Pekerja seks di Belgia dapat uang pensiun, asuransi kesehatan, dan cuti melahirkan

Mel, pekerja seks di Belgia
Keterangan gambar, Potret Mel yang sedang menatap kamera dengan ekspresi serius. Ia memiliki rambut panjang, pirang, bergelombang, dan mengenakan gaun merah berkerah V dengan warna merah mengkilap. Ia berdiri di depan cermin, dengan rantai tergantung dari langit-langit dan lampu neon juga terlihat dalam bidikan.
    • Penulis, Sofia Bettiza
    • Peranan, Koresponden gender dan identitas, BBC World Service
  • Waktu membaca: 7 menit

Peringatan: Artikel ini mengandung deskripsi bermuatan seksual.

“Saya harus bekerja meski sudah hamil sembilan bulan,” tutur Sophie, seorang pekerja seks di Belgia.

“Saya berhubungan badan dengan para tamu satu minggu sebelum melahirkan."

Sophie—bukan nama sebenarnya—adalah ibu dari lima orang anak. Kondisi ini, menurutnya, “sangat berat”.

Sophie menjalani operasi Caesar untuk melahirkan anaknya yang kelima. Dokter yang menanganinya meminta perempuan itu untuk beristirahat selama enam minggu.

Akan tetapi, bagi Sophie, itu bukanlah suatu pilihan. Dia pun langsung kembali bekerja.

“Saya tidak bisa berhenti karena butuh uang.”

Hidup Sophie akan menjadi lebih mudah saat itu jika saja dia punya hak cuti melahirkan.

Undang-undang teranyar di Belgia—yang pertama di dunia—akan memberikan hak cuti melahirkan kepada para pekerja seks. Selain itu, pekerja seks juga berhak memperoleh kontrak kerja resmi, asuransi kesehatan, pensiun, dan cuti sakit.

Artinya, pekerja seks akan mendapatkan hak setara dengan profesi lainnya.

“Ini adalah kesempatan bagi kami untuk diperlakukan sama dengan orang lain,” ujar Sophie.

garis

BBC News Indonesiahadir di WhatsApp.

Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

garis

Data International Union of Sex Workers (Serikat Pekerja Seks Internasional) menunjukkan ada sekitar 52 juta pekerja seks di seluruh dunia.

Pada 2022, profesi ini tidak lagi digolongkan melanggar hukum di Belgia. Pekerja seks juga legal di banyak negara lainnya seperti Turki dan Peru.

Namun, Belgia menjadi negara pertama di dunia yang memberikan pekerja seks hak-hak pekerja dan kontrak kerja resmi.

“Ini adalah langkah yang radikal sekaligus terbaik di dunia dalam pengamatan kami sejauh ini,” kata Erin Kilbride, peneliti Human Rights Watch.

“Semua negara diharapkan bergerak ke arah yang sama.”

Lima orang memegang spanduk hitam, dengan tangan lainnya terangkat sebagai bagian dari protes. Di belakang mereka, terdapat banyak orang di jalanan kota. Spanduk tersebut untuk Serikat Pekerja Seks Belgia (UTSOPI).

Sumber gambar, (UTSOPI

Keterangan gambar, Protes mendukung undang-undang ketenagakerjaan untuk pekerja seks menyusul pandemi Covid-19.

Mereka yang mengkritik profesi ini mengeklaim para pekerja seks rentan menjadi korban perdagangan manusia, eksploitasi, dan penyiksaan. Bagi para pengkritik, Undang-Undang Belgia itu tidak akan mencegah mudarat profesi tersebut.

“Ini malah berbahaya karena menormalkan pekerjaan yang pada dasarnya identik dengan kekerasan,” papar Julia Crumière, relawan Isala—sebuah LSM yang membantu pekerja-pekerja seks di jalanan Belgia.

Bagi banyak pekerja seks, prostitusi adalah sumber mata pencaharian sehingga undang-undang yang melindungi mereka menjadi sebuah urgensi.

Mel, misalnya, menjadi trauma karena dia terpaksa melakukan oral seks kepada tamunya tanpa kondom. Padahal, saat itu, rumah bordil tempat Mel bekerja tengah dihantui penyakit menular seksual.

Di sisi lain, Mel merasa tidak ada pilihan lain.

Baca juga:

“Pilihannya antara menyebarkan penyakit atau tidak menghasilkan uang.”

Mel mulai menjalani profesi ini sejak umurnya 23 tahun. Saat itu, dia membutuhkan uang dan dengan cepat penghasilannya melampaui prediksi. Awalnya, Mel mengira inilah pekerjaan yang akan membuatnya cepat kaya.

Akan tetapi, pengalamannya dengan penyakit menular seksual membuat Mel tersadarkan akan risiko pekerjaan ini.

Berkat undang-undang ini, Mel dapat menolak tamu atau melakukan apa pun yang membuatnya tidak nyaman. Dengan kata lain, Mel dapat mengatakan tidak apabila kondisinya terancam.

“Saya bisa berkata ke nyonya [muncikari] saya: “Anda melanggar aturan. Saya tidak seharusnya diperlakukan seperti ini.’ Hukum akan melindungi saya.”

Potret Victoria yang sedang menatap kamera dengan senyum tipis. Ia memiliki rambut lurus, gelap, bob dengan poni. Ia mengenakan jaket puffer hitam dengan bulu di sekitar tudung dan syal putih tipis. Ia difoto di sebuah taman, dengan pepohonan, rumput di belakangnya, dan dedaunan di tanah.
Keterangan gambar, Victoria menganggap pekerjaan seks sebagai layanan sosial.

Keputusan Belgia tadi merupakan hasil dari unjuk rasa selama berbulan-bulan pada 2022. Protes itu dipicu minimnya dukungan negara saat ada pandemi Covid-19.

Salah satu pengusungnya adalah Victoria, presiden Serikat Pekerja Seks Belgia (UTSOPI) yang sebelumnya menjalani profesi itu selama 12 tahun.

Bagi Victoria, ini adalah sebuah perjuangan pribadi. Dia memandang prostitusi sebagai layanan sosial dan seks hanyalah 10% dari apa yang dia lakukan.

“Ini adalah tentang memberikan perhatian, mendengarkan cerita mereka, makan bersama, berdansa waltz,” paparnya.

“Pada intinya, kita menemani mereka yang kesepian.”

Sebelum 2022—tahun ketika profesi pekerja seks dilegalkan—Victoria menghadapi tantangan-tantangan yang signifikan.

Kondisi pekerjaannya tidaklah aman karena dia tidak dapat memilih tamunya dan agennya meraup sebagian besar keuntungan.

Baca juga:

Satu ketika, Victoria menjadi korban pemerkosaan seorang pelanggan yang terobsesi kepadanya. Ketika dia mengadu ke kantor polisi, seorang polwan malah bersikap kasar—tangisnya pun pecah.

“Dia bilang tidak mungkin seorang pekerja seks itu diperkosa. Seolah-olah ini adalah kesalahan saya karena melakoni profesi ini,” kenang Victoria.

Setiap pekerja seks yang diwawancarai mengaku pernah dipaksa melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan.

Sebab itu, Victoria begitu yakin regulasi baru ini dapat memperbaiki kehidupan mereka.

“Kalau tidak ada undang-undang dan pekerjaan Anda ilegal, maka tidak ada protokol-protokol perlindungan bagi Anda. Undang-undang ini menyediakan alat-alat hukum untuk membuat kami lebih aman.”

Potret Alexandra dan Kris. Alexandra berada di sebelah kiri, tersenyum, dan menggenggam bahu Kris. Ia memiliki rambut sangat panjang, gelap, dan tato menutupi lengan dan tangannya. Ia mengenakan anting-anting dan blus berlengan pendek bermotif leopard. Kris juga tersenyum, ia memiliki rambut pendek gelap, janggut pendek, dan mengenakan kemeja putih.
Keterangan gambar, Alexandra dan Kris mengatakan bahwa mereka memperlakukan karyawan mereka dengan baik.

Para muncikari akan diperbolehkan beroperasi secara legal selama mereka mematuhi aturan-aturan ketat di bawah undang-undang yang baru.

Siapa pun yang melanggar akan mendapat hukuman berat dan tidak boleh lagi mempekerjakan pekerja seks.

“Saya rasa banyak bisnis yang terpaksa tutup karena banyak pemiliknya punya catatan kriminal,” ucap Kris Reekmans.

Kris dan istrinya, Alexandra, menjalankan usaha pijat erotis di Love Street, yang terletak di kota kecil Bekkevoort.

Tempat itu dipenuhi pelanggan saat BBC mengunjunginya pada suatu Senin pagi.

Di situ, terdapat kamar-kamar yang diatur secara apik dan dilengkapi tempat tidur pijat, handuk dan jubah mandi baru, bak mandi air panas, dan kolam renang.

Baca juga:

Suami istri itu mempekerjakan 15 pekerja seks dan, menurut Kris, semuanya diperlakukan dengan hormat, terlindungi, dan diberi gaji yang tinggi. Semua ini membuat Kris dan Alexandra bangga akan praktik bisnis mereka.

“Saya harap semua bisnis yang buruk akan ditutup dan orang-orang yang ingin menjalankan profesi ini secara jujur tetap bertahan. Semakin banyak, semakin baik,” kata dia.

Erin Kilbride dari Human Rights Watch berpandangan sama. Dia berpendapat regulasi yang baru ini akan secara signifikan “memangkas kekuasaan” para penyedia lapangan pekerjaan “terhadap para pekerja seks”.

Mel terlihat berpose, sedang difoto oleh perempun lain. Ia memiliki rambut pirang panjang dan mengenakan gaun pendek berwarna merah mengkilap dengan kancing di bagian depan, serta sepatu bot kulit paten hitam selutut. Ia memiliki tato di pahanya dan sedikit menarik gaunnya di kaki itu. Perempuan yang membelakangi kamera mengenakan rompi hitam dengan tali silang di punggungnya, rambut pirang yang dijepit ke atas, dan kacamata. Punggung dan lengannya dipenuhi tato, dan ia sedang mengambil foto dengan ponsel. Dinding ruangan dicat merah, dengan cermin dan ayunan tergantung dari rantai di langit-langit.
Keterangan gambar, Mel percaya bahwa membawa pekerjaan seks keluar dari bayangan dapat membantu perempuan.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Akan tetapi, Julia Crumière mengeklaim mayoritas perempuan yang dibantunya malah ingin meninggalkan profesi ini dan “bekerja normal” alih-alih mendambakan hak buruh.

“Mereka tidak mau bekerja di luar ruangan ketika cuaca dingin dan berhubungan seks dengan seseorang yang membayar demi akses ke tubuh mereka.”

Di bawah undang-undang Belgia, setiap ruangan tempat transaksi seksual berlangsung mesti dilengkapi alarm untuk melindungi pekerja seks.

Tetap saja Julia yakin tidak ada cara untuk membuat pekerjaan seks benar-benar aman.

“Pekerjaan macam apa yang membuat Anda membutuhkan tombol panik? Ini bukan profesi tertua di dunia, melainkan eksploitasi tertua di dunia.”

Perdebatan mengenai regulasi industri seks akan senantiasa membuat dunia terbelah.

Akan tetapi, bagi Mel, setidaknya ini membuat dirinya—dan banyak perempuan lainnya—tidak lagi hidup dalam bayang-bayang.

“Saya sangat bangga dengan Belgia karena begitu berpikiran maju,” ucapnya.

“Sekarang, saya punya masa depan.”

Beberapa nama dalam artikel ini sengaja diubah untuk melindungi keamanan narasumber.