Diluar atau tertimbun," ujarnya.
Belum ada keterangan resmi PT Freeport Indonesia tentang di mana persisnya dua jenazah itu ditemukan.
Dalam bagian lain keterangan tertulisnya, Sabtu (20/09), PT Freeport Indonesia menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban.
"Dan memastikan pendampingan penuh bagi mereka, serta terus melanjutkan pencarian dan penyelamatan rekan-rekan lainnya dengan mengerahkan segala daya upaya," Katri Krisnati, VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia.
Sebelumnya dilaporkan tujuh karyawan PT Freeport Indonesia terjebak di area tambang bawah tanah di kawasan Grasberg, Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, akibat longsor atau terjangan lumpur material, Senin (08/09) malam.
Disebutkan lokasi longsor itu di area Grasberg Block Cave.
Insiden ini, menurut Freeport, telah menutup akses ke area tertentu di tambang, sehingga "membatasi rute evakuasi untuk tujuh pekerja".
Mereka memastikan seluruh pekerja lainnya dipastikan aman.
Selama proses pembersihan jalur akses dan evakuasi yang aman bagi tujuh karyawan tersebut, PT Freeport menghentikan aktivitas pertambangan di area bawah tanah.

Sumber gambar, Dadang Tri/Bloomberg via Getty Images
Apa kendala dan tantangan dalam penyelamatan korban?
Sebelumnya, nasib tujuh karyawan PT Freeport Indonesia yang terjebak sejak Senin (08/09) lalu di area tambang bawah tanah di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, masih belum diketahui.
Proses evakuasi menghadapi sejumlah tantangan karena material yang longsor memiliki jumlah yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan, kata pimpinan PT Freeport.
Karenanya, evakuasi membutuhkan waktu yang lebih lama, tambahnya.
"Material yang turun atau yang longsor itu jumlahnya jauh lebih banyak dari yang kami perkirakan sehingga memerlukan penanganan-penangan ekstra dan waktu yang lebih lama dan juga masih ada pergerakan-pergerakan dari lumpur bijih basah tersebut," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, seperti dilansir Detikcom, Kamis (11/09) malam.
Sampai Kamis malam, tim tanggap darurat Freeport dilaporkan terus bekerja membuka akses ke lokasi perkiraan keberadaan karyawan.
Mereka menggunakan "alat berat, bor, dan drone".
Tim tersebut terus berupaya memulihkan kembali akses komunikasi, kata Tony.
"Fokus kami adalah untuk penyelamatan dan keselamatan tujuh karyawan tersebut dan juga seluruh karyawan yang ada di area kerja kami ini," ujar Tony.
Dikatakan, Freeport bekerja sama dengan inspektur tambang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), MIND ID, Freeport McMoRan, hingga Pemerintah Papua dan Papua Tengah.
Tony mengaku pihaknya akan mendatangkan beberapa anggota keluarga dari karyawan yang terjebak.
Tujuannya agar mereka dapat melihat langsung dan mendapat informasi terkini.
"Juga kami akan memberikan update secara berkala mengenai upaya penyelamatan kami ini," tambahnya.

Sumber gambar, Dadang Tri/Bloomberg via Getty Images
Apa yang terjadi di tambang bawah tanah Freeport?
Sebelumnya dilaporkan tujuh karyawan PT Freeport Indonesia masih terjebak di area tambang bawah tanah di kawasan Grasberg, Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, akibat longsor atau terjangan lumpur material, Senin (08/09) malam.
PT Freeport Indonesia mengakui insiden ini telah menutup akses ke area tertentu di tambang.
"Dan membatasi rute evakuasi untuk tujuh pekerja," kata Katri Krisnati, VP Corporate Communications PT Freeport Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima BBC News Indonesia, Selasa (09/09).
Namun PT Freeport Indonesia meyakini "mereka diyakini aman".
Mereka juga meyakini "telah mengetahui" di mana lokasi para pekerja yang terjebak.
Sejauh ini PT Freeport melakukan upaya "penyediaan kebutuhan bagi para pekerja yang terdampak".
"Kru sedang berupaya membersihkan akses untuk evakuasi yang aman dan cepat," kata Katri.

Sumber gambar, Dadang Tri/Bloomberg via Getty Images
Sebelumnya, PT Freeport Indonesia menyebut telah "terjadi aliran material basah dalam jumlah yang besar" sekitar pukul 22.00 Waktu Indonesia Timur (WIT).
Disebutkan lokasi longsor itu di area Grasberg Block Cave.
Insiden ini, menurut Freeport, telah menutup akses ke area tertentu di tambang, sehingga "membatasi rute evakuasi untuk tujuh pekerja".
Mereka memastikan seluruh pekerja lainnya dipastikan aman.
Selama proses pembersihan jalur akses dan evakuasi yang aman bagi tujuh karyawan tersebut, PT Freeport menghentikan aktivitas pertambangan di area bawah tanah.
"Operasional penambangan telah dihentikan sementara," kata Katri Krisnati.

Sumber gambar, Dadang Tri/Bloomberg via Getty Images
Di Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim ke lokasi.
Bahlil mengaku dirinya sudah menerima laporan peristiwa ini dari pimpinan PT Freeport Indonesia, Tony Wenas.
"Saya sudah dilaporkan oleh Pak Tony Wenas yang baru kemarin memberikan laporan, dan tim saya sekarang turun ke lokasi untuk mengecek," kata Bahlil, Selasa (09/09).
Berita ini akan diperbarui secara berkala.












