Interogasi, pemukulan, hamil dan melahirkan di penjara – Kesaksian narapidana perempuan Iran di penjara Evin yang brutal

- Penulis, BBC 100 Women
- Waktu membaca: 11 menit
Nasim duduk bersimpuh di sel kecil tanpa jendela. Telinganya menangkap suara tahanan-tahanan lain yang tengah disiksa.
"Anda bisa dengar mereka sedang dihajar?" teriak sipir penjara seraya menggedor pintu sel.
"Bersiaplah. Anda berikutnya."
Nasim menjalani "interogasi selama 10-12 jam setiap harinya" dan berkali-kali diancam akan dieksekusi.
Sel isolasi itu lebarnya tidak lebih dari dua meter. Tidak ada tempat tidur atau toilet di dalamnya.
Nasim, 36 tahun, menjalani penahanan terpisah selama empat bulan di Evin, penjara Iran yang terkenal sadis.
Perempuan yang berprofesi sebagai penata rambut itu tidak boleh bertemu dengan siapa pun selain para penyidik. Saking parahnya, Nasim yakin dia akan "mati dan tidak ada yang tahu".
BBC 100 Women berhasil mengumpulkan cerita dari berbagai sumber terpercaya untuk menggambarkan kehidupan Nasim dan perempuan-perempuan lain yang sedang ditahan di penjara Evin.
Sebagian besar dari mereka adalah puluhan ribu orang yang ditangkap terlibat dalam gelombang demonstrasi yang berlangsung setelah kematian Mahsa Amini, 22 tahun, pada September 2022.
Mahsa ditangkap karena diduga melanggar hukum Iran yang mewajibkan perempuan mengenakan hijab. Dia meninggal dunia saat menjadi tahanan polisi.
Kesaksian mantan-mantan tahanan Evin setelah mereka dibebaskan memang sudah ada. Namun, informasi tentang kehidupan para narapidana saat masih berada di dalam penjara sangatlah jarang.

Sumber gambar, UGC
Kesaksian-kesaksian yang ada tidak hanya mengungkapkan kebrutalan dalam penjara. Di balik tembok Evin, para narapidana rupanya terus mengampanyekan hak-hak perempuan.
Dengan berani, mereka menentang larangan-larangan yang diterapkan kepada para tahanan.
Di sisi lain, ada pula momen-momen mengejutkan.
Salah satunya adalah cerita narapidana perempuan yang sesekali diizinkan untuk menghabiskan waktu dengan suaminya—dia bahkan hamil dan melahirkan.
Nasim, yang menggemari musik rap dan tata rias, ditahan pada April 2023 setelah ikut unjuk rasa bersama teman-temannya.
Salah satu dari mereka tewas dalam penindakan tegas yang dilakukan pemerintah.
Kenangan akan "mereka yang tewas di jalanan" menguatkan Nasim untuk bertahan selama interogasi.

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.
Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

Mereka yang melihat langsung kondisi Nasim setelah dia keluar dari sel isolasi menyebut ada goresan luka dan memar-memar di tubuhnya. Saksi-saksi juga menyebut Nasim disiksa hingga membuat pengakuan palsu.
Sama seperti Nasim, Rezvaneh dan suaminya juga ditangkap setelah unjuk rasa pada 2023.
Keduanya sama-sama menjadi tahanan di Evin yang memiliki fasilitas terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Para interogator Rezvaneh mengancam akan membunuh suaminya dan "menghajarnya sampai kulitnya hitam seperti batubara dan ungu seperti terong".
Setelah menjalani sel isolasi, interogasi, dan penghinaan, Nasim dipindahkan ke ruangan perempuan. Di sana, terdapat sekitar 70 narapidana—termasuk Rezvaneh.
Mayoritas dari mereka ditangkap karena tuduhan politis.

Sumber gambar, CCTV penjara Evin
Nazanin Zaghari-Ratcilffe, warga negara Inggris-Iran yang diperbolehkan pulang ke Inggris pada 2022, menghabiskan nyaris empat tahun sebagai tahanan di penjara Evin.
Sebagian besar narapidana perempuan diganjar hukuman akibat akibat aktivisme mereka.
Mereka dinyatakan bersalah atas tuduhan menyebarkan propaganda, mengacungkan senjata ke aparat rezim, dan membahayakan keamanan nasional.
Tahanan-tahanan ini tinggal di empat sel yang penuh sesak. Setiap sel berisi sekitar 20 orang dan beberapa tempat tidur bertingkat tiga.
Tinggal bersama di ruang sempit sering kali menyebabkan gesekan, dan terkadang perkelahian—baik dalam bentuk fisik maupun verbal.
Akan tetapi, para perempuan ini juga menjalin ikatan yang kuat.
Di musim dingin yang begitu menusuk, perempuan-perempuan ini "berjalan mengelilingi sel dengan membawa botol air panas" supaya badan mereka tetap hangat.
Bersama-sama, mereka juga melewati musim panas yang membuat tubuh banjir keringat.
Terdapat area dapur kecil dengan beberapa kompor tempat tahanan bisa memasak sendiri untuk melengkapi gizi karena makanan penjara yang seadanya.
Tentunya, ini baru dapat dilakukan ketika mereka memiliki cukup uang untuk membeli makanan dari toko penjara.
Area gelap dan kotor di ujung koridor berfungsi sebagai tempat untuk merokok. Halaman kecil bersemen yang menjadi tempat tanaman dan net voli menyisakan sedikit ruang terbuka.

Tahanan-tahanan perempuan diperbolehkan mengenakan pakaian sendiri dan bebas bergerak di sekitar tempat tinggal mereka yang memiliki dua kamar mandi.
Setiap malam, mereka mengantre untuk menggunakan toilet dan menyikat gigi.
Setelah dipenjara selama sekitar empat bulan, Rezvaneh mengetahui bahwa dirinya hamil.
Rezvaneh sebelumnya sudah merasa dirinya tidak akan pernah dikaruniai anak. Dia sudah berjuang dengan infertilitas selama bertahun-tahun.
Aturan penjara Evin memperbolehkan Rezvaneh dan suaminya untuk bertemu secara pribadi.
Kehamilan ini merupakan buah dari salah satu pertemuannya dengan suaminya di dalam fasilitas penjara.
Tangis Rezvaneh pecah selama berhari-hari setelah mendapat kabar ini.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Bagi Rezvaneh, bagian terburuk di dalam penjara Evin adalah "tekanan mental dan ketegangan".
Sukar baginya untuk menemukan tempat yang tenang di sel-sel yang penuh sesak. Sebagian besar tahanan menghabiskan hari-hari mereka dengan duduk di tempat tidur sehingga sulit untuk mendapatkan privasi.
Makanan penjara membuat Rezvaneh mengidam jus apel, roti, dan daging yang sulit didapat. Sekalinya daging tersedia di toko penjara, harganya setidaknya dua kali lipat dari harga daging biasanya.
Dia akhirnya diperbolehkan melakukan USG pada usia kandungan empat bulan. Dokter mengatakan kepada Rezvaneh bahwa janinnya berjenis kelamin perempuan.
"Setiap detak jantung, menguatkan rasa harapan [saya]," ujarnya.
Di sisi lain, dia khawatir kondisi penjara akan membahayakan kesehatan bayinya.
Rezvaneh tidak hanya khawatir tentang cakupan nutrisinya di balik jeruji besi. Sebagai penderita epilepsi, penting bagi Rezvaneh untuk menghindari stres.
Dokter penjara mengatakan kepadanya bahwa dia memiliki risiko tinggi mengalami keguguran.

Sumber gambar, UGC
Sementara itu, Vida, yang bekerja sebagai jurnalis, memiliki hobi melukis. Dia menggunakan sprei sebagai kanvas dan melukis potret perempuan-perempuan lainnya.
Salah satu karya Vida yang berhasil diselundupkan keluar dari Evin.
Lukisan itu merupakan potret tahanan Kurdi, Pakhshan Azizi, yang melakukan perjalanan ke daerah Kurdi di Irak dan Suriah untuk membantu korban kelompok ISIS.
Pakhshan telah dijatuhi hukuman mati setelah didakwa menggunakan senjata untuk melawan rezim Iran. Dikhawatirkan dia akan dieksekusi dalam waktu dekat.
Vida sudah mendapat peringatan untuk tidak melukis sesuatu dengan makna tersembunyi.
Di salah satu dinding di halaman, dia melukis batu bata yang runtuh dengan hutan hijau di belakangnya.
Pihak berwenang menghapusnya.
Di sebuah koridor, Vida melukis gambar seekor cheetah Iran—hewan yang nyaris punah—tengah berlari.
Beberapa perempuan mengaku lukisan binatang langka ini memberikan "energi positif" bagi mereka.
Suatu malam, pihak berwenang "mengecat ulang" lukisan itu. Akses Vida ke perlengkapan melukis kemudian dibatasi.
Salah satu mural Vida masih tetap utuh: gambar ombak laut biru besar di dinding koridor tempat para perempuan merokok.

Sumber gambar, UGC
Para tahanan secara terus menerus memperjuangkan perawatan medis bagi mereka.
Salah satu narapidana, aktivis hak asasi manusia dan peraih Nobel Perdamaian Narges Mohammadi, memiliki kondisi jantung dan paru-paru yang mengancam jiwanya.
Di penjara, dia harus berjuang keras untuk mendapatkan akses ke dokter.
Keluarganya mengatakan bahwa para petugas berkali-kali menghalangi upaya perawatan bagi Narges karena dia menolak mengenakan kerudung saat pergi ke dokter.
Pihak berwenang baru melonggarkan aturan setelah narapidana-narapidana lainnya melakukan aksi mogok makan selama dua minggu.
Narges dibebaskan selama 21 hari pada awal Desember karena alasan medis.
Di balik jeruji besi, Narges dan teman-temannya melancarkan protes, melawan pembatasan-pembatasan, dan terus memperjuangkan hak-hak mereka.
Meskipun undang-undang mengharuskan mereka mengenakan jilbab, banyak yang menolaknya.
Setelah perjuangan panjang dengan pihak berwenang, tahanan perempuan diizinkan memasang tirai di sekitar tempat tidur agar dapat memiliki privasi, terbebas dari tangkapan kamera CCTV.
Salah satu hal yang tersulit bagi para tahanan perempuan adalah menanti hukuman mereka.
Penyidik Nasim mengancamnya dengan hukuman mati dan dia harus menunggu hampir 500 hari untuk mengetahui nasibnya.
Tahanan-tahanan lainnya berupaya membesarkan hati Nasim dengan menghiburnya.
Bagi Nasim, mereka ibarat saudara perempuan yang memberinya semangat untuk hidup dan menjadi "pelipur lara".
Setiap pagi, salah satu temannya membuka tirai tidur Nasim dan membangunkannya agar dia sarapan.
"Setiap hari kami memikirkan satu kegiatan untuk dilakukan. Menjelang berakhirnya hari, kami bisa bilang kepada diri sendiri: 'Hari ini kami hidup," ujar salah satu sumber.

Sumber gambar, UGC
Narapidana-narapidana perempuan lainnya menghabiskan waktu dengan membaca puisi, bernyanyi, bermain kartu yang mereka buat sendiri, dan menonton TV.
Di penjara, tahanan diperbolehkan menyaksikan dua saluran Iran yang menayangkan drama, dokumenter, dan sepak bola.
Hal-hal kecil seperti inilah yang membuat Nasim bertahan selama menanti hukumannya—di bawah ancaman eksekusi yang bertubi-tubi.
Pada akhirnya, Nasim dijatuhi hukuman enam tahun penjara, 74 cambukan, dan 20 tahun pengasingan di kota kecil yang jauh dari Teheran.
Dia didakwa menyebarkan propaganda dan mengangkat senjata melawan Republik Islam.
Meskipun hukumannya berat, Nasim merasa bisa bernapas lega. Dia kini dapat merangkul kehidupan yang menurutnya telah hilang.
Tiga perempuan lainnya di sayap itu telah dijatuhi hukuman mati karena mengangkat senjata melawan rezim atau berafiliasi dengan kelompok bersenjata.
Akan tetapi, salah satu dari mereka telah dibatalkan hukumannya.
Tahun lalu, lebih dari 800 orang dieksekusi di Iran—jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir menurut Amnesty International.
Sebagian besar dari mereka yang dihukum mati dinyatakan bersalah atas kejahatan yang melibatkan kekerasan dan narkoba. Sebagian kecilnya adalah perempuan.
Setiap Selasa, para tahanan perempuan memprotes eksekusi dengan bernyanyi di halaman penjara dan menolak untuk pindah sepanjang malam.
Mereka juga melakukan aksi mogok makan.
Kampanye ini telah menyebar di penjara-penjara d Iran dan mendapatkan dukungan internasional. Pada peringatan kematian Mahsa Amini, para perempuan di Evin membakar kerudung mereka.
Apa yang mereka lakukan bukannya tanpa risiko. Dalam beberapa kesempatan, para penjaga menggerebek sel-sel dan memukuli tahanan sampai mereka terluka.
Para tahanan juga dapat dibawa untuk interogasi lebih lanjut, dimasukkan kembali ke dalam isolasi. Mereka juga akan dilarang menerima panggilan telepon dan kunjungan keluarga.
Sebagian besar penjaga adalah perempuan dan, menurut salah satu sumber kami, mereka "kadang-kadang baik hati, kadang-kadang kejam dan keras hati. Tergantung pada perintah apa yang mereka terima dari otoritas yang lebih tinggi."
Pemerintah Iran secara rutin membantah tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Mereka mengeklaim kondisi di dalam penjara Evin memenuhi semua standar yang diperlukan dan tahanan tidak diperlakukan buruk.

Sumber gambar, UGC
Pihak berwenang penjara pada akhirnya mengizinkan Rezvaneh untuk meninggalkan penjara untuk sementara agar dia dapat melahirkan.
Pada Oktober, dia melahirkan seorang bayi perempuan dengan selamat.
Namun, kegembiraan dan kelegaan Rezvaneh bercampur dengan rasa takut, kesedihan, dan kemarahan.
Suami Rezvaneh tidak diizinkan keluar penjara bersamanya. Di sisi lain, Rezvaneh diperbolehkan membawa putri mereka untuk mengunjungi suaminya di Evin.
Stres yang menerpa membut Rezvaneh kesulitan menghasilkan ASI.
Dia tengah menunggu untuk dipanggil kembali ke penjara Evin untuk menjalani sisa hukuman lima tahunnya. Kalau Rezvaneh tidak dibebaskan lebih awal, ini artinya dia mesti mendekam hampir empat tahun lagi.
Bayi biasanya diizinkan tinggal bersama ibu mereka di penjara sampai umurnya mencapai dua tahun.
Setelah itu, sering kali bayi narapidana diasuh kerabat dekat atau ditempatkan di panti asuhan.
Salah satu narapidana mengatakan bahwa tantangan yang mereka hadapi membuatnya "lebih berani dan lebih kuat".
Sumber itu menambahkan bahwa para tahanan ini merasa mantap untuk "terus berjuang, bahkan di dalam penjara".

BBC 100 Women menampilkan 100 perempuan inspiratif dan berpengaruh di seluruh dunia setiap tahunnya. Ikuti BBC 100 Women di Instagram dan Facebook.
Anda dapat bergabung dalam percakapan dengan menggunakan tagar #BBC100Women. BBC 100 Women bisa ditonton di saluran YouTube BBC World Service.





