Detik-detik kematian anak di Yahukimo akibat 'granat yang dibawa drone', 'Dia pelajar, bukan anggota TPNPB'

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Jenazah anak berumur 17 tahun bernama Listin Sam dibopong warga dari RSUD Yahukimo menuju rumah duka, Rabu (26/11).
Waktu membaca: 8 menit

Seorang pelajar berumur 17 tahun di Yahukimo, Papua Pegunungan, tewas pada 25 November lalu. Dia kehilangan nyawa karena ledakan granat yang dijatuhkan aparat dari drone, menurut pihak keluarga. Namun Kodam Cenderawasih membantah aparat TNI/Polri bertanggung jawab atas kematian ini.

BBC mewawancarai keluarga dan kerabat anak laki-laki bernama Listin Sam ini. Mereka bilang, pelajar SMK 1 Dekai ini tewas saat tengah berharap bisa lolos tes ke perguruan tinggi—cita-cita yang hanya bisa diraih sebagian kecil orang asli Papua di daerah pegunungan.

Yahukimo dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi wilayah pertempuran antara aparat Indonesia dan milisi pro-kemerdekaan Papua.

Di tengah konflik bersenjata ini, warga sipil berulang kali menjadi sasaran—baik korban kekerasan maupun korban salah tangkap.

September lalu laki-laki muda di Dekai, ibu kota Yahukimo, tewas dengan dugaan disiksa aparat kepolisian.

Pimpinan kepolisian berjanji mengusut, tapi tak merespons ketika dihubungi BBC untuk mencari perkembangan terbaru terkait kasus tersebut.

Pada Oktober silam, Pengadilan Negeri Wamena menjatuhkan vonis penjara 14 tahun kepada polisi yang menembak pegawai Bawaslu bernama Tobias Silak, di Dekai, Agustus 2024. Tiga polisi lain yang terlibat kasus ini divonis lima tahun penjara.

Pada hari penembakan, aparat menuding Tobias sebagai bagian dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)—yang tak terbukti di pengadilan.

Sementara pada Oktober 2024, dua anak berumur 16 tahun di Dekai, berinisial MB dan BE, dibebaskan Pengadilan Negeri Wamena.

Keduanya, menurut hakim, terbukti berstatus warga sipil, tak seperti tuduhan aparat yang menuding keduanya sebagai anggota TPNPB.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Potret Listim Sam yang dia gunakan untuk urusan sekolah.

Agar warga tidak terus-menerus menjadi korban, pemerintah Indonesia dan milisi pro-kemerdekaan harus menyepakati gencatan bersenjata, kata Ruben Wakla, aktivis muda di Yahukimo. "Mereka harus mencari solusi alternatif," ujarnya.

Bagaimana peristiwa yang menewaskan Listin Sam? Benarkah dia tewas akibat bom granat yang dijatuhkan dari drone?

'Sayang kenapa kamu pergi'

Nayoung e, nhae, nhae…

Nayoung e, nhae, nhae…

Amba nisin mabo nilyak bindu bank, isi puga jalam selomabog…

(Bapa sayang, sayang, sayang

Bapa sayang, sayang, sayang

Kenapa kamu meninggal, kamu mau pergi dengan teman-teman, semua teman datang tapi kamu pergi selamanya…)

Kata-kata dalam bahasa Suku Kimyal itu dinyanyikan lirih oleh kakak perempuan Listin Atin Sam di Rumah Sakit Umum Daerah Dekai, Yahukimo, Rabu (26/11). Dia bernyanyi sambil berurai air mata. Tangannya memeluk wajah Listin, yang telah terbujur kaku—tak bernyawa.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Jenazah Listin Sam dipotret di RSUD Yahukimo, Rabu (26/11).

Sekitar 12 jam sebelumnya, sekitar jam 9 malam, Listin sedang tidur di rumah orang tuanya di Jalan Gunung—sebutan untuk sebuah kawasan di sisi utara Dekai yang berujung di kawasan hutan dan kebun-kebun warga.

Pada hari-hari biasanya, Listin tidak tinggal atau menghabiskan malam di rumah itu. Dia tinggal di pusat Dekai, di rumah kerabatnya.

Namun aktivitas sekolah Listin telah usai dan ujian semester pun telah berakhir. Listin dan para pelajar di Dekai tengah menyongsong libur natal untuk memperingati kelahiran Yesus.

Oleh karena libur itulah Listin bersama kawannya, yang bernama Yondinus Dapla, naik ke Jalan Gunung. Selasa, 25 November lalu, adalah malam pertama mereka di rumah itu.

Informasi ini dikatakan Geleng Sam, paman Listin.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Sisa granat yang ditemukan di dekat tubuh Listin Sam, tak lama setelah ledakan melukai tubuhnya.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Saat Listin telah terlelap, sebuah drone terbang dan berputar-putar di permukiman warga di Jalan Gunung. Geleng berkata, pesawat nirawak itu lalu berhenti tepat di atas rumah yang ditempati Listin dan kawannya.

Tiba-tiba, kata Geleng, drone itu menjatuhkan granat. Granat itu meledak di atas rumah, lalu melukai punggung, kemaluan, dan kaki Listin.

Namun Listin masih sempat bernafas, kata Geleng.

Warga di sekitar rumah itu lantas berdatangan, termasuk Lemo Mirin. Pegawai pemerintahan ini tinggal tak jauh dari rumah yang ditempati Listin dan kawannya.

"Saya saksi mata," kata Lemo, pagi setelah peristiwa itu.

"Pesawat [drone] itu beberapa menit diam di udara, lalu menyala lampu hijau, lampu kuning, lalu yang ketiga menyala lampu putih, menerangi rumah yang kena bom.

Dari halaman rumahnya, Lemo mendengar ledakan. Tapi tidak ada teriakan dari dalam rumah yang ditempati Listin, kata Lemo.

"Saya kabarkan ke anak-anak kompleks [yang tinggal di permukiman itu]. Kami lalu datang mengecek.

"Ternyata bom itu mengenai korban dan temannya. Tapi temannya hanya luka-luka," ujar Lemo.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Ratusan warga berdatangan ke RSUD Yahukimo untuk melihat dan mengantar jenazah Listin Sam ke rumah duka, Rabu (26/11).

Usai ledakan itu, warga membawa Listin ke RSUD Dekai. Rumah sakit ini berada di pusat kota Dekai, di sebelah markas Komando Rayon Militer 1715/06 dan sekitar satu kilometer dari Polres Yahukimo.

Namun pihak rumah sakit tidak langsung menerima kegawatdaruratan Listin. Tuduhan itu dikatakan Ruben Wakla, pemuda Yahukimo yang ikut dalam rombongan warga pengantar Listin.

Ruben berkata, pihak RSUD Yahukimo sempat tidak bersedia menangani Listin. Alasannya, aparat yang ada di rumah sakit itu menuduh "Listin adalah milisi TPNPB".

"Keluarga Listin lalu berupaya mendatangkan kartu keluarga," ujar Ruben. Tujuannya, mereka ingin membuktikan bahwa Ruben adalah warga sipil.

Kepala Distrik Duram, Panus Yalak, pada tengah malam itu juga ikut datang ke RSUD Yahukimo. Kepada pihak rumah sakit, dia bukan cuma membawa bukti berupa kartu keluarga, tapi juga KTP dan ijazah SMP yang didapat Listin dua tahun lalu.

"Bahwa dia anggota TPNPB adalah kebohongan. Dia masyarakat biasa—pelajar," ujar Panus.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Kepala Distrik Duram, Panus Yalak (kanan) dipotret saat membuktikan status Listin Sam sebagai warga sipil di RSUD Yahukimo.

Selama upaya pembuktian status itu, Listin sekarat. Sekitar jam 2 pagi—lima jam usai terkena ledakan—Listin tak kuasa bertahan hidup. Dia akhirnya meninggal.

Kematian Listin seketika memicu tangis dan histeria keluarganya. Kakak perempuannya melantunkan kesedihan dalam bahasa ibu mereka.

Setelah matahari terbit, masyarakat, terutama orang-orang dari Suku Kimyal, telah berdatangan ke RSUD Yahukimo. Sebagian dari mereka masuk ke ruang jenazah.

Di dalam ruangan itu, dua kaki Listin yang sempat bersimbah darah telah bersih. Jenazahnya telah dimandikan. Terbujur kaku, jenazah Listin terlihat begitu rapi. Dia memakai sepatu dan seragam sekolahnya, bertuliskan SMKN 2 TY (Terpadu Yahukimo).

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Jenazah Listin Sam dalam seragam sekolahnya.

Juru Bicara Kodam Cenderawasih, Letkol Tri Purwanto, menyatakan seluruh cerita dan tuduhan yang diungkap keluarga Listin dan Kepala Distrik Duram, Panus Yalak, tidak benar.

"Kami sudah berkoordinasi dengan aparat TNI-Polri: tidak ada aktivitas pergerakan drone dari aparat pada tanggal 25 November 2025," kata Tri Purwanto, 29 November lalu.

Tri bilang, aparat tengah menyelidiki kasus kematian tersebut. Dia menduga, ledakan yang menewaskan Listin berasal dari bom molotov yang gagal dirakit.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya," kata Tri.

"Seluruh pihak terkait sedang bekerja untuk mengungkap fakta sebenarnya," ujarnya.

'Pencarian keadilan yang sia-sia'

Seperti pada peristiwa kematian warga sipil lain dalam konflik bersenjata di Yahukimo, pada 26 November pagi, ratusan warga berkumpul untuk melihat dan mengantar jenazah Listin ke rumah duka.

Sempat muncul wacana di antara kerabat Listin untuk membawa jenazahnya ke Polres Yahukimo—sebagai cara menuntut pertanggungjawaban aparat.

Saat Victor Deyal yang tewas, September lalu, pihak keluarga dan masyarakat Yahukimo turun ke jalan, berbondong-bondong membawa jenazahnya ke kantor Polres Yahukimo. Hal serupa juga mereka lakukan saat Tobias Silak tewas ditembak polisi, Agustus 2024.

Namun jenazah Listin akhirnya tak jadi digotong ke kantor polisi. Alipia Yalak, tetua adat di Yahukimo, merasa cara itu akan sia-sia.

"Sudah terjadi penembakan dua warga sipil. Kami sudah bawa ke polisi tapi sampai hari ini tidak beres," kata Alipia di hadapan warga. Sejumlah figur yang mewakili suku-suku di Yahukimo serta beberapa pendeta berdiri di sebelahnya.

Alipia berorasi di halaman depan ruang jenazah RSUD Yahukimo. Jenazah Listin dibopong warga, di belakang Alipia.

"Jadi hari ini saya tidak akan bawa jenazah korban ke polisi," ujar Alipia.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Warga berdatangan ke kamar jenazah RSUD Yahukimo, Rabu (26/11).

Dalam orasinya, Alipia meminta kepolisian dan militer menutup pos yang mereka dirikan di sekitar Jalan Gunung. Pos-pos itu, menurut Alipia, telah menyusahkan dan meneror warga.

"Di Jalan Gunung, berapa suku tinggal di kampung di situ, kami turun-naik," kata Alipia.

"Kami naik, KTP kami harus diperiksa. Kami kumpul, periksa KTP, tahan motor.

"Kami ini orang dari mana? Kami asli pribumi Yahukimo. Tuhan ciptakan untuk kami mati di sini, hidup dan cari makan di sini," ujar Alipia.

BBC News Indonesia telah menghubungi Kapolres Yahukimo AKBP Zet Saalino terkait tuduhan ini, tapi tak mendapat jawaban.

Dari RSUD Yahukimo, jenazah Listin akhirnya digotong ratusan warga ke rumah duka.

Tak ada mobil ambulans, mereka berjalan kaki menyusuri jalan utama kota Dekai menuju tempat kedukaan.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Perwakilan gereja dan suku-suku di Yahukimo berdiskusi membahas kematian Listin Sam dan jaminan keamanan untuk warga sipil.

Sepanjang perjalanan, kerabatnya masih melantunkan kesedihan. Saat melewati sebuah rumah, seorang pengurus gereja bernama Bisim Dapla menangis sekaligus melantunkan kata-kata duka dalam bahasa Kimyal.

Jika ditermahkan ke bahasa Indonesia, kata-kata yang keluar dari mulut Bisim adalah "Anakku, anakku, kenapa pergi secepat ini dengan panggilan yang tidak masuk akal?"

"Kau pergi, lalu mau kemana?"

Apakah TNI/Polri punya drone yang bisa ledakkan granat?

Peristiwa kematian pimpinan TPNPB di Pegunungan Bintang, Lamek Taplo, Oktober lalu, mengungkap bagaimana aparat menggunakan drone yang bisa menjatuhkan bahan peledak.

Dudung Abdurachman, Penasehat Khusus Presiden Bidang Pertahanan Nasional, menyebut bahwa Lamek Taplo tewas akibat ledakan granat yang dijatuhkan tentara.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Pimpinan TPNPB di Pegunungan Bintang, Lamek Taplo, dipotret saat memegang granat dan drone yang dia sebut milik aparat TNI/Polri.

Granat itu, kata Dudung tidak meledak seketika. Dudung berkata, Lamek sempat mengambil granat itu dan tak lama setelahnya granat itu meledak, menewaskan Lamek.

"Tokoh kelompok bersenjata lalu menemukan bom itu, pada saat ditemukan baru meledak," kata Dudung di Jakarta, 25 Oktober lalu.

Anak muda lainnya ditangkap, benarkah dia milisi pro-kemerdekaan?

Tiga hari setelah Listin Sam tewas, Jumat (28/11), seorang pemuda bernama Iron Heluka ditangkap Polres Yahukimo.

Kepala Satgas Cartenz, Brigjen Faizal Rahmadani menuduh laki-laki itu merupakan anggota TPNPB Kodap XVI Yahukimo, dari Batalyon Sisibia. Polisi, kata Faizal, telah mengintai keberadaan Iron sejak Mei 2025.

Iron, klaim Faizal, ditangkap saat tengah membakar sebuah lapak penjual gorengan di Kota Dekai. Dua rekan Iron disebutnya melarikan diri dari kejaran polisi.

Dari tas Iron, Faizal mengklaim polisi menemukan handphone, tas noken berlogo bintang kejora, korek api, dan sebuah topi.

"Penyidik masih melakukan pemeriksaan kepada Iron Heluka untuk memastikan keterlibatannya dalam jaringan KKB (istilah pemerintah untuk TPNPB) dan sejumlah aksi kriminal yang terjadi di Yahukimo," kata Faizal.

Kematian anak di Yahukimo

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Iron Heluka dipotret di Polres Yahukimo, Jumat (28/11).

Namun penangkapan dan tuduhan terhadap Iron itu dikecam aktivis di Yahukimo, Ruben Wakla.

"Iron Heluka murni seorang mahasiswa yang statusnya masih aktif berkuliah di Universitas Cenderawasih," kata Ruben.

Setelah menggali informasi dari pihak keluarga, Ruben menyebut Iron tidak membakar lapak gorengan. Saat ditangkap, kata Ruben, Iron dan dua kawannya tengah membuat api untuk menghangatkan tubuh.

"Namun kepolisian yang berpatroli malam tiba-tiba muncul dan mengejar mereka sehingga beberapa dari mereka melarikan diri," ujar Ruben.

"Korban atas nama Iron Heluka ditangkap lalu dibawah ke Polres Yahukimo," ucapnya.

Reportase lapangan oleh Piter Lokon, wartawan di Dekai