'Bagaimana kamu bisa berasumsi hidup saya tidak berarti karena saya tidak punya anak?' - Pengakuan para pasutri yang memutuskan 'childfree' di Indonesia

Arief dan Chibi sudah menikah selama 10 tahun tanpa mempunyai anak. Mereka berkenalan lewat Twitter.
Keterangan gambar, Arief dan Chibi sudah menikah selama 10 tahun tanpa mempunyai anak. Mereka berkenalan lewat Twitter.
    • Penulis, Trisha Husada
    • Peranan, BBC News Indonesia

Fenomena childfree menjadi topik yang hangat diperbincangkan di media sosial. Namun, childfree bukanlah konsep yang baru di Indonesia. Beberapa pasangan suami-istri punya alasan tersendiri mengapa mereka memutuskan tidak memiliki anak walau sudah bertahun-tahun menikah.

Memasuki kafé kecil di samping jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan, saya bertemu dengan Arief (36) dan Chibi (33), sepasang suami-istri yang baru saja pindah ke kawasan ibu kota dua minggu yang lalu dari Pulau Kalimantan.

Mereka tampak serasi dengan kemeja bernuansa biru putih. Keduanya menyapa saya dengan ramah. Setelah memesan santapan malam, kami duduk di kursi kosong, agak jauh dari kerumunan.

“Kami sudah menikah 10 tahun, dua bulan,” ujar Arief yang baru saja kembali dari pekerjaannya di atas kapal.

Mereka awalnya berkenalan di Twitter lewat teman-teman mutual, kisah Chibi, sampai akhirnya bertemu di dunia nyata. Setahun kemudian, Arief hadir di wisuda Chibi di Malang pada 2012.

“Dia tanya, kapan wisuda dan lain-lain. Ternyata dia datang,” kata Chibi sambil tersenyum, mengingat kembali momen itu.

Di acara tersebut, Arief mengajak Chibi untuk menjalin hubungan serius hingga ke jenjang pernikahan. Pada akhir 2012, mereka menikah.

“Sebenarnya di awal kita enggak serta-merta tahu ada istilah childfree atau apa. Jadi sebelum menikah, saya ada beberapa pertanyaan untuk dia, salah satunya adalah bagaimana jika kita punya atau tidak punya (anak).”

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Childfree merupakan keputusan pasangan untuk tidak memiliki anak dalam pernikahan mereka.

“Kami sengaja menunda [punya anak] karena kami kan tidak melewati fase pacaran, jadi jangan sampai punya anak jadi berantakan semua,” ungkap Arief kepada BBC News Indonesia, Kamis (16/2).

Setelah menunda memiliki anak selama hampir tiga tahun, akhirnya keduanya sepakat untuk tidak mempunyai anak sama sekali.

Alasan utama mereka adalah kesibukkan pekerjaan masing-masing yang membuat mereka harus beberapa kali pindah domisili. Sebelum ke Jakarta, mereka sempat tinggal di Batam, kemudian Kalimantan.

“Saya sempat jadi PA [personal assistant]. Jadi pergi, pergi, pergi. Sepertinya kehidupan kami kurang cocok untuk jadi orang tua. Kemudian saya mutasi ke sini,” kata Chibi, menambahkan Arief bisa pergi hingga dua minggu bila ada pekerjaan.

Alasan lainnya, keduanya menilai tak cocok mengurus anak. Arief mengatakan bahwa dirinya tak sanggup jika pulang kerja dengan kondisi lelah dan masih harus menghibur sang buah hati.

“Khawatirnya kalau ada anak, capeknya kerjaan terlampiaskan ke anak. Jangan sampai kami begini dan anaknya jadi korban,” ujar Arief.

Namun, Arief baru memutuskan untuk memberitahu keluarganya tentang pilihan mereka setelah sembilan tahun menikah. Ia menunggu waktu yang tepat, yakni ketika kedua adiknya sudah menikah dan mempunyai anak.

“Keluarga saya cenderung konservatif. Mereka sedikit memaksa bahkan sampai memberi berbagai macam saran, coba ke praktek sini, macam-macam. Cuma ya, biarkan lewat begitu saja. Karena memang enggak ada motivasi untuk punya [anak],” jelas Arief.

Sementara keluarga Chibi yang bisa dibilang lebih terbuka pikirannya, tidak mempermasalahkan pilihan pasangan itu. Bahkan, adik Chibi sedang mempertimbangkan ingin menjadi childfree seperti kakaknya.

“Dia juga udah izin ke ibu kalau misalnya nanti seperi kakak enggak punya anak, enggak apa-apa? Terus ibu saya bilang, 'anak-anak tetangga adalah cucu-cucuku'. Jadi dia juga enggak pernah merasa kesepian,” kata Chibi.

Tak lama setelah membuat keputusan untuk childfree, mereka menemukan komunitas childfree di media sosial, di mana mereka bertemu dengan orang-orang yang sepemikiran dengan mereka.

“Kami lihat-lihat terus, ‘oh ternyata tidak ingin punya anak itu sesuatu yang oke saja sebenarnya’. Jadi kami enggak sendirian,” kata Chibi.

Dari komunitas itu, mereka belajar banyak hal dari anggota lainnya, terutama mereka yang sudah bertahun-tahun memutuskan childfree.

Seiring berjalannya waktu, Arief dan Chibi pun menjadi semakin paham dan yakin dengan keputusan mereka sendiri.

“Karena kan childfree itu membutuhkan tanggung jawab, bukan untuk masa sekarang saja, tapi ketika kita tua nanti. Jadi memang saya senangnya grup komunitas itu membuat kami bisa berpikir panjang,” ujar Chibi.

“Dan itu zamannya belum heboh-heboh seperti sekarang,” tambah Arief.

“Kalau enggak salah, awal 2015,” Chibi menimpali.

Membentuk komunitas childfree di Indonesia

Kei Savourie dan istrinya, Lilia merupakan pendiri akun Childfree Life Indonesia yang kini memiliki 2.641 pengikut.

Sumber gambar, Kei Savourie

Keterangan gambar, Kei Savourie dan istrinya, Lilia merupakan pendiri akun Childfree Life Indonesia yang kini memiliki 2.641 pengikut.

Baca juga:

Dating coach Kei Savourie (42) dan istrinya Lilia (40), seorang pengusaha aksesoris, merupakan pasangan di balik akun komunitas Childfree Life Indonesia. Melalui wadah itu, mereka berkenalan dengan Arief dan Chibi serta banyak pasangan lainnya yang memilih untuk childfree.

“Kebetulan waktu itu saya lagi bikin story di Instagram tentang childfree, saya kasih tahu saya childfree dan ramai banget, viral lah. Terus ternyata banyak juga yang mau childfree. Jadi saya pikir, ya sudah kita buat akun baru buat membicarakan childfree,” kata Kei lewat sambungan video Zoom.

Ia bercerita tentang keinginan dirinya dan Lilia untuk membuat sebuah ‘tempat nongkrong dan sumber informasi’ untuk orang-orang yang childfree di Indonesia.

“Karena kan biasanya orang yang childfree enggak punya teman yang sesama childfree,” ujarnya.

Kei mengisahkan ia bertemu dengan istrinya lewat Twitter setelah mengutarakan keinginan untuk menjalani hidup childfree. Dari titik itu, mereka mulai sering mengirim pesan lewat DM dan mulai menjalin hubungan.

“Salah satu alasan dia suka sama saya dan follow saya karena punya value dan prinsip yang sama. Enggak mau punya anak. Jadi dari awal udah sama,” jelas Kei.

Meski sepemikiran, alasan yang dimiliki Kei dan Lilia untuk tidak punya anak cukup berbeda. Untuk Kei, ia merasa bahwa beban tanggung jawab moral yang datang dengan membesarkan anak supaya sukses di kemudian hari terlalu berat baginya.

“Membesarkan seorang anak berarti nyawa seorang manusia ada di tangan kita, dan masa depan seseorang ada di tangan kita. Jadi kalau kita salah didik, terus enggak punya cukup biaya. Itu masa depan anak langsung beda,” katanya.

Sementara, Lilia merasa bahwa membesarkan anak akan memerlukan pengorbanan yang besar, terutama dari sisi waktu dan tenaga yang diberikan. Hal ini khususnya berdampak pada sang ibu yang diekspektasikan dapat merawat dan mendidik anak dengan baik.

“Dia sebagai perempuan jadi harus kehilangan mungkin sekitar 15-20 tahun untuk membesarkan anak, dan dia merasa dia enggak mau menghabiskan waktu untuk membesarkan anak. Dia masih punya banyak mimpi dan banyak hal yang mau dicapai.

“Hak prerogatif ada di perempuan sih, karena yang mengandung dan mengurusi dia,” ungkap Kei.

'Perempuan harusnya tahu sulitnya membuat keputusan atas tubuhnya'

Devi dan suaminya memiliki sepasang anjing peliharaan bernama Thunder dan Benji.
Keterangan gambar, Devi berpose bersama salah satu anjingnya yang bernama Benji. Ia dan suaminya memiliki sepasang anjing peliharaan yang mereka adopsi.

“Saya sejak kecil tidak pernah membayangkan akan punya anak, itu tidak pernah jadi impian saya, bukan salah satu dari goals saya. Dan suami saya tahu itu dan saya selalu tanya dia, dia juga oke,” kata Devi Asmarani, pencetus Magdalene, media bilingual yang berpusat pada isu perempuan dan gender.

Selama hampir dua dekade, Devi sudah hidup bersama suaminya Budiman. Saat sampai di rumah mereka, saya langsung disambut oleh dua anjing peliharaan bernama Thunder dan Benji.

Mereka menggonggong dengan girang sembari Devi dan suaminya menggiring mereka masuk dengan suguhan.

Childfree bukan berarti tidak memiliki insting maternal. Mungkin orang menganggap remeh tapi saya punya hewan peliharaan dan mereka sangat berarti buat kami, memberi kebahagiaan buat kami.

“Kalau orang mengatakan punya anak saja bisa bahagia, itu sesuatu yang perlu ditantang. Kami sangat bahagia selama beberapa tahun ini,” cetus Devi.

Devi juga menceritakan bagaimana ia bertemu dengan suaminya saat mereka sama-sama bekerja sebagai wartawan di salah satu kantor berita nasional berbahasa Inggris. Setelah berpacaran selama enam tahun, mereka memutuskan untuk menikah.

“Ketika kami menikah dan menjalani pernikahan ya, tidak pernah ada rencana khusus punya anak kapan. Terus kami juga merasakan betapa... kami ingin atau tidak, dan tidak ada keinganan itu,” ungkap Devi.

Ia mengatakan bahwa keputusan itu terus mereka kaji setiap tahun, dengan mempertanyakan apakah hidup mereka tetap baik-baik saja tanpa ada kehadiran anak. Dan setiap tahun, mereka sampai pada kesimpulan yang sama.

“Saya merasa hidup kami cukup terpenuhi tanpa punya anak. Ini mungkin suatu hal yang membuat kadang saya kesal kalau orang bilang seakan-akan hidup tanpa anak itu tidak berarti.

“Bagaimana kamu bisa berasumsi hidup saya tidak berarti saat ini karena saya tidak punya anak?” sebut Devi.

Menurut dia, keputusan itu juga dipengaruhi oleh banyaknya pasangan suami istri di sekitar mereka yang membuat mereka sadar betapa beratnya tanggung jawab yang harus dipikul dalam membesarkan anak.

“Saya melihat sebenarnya ada orang-orang yang seharusnya tidak menjadi orang tua. Melihat dari mereka tidak bertanggung jawab dan cara mereka membesarkan anaknya masih penuh dengan ego,” kata Devi.

Selain itu, ada pula keinginan Devi untuk memiliki kebebasan dalam menentukan jalan hidupnya. Terutama dari segi karier. Ia sendiri sudah mendalami beberapa bidang karier berbeda, di antaranya menjadi guru yoga hingga konsultan.

“Lebih ke keyakinan pribadi. Independence itu tadi, bisa membuat keputusan mau bekerja seperti apa. Sampai akhirnya saya mendirikan Magdalene, mungkin gajinya tidak sebesar tempat saya kerja dulu tapi ini memberi saya kebahagian dan tujuan.

“Tapi saya enggak mungkin melakukan ini kalau saya punya anak,” ujar Devi.

Melihat diskursus yang terjadi di media sosial, ia menyayangkan bahwa kebanyakan ibu-ibu memandang childfree sebagai serangan terhadap mereka yang mempunyai anak. Padahal, seharusnya kedua kubu bisa menghargai pilihan masing-masing.

“Perempuan-perempuan yang harusnya tahu kesulitan bagi seorang perempuan untuk membuat keputusan atas tubuhnya itu, harusnya mereka bisa mengerti.

“Ini bukan serangan terhadap orang yang memutuskan untuk mempunyai anak tapi ini justru menurut saya adalah suatu mekanisme defensif seseorang yang selalu diserang atas keputusan dia atas tubuhnya,” jelas Devi.

Baca juga:

Semakin ‘populer’ di era media sosial

Ibu dan bayi melakukan selfie

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Orang tua terobsesi dengan mencari cara mengasuh anak yang 'ideal' akibat pengaruh media sosial.

Pengamat Sosial Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, mengatakan bahwa fenomena childfree memang baru-baru ini ramai diperbincangkan. Namun, sebetulnya, banyak juga pasangan yang sudah menjalani hidup tanpa anak di Indonesia.

“Walaupun diam-diam atau dalam senyap sebenarnya banyak orang juga yang sudah mempraktikkan, tapi karena munculnya generasi baru yang lebih terbuka dalam menyampaikan pendapat, apalagi ada ruang media sosial,” kata Devie kepada BBC News Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa keinginan generasi baru untuk menjadi childfree, lahir dari kemudahan akses informasi mengenai parenting. Sehingga, semakin banyak masyarakat yang terpapar dengan ide-ide dan alternatif baru yang mungkin sudah dianggap normal di negara-negara seperti Amerika, China, Jepang, dan Korea Selatan.

“Dengan banyaknya informasi sekarang, ada lho pilihan yang namanya childfree. Apalagi perempuan yang memang menjadi penentu sebenarnya kelahiran itu, karena perempuan yang mengandung.

“Jadi akhirnya perempuan-perempuan yang dengan cara pandang yang sudah lebih terbuka menyadari bahwa dia sebenarnya punya hak atas tubuhnya,” ungkap Devie.

Selain akses informasi, media sosial juga memiliki peran penting dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk memiliki anak atau tidak, kata Devie. Salah satunya adalah persepsi mengenai cara mengasuh anak yang ‘ideal’.

“Orang-orang sekarang yang punya obsesi. Oh anak harus seperti ini, segala macam, kayaknya enggak sanggup. Padahal sebenarnya disekolahkan di sekolah biasa saja tidak apa-apa.

“Itulah beratnya pengaruh media terhadap cara pandang dan perilaku orang karena kita kelemahannya adalah kita jadi sering membandingkan diri kita dengan orang lain padahal belum tentu itu yang terbaik,” pungkas Devie.

'Childfree' bukan berarti 'childless'

Suami-istri Devi dan Budiman berpose di depan danau saat liburan berdua

Sumber gambar, Devi Asmarani

Keterangan gambar, Suami-istri Devi dan Budiman berpose di depan danau saat liburan berdua

Devi Asmarani merasa bahwa munculnya perdebatan di media sosial seputar konsep childfree justru dapat membuahkan diskusi dan kesempatan untuk membantu orang lain lebih memahaminya.

Bahkan, ia sudah pernah menulis beberapa artikel dan esai terkait hal tersebut sembilan tahun yang lalu.

“Dan mungkin (saat itu) media sosial belum semarak ini. Jadi bahwa ini saat ini menjadi pembahasan itu sangat menarik menurut saya. Karena zaman itu bahkan belum ada istilah childfree, atau belum dipakai,” ujar Devi.

Sebelum muncul istilah childfree, sambungnya, kebanyakan orang menggunakan kata childless untuk pasangan-pasangan yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak. Padahal, keduanya memiliki arti berbeda.

“Menurut saya itu menunjukkan ada sesuatu yang ‘kurang’ yang membuat orang itu enggak normal, enggak lengkap. Sementara childfree kan ada agency di situ. Ada kesadaran di balik keputusan itu,” ungkapnya.

Senada dengan Devi, Chibi mengaku kesal dengan miskonsepsi khalayak umum yang seringkali berasumsi bahwa orang yang memutuskan untuk tidak punya anak hanya menyembunyikan ketidakmampuan mereka untuk bersalin.

“Ada yang bilang 'childfree, bilang aja mandul.' Itu dua hal berbeda, ketika kita childfree, kita mengambil keputusan itu secara sadar tanpa paksaan pihak manapun, apapun keadaan biologis kita.

“Kami memilih untuk tidak punya anak. Tapi ketika childless, nah ini adalah orang-orang yang ingin punya anak. Tapi mungkin ada gangguan kesehatan atau hal-hal yang membuat mereka belum bisa punya anak,” katanya.

Suami Chibi, Arief, juga menambahkan bahwa pada intinya, childfree adalah pilihan. Sama saja dengan pilihan seseorang yang ingin mempunyai anak. Sebab, keduanya memiliki konsekuensi dan tantangan masing-masing.

“Itu bukan untuk saling disalahkan atau dipaksakan, biarlah orang memilih sebagaimana halnya kita punya selera makan. Itu pilihan. Bukan berarti kemudian kita bilang paling benar. Sudah jalani masing-masing saja,” ujar Arief.

Mengapa masyarakat Indonesia masih menganggap childfree tabu?

Pakar sosiologi Universitas Indonesia yang kini menjabat sebagai Peneliti dan Pengajar Tetap Vokasi UI, Devie Rahmawati, mengatakan bahwa masyarakat Indonesia sangat kompleks.

Ia mengatakan bahwa tradisi dan kultur kental turut membuat childfree banyak ditentang.

“Walaupun diskursusnya sekarang naik, belum tentu di lapangan praktiknya terjadi. Karena kompleksitas masyarakat kita sangat tinggi,” kata Devie.

Menurut dia, Indonesia tidak akan menghadapi masalah populasi menua seperti China ataupun Jepang dalam waktu dekat. Untuk sampai pada titik itu, kata Devie, Indonesia akan memerlukan waktu 40-50 tahun.

“Karena kecendrungan kompleksitas tradisi lalu sosialnya, makanya masih tabu. Tapi tadi ketika semua orang sekarang cara pandangnya sudah terbuka. Akibat teknologi dan informasi maka perubahan perilaku itu juga bisa dengan cepat terjadi,” jelasnya.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, mengatakan fenomena childfree dapat menimbulkan krisis demografi seiring berjalannya waktu.

"Jelas akan mengancam demografi, krisis demografi terjadi karena sebentar lagi orang tua jumlahnya sebanyak," kata Hasto kepada media pada Kamis (16/2)

Hasto menyatakan jumlah lansia yang semakin banyak ditambah dengan kondisi kelompok muda tidak produktif akan berprevalensi terhadap krisis ekonomi.

"Apalagi yang muda tidak produktif dan yang tua banyak, sedangkan yang tua rata-rata pendidikannya 8,3 tahun," ujarnya.

Meski begitu, senada dengan Devie Rahmawati, ia memperkirakan Indonesia masih jauh dari krisis demografi tersebut.

"Tapi saya yakin Indonesia tidak akan terjadi, masih butuh waktu 50 tahun dari sisi demografi," ungkap Haryo.

Untuk saat ini, Kei Savourie masih menganggap fenomena childfree masih sulit diterima oleh masyarakat.

Menurutnya, pasangan suami-istri yang memilih untuk tidak punya anak akan selalu lebih sedikit dibandingkan pasangan yang punya anak di Indonesia, sama seperti halnya orang yang memilih untuk menjadi vegetarian.

“Karena childfree itu pilihan hidup sama seperti yang lainnya. Ada orang yang ingin kerja, ada orang yang ingin dagang. Ada orang yang ingin menikah, ada yang enggak ingin menikah, Ada orang yang ingin punya anak, ada yang enggak ingin punya anak.

“Ya, bebas-bebas saja. Selama itu memang keputusan yang membuat Anda bahagia,” kata Kei.