Kepemilikan senjata api di Israel meningkat di tengah maraknya kekerasan - mengapa tidak semua warga Israel mendukungnya?

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Michael Shuval & Rhodri Davies
- Peranan, BBC News, Yerusalem Timur
Shimon Mizrahi menunjuk dari balkon apartemennya ke arah jalan dua jalur besar.
Di seberang jalanan itu ada sebuah sinagoge, tempat anak-anak biasa bermain.
Shimon yang seorang pensiunan tinggal di Neve Yaakov, sebuah permukiman di Yerusalem Timur.
Daerah ini dikuasai Israel meskipun menurut hukum internasional, pendudukan ini ilegal. Namun, pemerintah Israel membantah hal itu.
Ia menunjuk ke sebuah titik di luar sinagoge, di mana seorang pria Palestina bersenjata menembak tewas putra dan menantunya, Eli dan Natali Mizrahi, setelah mereka turun ke bawah karena mendengar bunyi senapan.
“Pria itu berdiri di pertigaan dan menembak ke segala arah. Kemungkinan anak saya berada di situ,” kata Shimon.
“Ini sangat susah. Seakan-akan saya tidak tinggal dalam kenyataan,” tambah dia.
“Saya tidak merasakan pagi atau malam. Saya tidak makan. Saya tidak merasakan apa pun.”

Lima orang lain juga tewas dalam serangan pada Januari itu, membuat kejadian penembakan itu paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir.
Insiden-insiden seperti itu memperkuat persepsi yang dimiliki orang Israel, bahwa pihak aparat tidak melindungi mereka.
“Saya menyalahkan Perdana Menteri [Benjamin Netanyahu]. Ia bertanggung jawab atas militer dan keamanan. Saya menyalahkan mereka,” kata Shimon Mizrahi.
'Untuk melindungi diri'

Sumber gambar, Getty Images
Adalah orang-orang seperti Shimon Mizrahi yang membuat Menteri Pertahanan Israel Itamar Ben-Gvir menginginkan warganya bisa mendapatkan senjata, supaya mereka bisa melindungi diri mereka sendiri.
Sebelumnya, Ben-Gvir membawa Partai Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi) ke dalam koalisi sayap kanan pada pemilihan parlemen pada November dengan mengkritik catatan keamanan dan janji-janji pemerintahan sebelumnya.
Janji-janji itu termasuk mempersenjatai tentara cadangan dan melonggarkan aturan tembakan terbuka.
Sementara itu, kekerasan antara warga Palestina dan Israel telah meningkat sejak paruh pertama tahun lalu.
Warga Palestina telah menyerang beberapa kota Israel dan tentara Israel pun menjalankan serangan malam secara konsisten di bagian Tepi Barat yang diduduki.
Tahun lalu merupakan rekor terbanyak pasukan keamanan Israel membunuh warga Palestina sejak 2005. Tahun ini kekerasan terus berlanjut.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Saat penembakan di Neve Yaakov terjadi, polisi tiba beberapa menit setelah baku tembak, dan membunuh pelaku saat ia mencoba kabur.
Setelah serangan pada Januari itu, Ben Gvir berjanji akan mempercepat secara drastis penerbitan izin kepemilikan senjata, dari sebelumnya 2.000 menjadi 10.000 izin per bulan.
Tindakan ini akan memperpendek periode menunggu dari enam hingga delapan bulan menjadi dua hingga tiga bulan saja.
Baca juga:
Kepemilikan senjata api di Israel pada saat ini sekitar 2% dari populasi. Angka itu terlihat sangat rendah jika dibandingkan dengan AS yang 30% dari populasinya memiliki senjata api.
Biasanya masyarakat awam diperbolehkan memegang pistol dan dibatasi 50 butir peluru.
Namun, kini permintaan yang masuk untuk kepemilikan senjata sudah meningkat hingga dua kali lipat, menurut penyataan Kementerian Keamanan Nasional.
Pada 2021, jumlah permintaan berjumlah 19.000. Sementara angka itu melonjak menjadi 42.236 tahun lalu, yakni angka terbesar dalam setahun.
Di sasana tembak Krav yang terletak di selatan Yerusalem, Hosha'aya Volman, seorang pemilik senjata api, berlatih menembak secara rutin.

“Saya membawa senjata karena alasan sederhana, agar saya memiliki pertahanan. Saya dapat melindungi diri saya sendiri dan orang-orang sekitar saya," kata Volman.
Volman, 27 tahun, adalah seorang Yahudi yang taat dan tinggal di permukiman Tepi Barat bagian utara, Kohav HaShahar.
Ia perlu mempertahankan tingkat keahlian tertentu, serta lulus tes fisik dan mental, agar ia dapat terus memperbarui izin kepemilikan senjatanya. Ini adalah bagian dari regulasi ketat Israel dalam kepemilikan senjata.
Sebelumnya, Volman bergabung dalam angkatan militer dan mendapatkan senapan setelah meninggalkan militer.
Orang-orang Yahudi ultra-Ortodoks biasanya memilih untuk tidak masuk militer ataupun memiliki senjata, dan lebih fokus pada meningkatkan ketaatan beragama mereka.
Namun ada juga pihak-pihak di Israel yang menyerukan bahwa komunitas ultra-Ortodoks perlu dipersenjatai dengan lebih baik demi keselamatan mereka sendiri.
Tetapi orang-orang yang mengambil tindakan keamanan untuk melindungi diri juga semakin terlihat di Tepi Barat yang diduduki.
Di Tepi Barat, kelompok-kelompok bela diri tak bersenjata dan komite publik mengorganisir pertahanan desa-desa dan kota-kota, di mana pasukan Otoritas Palestina tidak hadir - seringkali karena tidak memiliki koordinasi tentara Israel yang diperlukan untuk beroperasi.
Warga sipil ini takut diserang oleh mereka yang tinggal di permukiman Yahudi, suatu hal yang cukup sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.
Pasukan militer muda dan baru telah bermunculan. Ini merupakan gelombang terbaru dari apa yang orang Palestina sebut sebagai perlawanan terhadap pendudukan Israel.
Baca juga:
'Korban lebih banyak, mayoritas perempuan'

Sumber gambar, Getty Images
Rela Mazali, salah satu pendiri koalisi aktivis anti-senjata di Israel yang bernama Meja Dapur Tanpa Senjata, mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan dengan lebih banyak warga memiliki senjata serangan menjadi jarang atau korban jiwa berkurang.
“Pernyataan ini terus diklaim dan diklaim lagi, dan saking seringnya diklaim sampai-sampai orang percaya itu adalah kebenaran. Padahal tidak ada data yang mendukung.”
Dan Mazali menyatakan, sebenarnya, lebih banyak senjata telah menyebabkan lebih banyak kasus pembunuhan.
Ia menambahkan kini sudah ada semakin banyak kekerasan bersenjata di Israel, yang sejalan dengan bertambahnya izin kepemilikan senjara. Para korban kebanyakan adalah orang Palestina, dengan sebagian besarnya perempuan – baik dari Palestina maupun Yahudi.
“Alih-alih memprivatisasi keamanan pribadi dan keamanan manusia, apa yang dibutuhkan adalah pasukan keamanan yang terlatih, cepat tanggap, hati-hati dan responsif.
“[Pasukan] yang tidak memperburuk situasi – sesuatu yang sering terjadi di Israel - melainkan mengetahui bagaimana menahan dan menenangkan situasi."
Dengan Israel menghadapi sederet protes terhadap pemerintah sayap kanan, terutama karena perubahan yudisial yang diusulkan, dan dengan kekerasan Israel-Palestina yang sedang berlangsung, tampaknya kini tidak ada banyak ruang untuk kompromi atau usaha untuk meredam situasi.











