Apakah masih memungkinkan untuk melakukan 'digital detox' di era digital?

Seorang perempuan memegang telepon genggam.

Sumber gambar, Getty Images

    • Penulis, Sophia Epstein
    • Peranan, BBC Future

Menjadi jauh lebih sulit dari sebelumnya untuk menjauhkan diri dari ketergantungan akan telepon pintar dan alat teknologi digital lainnya, yang begitu mengikat kuat dalam hidup manusia. Apakah melakukan 'detoksifikasi digital' hanyalah sebuah kesia-siaan?

Pada bulan Februari, tersiar kabar bahwa CEO Salesforce Marc Benioff telah melakukan 'detoksifikasi digital': 10 hari tanpa teknologi di resor Polinesia Prancis.

Bagi sekelompok kecil orang, melepas ketergantungan atas perangkat digital adalah impian yang dapat dicapai – tetapi bagi kebanyakan orang, hal itu tidak mungkin terjadi, terutama sekarang.

Detoksifikasi digital membutuhkan seseorang untuk secara total terputus dari berbagai fasilitas teknologi: termasuk istirahat dari memandang layar digital, akses terhadap media sosial, serta konferensi video selama beberapa hari.

Ada niat baik di balik tujuannya – yakni mengurangi stres atau kecemasan, dan berhubungan kembali dengan dunia fisik. Dan meskipun belum ada bukti secara ilmiah dari manfaat pantang teknologi ini, detoksifikasi digital tetap menjadi tantangan yang menarik bagi banyak orang.

Namun tantangan itu menjadi jauh lebih sulit untuk dicapai sejak 2012, ketika peneliti pertama kali menggunakan istilah tersebut. Layar digital telah menjadi hal yang penting saat itu, bahkan dengan berbagai aplikasi dan media sosial yang baru lahir.

Namun, mencoba detoksifikasi digital pada tahun 2012 akan sangat mudah dibandingkan dengan sekarang, ketika hidup kita tidak mungkin terlepas dari teknologi.

Banyak orang kini membayar dengan ponsel saat bertransaksi di toko, bekerja di komputer dan tablet, dan menjaga hubungan sosial melalui aplikasi. Dan sejak pandemi, kebutuhan terhadap teknologi dalam kehidupan manusia semakin intensif.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Detoksifikasi digital pada tahun 2023: dari mana Anda akan memulai itu?

Tidak perlu berlari ke hutan belantara terpencil selama beberapa hari tanpa telepon, para ahli mengatakan bahwa detoksifikasi digital tidak lagi memungkinkan bagi kebanyakan orang.

“Teknologi sudah menjadi bagian dari diri kita sekarang. Kita menggunakan bank dengan aplikasi, membaca menu restoran di ponsel, dan bahkan berolahraga dengan instruktur melalui layar,” kata konsultan yang berbasis di Seattle, Emily Cherkin, seorang spesialis dalam manajemen waktu layar.

“Teknologi sangat tertanam dalam hidup, kita menyiapkan diri kita sendiri menuju kegagalan jika kita mengatakan kita akan bebas dari digital selama seminggu.”

Ketika orang semakin bergantung pada teknologi, melakukan detoksifikasi digital tampaknya bukan lagi tujuan yang masuk akal.

Tapi mungkin ada solusi yang lebih realistis yang akan mengurangi obsesi kita akan teknologi, tanpa memaksa kita untuk memutuskan hubungan sama sekali.

Semakin lama menghabiskan waktu di depan layar

Saat manusia telah menghabiskan banyak waktu menggunakan perangkat teknologi mereka, pandemi Covid-19 semakin meningkatkan jumlahnya berkali-kali lipat.

Orang-orang lebih sering menatap layar selama lockdown, terutama sebagai cara pengganti untuk tetap terhubung dengan yang lain. Tapi kini, kebiasaan itu belum berakhir meski orang bebas meninggalkan rumah dan bersosialisasi.

Sebuah studi di University of Leeds tahun 2022 menunjukkan bahwa 54% orang dewasa Inggris sekarang menggunakan layar lebih sering daripada sebelum pandemi – setengah dari mereka yang disurvei melihat layar selama 11 jam atau lebih setiap hari.

Kemudian, 51% menggunakan layar lebih untuk bersantai daripada sebelum pandemi, sementara 27% mengalami peningkatan penggunaan layar di tempat kerja.

Peningkatan waktu di depan layar ini juga telah mengubah cara kita terhubung satu sama lain. Berbagai kegiatan penting semakin banyak bergeser ke ranah digital, contohnya membangun komunitas di grup WhatsApp, menggantikan momen makan bersama keluarga dengan panggilan FaceTime, dan banyak lagi.

Pandemi Covid-19 memaksa banyak kegiatan sosial kita ke ranah digital, dan banyak di antaranya terus ada di lingkungan teknologi ini, seperti obrolan grup dan panggilan video.

Itu berarti detoksifikasi digital tidak hanya tentang beristirahat sejenak dari obrolan tugas dengan bos Anda – itu juga berarti memutuskan hubungan dengan orang terdekat dan tersayang untuk jangka waktu tertentu.

Ketika kencan online semakin lazim – dan memang berkembang selama pandemi – teknologi juga menjadi pusat untuk menjalin pertemanan.

Menurut data Bumble, dilihat oleh BBC Worklife, terjadi peningkatan pencarian akan teman dalam aplikasi kencan Bumble BFF sejak tahun 2020.

Pada akhir tahun 2021, hampir 15% dari 42 juta pengguna Bumble juga mencari teman di BFF, naik dari 10% pada tahun sebelumnya. Dan, pada akhir tahun 2022, naik lagi sebesar 26%.

“Banyak teknologi saat ini, untuk hal baik atau pun buruk, adalah bentuk dari aksesibilitas,” kata penulis Chris Dancy, yang memantau aktivitasnya dengan lebih dari 700 sensor, perangkat, dan aplikasi.

“Bagi banyak anak-anak, orang tua, pasangan, teman-teman – saya benci mengatakannya, tetapi mereka lupa bagaimana menjalani hubungan tanpa itu.”

Telepon genggam

Sumber gambar, Getty Images

Pergeseran dalam perspektif

Pergeseran gabungan pada kerja dan hubungan hibrid membuat gagasan tradisional tentang detoksifikasi digital tidak hanya ketinggalan zaman, tetapi hampir mustahil.

Detoksifikasi digital disebut-sebut sebagai obat mujarab penghilang kecemasan yang akan menarik orang menjauh dari layar yang mengganggu, dan menghubungkannya kembali dengan momen saat ini.

Tetapi karena kehidupan dan digital semakin tidak dapat dipisahkan dari sebelumnya, idealisasi pemutusan dapat menyebabkan lebih banyak kecemasan ketika Anda tidak dapat mencapainya.

“Saya tidak bisa mematikan teknologi. Kita semua membuka layar karena berbagai alasan,” kata Sina Joneidy, dosen senior perusahaan digital di Teesside University, Inggris.

Dia mengambil pendekatan yang berbeda. “Bagi saya, ini lebih tentang detoksifikasi dari 'keterikatan yang diinginkan' dengan teknologi.”

Joneidy menjelaskan bahwa 'keterikatan yang diinginkan' adalah konsep ajaran Budha yang menggambarkan ketika seseorang menginginkan sesuatu karena mereka percaya itu akan membawa kebahagiaan - padahal sebenarnya, dalam hal ini, itu hanya menghasilkan dopamin yang menimbulkan sensasi menyenangkan.

Dibandingkan menghentikan teknologi sepenuhnya, Joneidy memilih untuk mempraktikkan kesadaran digital. “Saya memastikan penggunaan teknologi saya memiliki tujuan,” katanya.

Kesadaran digital mungkin lebih praktis bagi sebagian orang, sebagai pengganti detoksifikasi penuh: lebih sedikit kekhawatiran tentang menghentikan teknologi sepenuhnya, dan lebih fokus pada penggunaan yang penting.

Alih-alih tergoda yang membuat ketagihan dan menjadi tidak masuk akal, Joneidy percaya bahwa kesadaran pengguna secara digital dapat meningkatkan kehidupan mereka dengan teknologi, daripada merasa seperti terikat pada perangkat.

Bahkan jika orang tidak dapat meninggalkan layar sepenuhnya, memperhatikan pola penggunaan teknologi tertentu, kata para ahli, dapat membantu mereka menggunakan teknologi dengan lebih bertujuan.

“Saya mulai menggunakan banyak alat pelacak berbeda di ponsel saya,” kata antropolog Amber Case yang berbasis di Oregon.

Dia menyadari bahwa dia mengklik Instagram 80 kali sehari, jadi dia mengunduh One Sec, sebuah plug-in yang membuat pengguna "menarik napas dalam-dalam" sebelum mereka dapat membuka dan mengakses aplikasi di ponsel mereka. Ini memaksa pengguna untuk mengambil waktu sejenak sebelum mereka masuk dan membantu menarik mereka keluar dari mode autopilot.

Case juga merekomendasikan untuk keluar dari kebiasaan melihat layar ketika waktu istirahat, dan menyarankan bahwa akan sangat membantu apabila meninggalkan ponsel Anda di tempat lain saat tidak membutuhkannya.

“Orang-orang akan menggunakan ponsel mereka seperti seorang perokok,” kata Case. “Mereka mengisi waktu kosong dan mengisinya dengan ide-ide orang lain.” Sebaliknya, katanya, istirahatlah dengan menatap ke langit, biarkan diri Anda bosan sebentar.

Pada akhirnya, kata para ahli, tujuannya semestinya bukan untuk terputus dari teknologi sepenuhnya – atau menginternalisasi tekanan untuk melakukannya.

Orang-orang masih perlu mengirim email atau mengirim teks, tetapi dapat melakukannya tanpa terganggu oleh berbagai "jebakan" konten online.

Dancy menyebut pendekatan ini sebagai "detoksifikasi abu-abu" - Anda tidak sepenuhnya tenggelam atau terputus sama sekali dari teknologi.

Dan tidak hanya ada satu cara untuk menerapkannya: tekniknya termasuk memasang aplikasi untuk menghapus semua metrik dari media sosial, atau bahkan bertukar ponsel dengan orang tersayang, sehingga Anda dapat menggunakan layar sebagai cara untuk sengaja terhubung satu sama lain.

“Setiap akhir pekan saya menggunakan ponsel suami saya dan dia menggunakan ponsel saya,” kata Dancy. Mereka saling membalas pesan, mendengarkan musik melalui akun masing-masing.

“Ini adalah salah satu cara untuk benar-benar menguatkan hubungan,” kata Dancy.

Detoksifikasi digital tahun 2012 mungkin sudah ketinggalan zaman jika Anda bukan seorang miliarder, tetapi itu tidak berarti kita ditakdirkan untuk menjalani sisa hidup tanpa berpikir panjang.

Alih-alih membuat diri kita lebih cemas dengan mencoba hidup tanpa ponsel selama seminggu, kita dapat melakukan pendekatan yang sesuai kehidupan pribadi kita - tidak perlu melakukan retret mewah ke Polinesia.

-

Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul Is it possible to digital detox anymore? dapat Anda baca di BBC Worklife.