Paus Fransiskus lakukan 'ziarah penebusan dosa' ke Kanada, ajukan maaf atas kekerasan sekolah Katolik pada anak-anak suku asli

Sumber gambar, Reuters
Paus Fransiskus akan memulai kunjungan bersejarah pimpinan gereja Katolik di Kanada, Senin (25/07). Dia akan menyampaikan permintaan maaf secara resmi ke masyarakat adat setempat atas kejahatan yang dilakukan para guru dan pengelola sekolah asrama Katolik pada masa lalu.
Paus Fransiskus, 85 tahun, menyebut kunjungannya ke Kanada merupakan "ziarah penebusan dosa".
Sebelum tiba di Kanada, dia berharap permintaan maaf dan kunjungannya akan membantu proses penyembuhan atas kesalahan yang dilakukan Gereja Katolik Roma kepada penduduk asli Kanada di masa lalu.
Rencana perjalanan Paus mencakup pemberhentian di provinsi Alberta, Quebec dan wilayah utara Nunavut.
Namun ada satu tempat yang tidak masuk daftar kunjungan Paus, yaitu British Columbia.
Padahal, pada musim panas lalu, di wilayah itu baru saja ditemukan sekitar 200 kuburan tanpa nisan di bekas sekolah asrama masyarakat adat yang dikelola Katolik. Temuan itu memicu seruan nasional untuk dilakukan rekonsiliasi. Paus akan berada di Kanada hingga 29 Juli mendatang.
Baca juga:
Mengapa Paus berkunjung ke Kanada?
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Kanada mengupayakan rekonsiliasi untuk memperbaiki hubungan antara kelompok adat, masyarakat non-pribumi dan pemerintah.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pada tahun 2015, kekerasan yang dialami para penyintas sekolah asrama Katolik menjadi sorotan tajam dalam laporan penting yang disusun Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada (TRC).
Sekolah-sekolah yang didanai pemerintah itu adalah bagian dari kebijakan yang bertujuan untuk mengasimilasi anak-anak pribumi dan menghancurkan budaya serta bahasa mereka.
Sekitar 150.000 anak-anak komunitas adat Kanada, seperti First Nations , Métis dan Inuit, diambil dari keluarga mereka selama periode tersebut dan ditempatkan di sekolah-sekolah ini.
Gereja Katolik Roma mengoperasikan hingga 70% dari sekolah itu. Ada lebih dari 130 sekolah semacam itu yang tersebar di seluruh Kadana. Penutupan sekolah yang terakhir terjadi tahun 1996.
Laporan TRC menyoroti kisah para penyintas sekolah yang mengalami begitu banyak tindakan pelecehan, penyakit, dan kekurangan gizi.
Komisi tersebut menyebut sistem sekolah asrama itu sebagai kebijakan "genosida budaya".
Salah satu bagian dari laporan itu dilabeli dengan kalimat "panggilan untuk bertindak". Draf itu berisi permintaan agar Paus memohon maaf atas tindakan Gereja Katolik dalam menjalankan sekolah itu.
Pada Mei 2021, dengan menggunakan teknologi radar penembus tanah, ditemukan bukti kuburan anak-anak tanpa nisan di bekas sekolah Tk'emlúps te Secwépemc, komunitas First Nations di British Columbia.
Penemuan ini menarik perhatian internasional dan memicu perdebatan panas di seluruh Kanada.
Komunitas First Nations lainnya mulai melakukan pencarian serupa di lokasi sekolah lain dan, hingga saat ini, lebih dari 1.000 kuburan telah ditemukan.
Berbagai temuan ini meningkatkan seruan dari para pemimpin adat agar Paus menyampaikan permintaan maaf secara resmi.
Pada bulan April, Paus Fransiskus telah meminta maaf kepada delegasi masyarakat adat yang melakukan perjalanan ke Vatikan. Saat itu dia di berkata bahwa sekolah asrama Katolik memicu rasa "sakit dan malu".
Paus berjanji untuk bertemu dengan masyarakat adat di Kanada dan membantu upaya rekonsiliasi.
Apa jadwal Paus di Kanada?
Selama di Kanada, Paus akan melakukan pertemuan secara pribadi dan juga menghadiri acara publik.
Pemberhentian pertama Paus adalah provinsi Alberta, di mana ia akan mengunjungi bekas situs Sekolah Ermineskin Indian Residential - salah satu yang terbesar di Kanada - di Maskwacis, sebuah komunitas First Nations di selatan kota Edmonton.
"Bagi para penyintas di seluruh wilayah, ini adalah kesempatan yang pertama dan mungkin yang terakhir, untuk menemukan penutupan bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka," kata Chief Randy Ermineskin dalam sebuah pernyataan.
"Ini akan menjadi proses yang sulit tetapi perlu."
Di Edmonton, Paus akan menghadiri misa dan mengunjungi sebuah gereja Katolik, the Sacred Heart Church of the First Peoples, paroki nasional pertama untuk masyarakat adat di Kanada.

Sumber gambar, Getty Images
Paus Fransiskus juga dijadwalkan akan mengunjungi Lac Ste Anne, situs ziarah tahunan utama - salah satu acara pertemuan Katolik terbesar di Kanada barat - di komunitas First Nations dan Métis yang terkemuka.
Pada Rabu mendatang, dia akan menyampaikan pidato publik di Kota Quebec, setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Justin Trudeau dan Gubernur Jenderal Mary Simon. Simon merupakan orang dari suku asli pertama yang memegang posisi itu.
Paus Fransiskus kemudian akan merayakan misa pada hari berikutnya di Sainte-Anne-de-Beaupre, sebuah situs ziarah bagi umat Katolik Roma di Sungai Saint Lawrence. Ibadah itu diperkirakan akan dihadiri 15.000 orang.
Kunjungan Paus akan diakhiri dengan penerbangan ke kota Iqaluit di wilayah utara Kanada, Nunavut.
Di sana, Paus dijadwalkan akan berbicara secara pribadi dengan para penyintas sekolah asrama dan menghadiri acara komunitas publik.
Kunjungan 'signifikan' setelah beberapa dekade
Para pemimpin masyarakat adat di Kanada telah menerima permintaan maaf Paus di Vatikan. Tetapi, banyak dari mereka yang berharap Paus melakukan sesuatu yang lebih besar.
Crystal Gail Fraser, asisten profesor sejarah dan studi pribumi Gwichyà Gwich'in di University of Alberta, mengatakan kunjungan Paus adalah tindakan yang "signifikan" - mengikuti beberapa dekade perjuangan dan seruan akan akuntabilitas dari masyarakat adat.
Fraser, yang juga duduk di lingkaran pemerintahan Pusat Nasional untuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Kanada, mengatakan dia mencari lebih dari sekadar permintaan maaf dari Paus Fransiskus.
"Seperti banyak waktu lain dalam sejarah Kanada, kami telah melihat permintaan maaf datang dan pergi," kata Fraser. "Jadi, saya akan mencari tindakan Gereja Katolik selanjutnya."
Ini termasuk kompensasi untuk para penyintas dan upaya merilis dokumen tentang mantan staf dan pendeta yang mengoperasikan sekolah-sekolah tersebut, katanya.
"Kami masih mencari kebenaran," ujar Fraser.
Beberapa pemimpin adat juga ingin agar Gereja Katolik meninggalkan sebuah doktrin - dikeluarkan oleh Paus dari tahun 1400-an - yang digunakan sebagai benteng pertahanan, yaitu "pembenaran hukum dan moral untuk perampasan kolonial" masyarakat adat.
Selain itu, Paus Fransiskus juga dikritik karena gagal memasukkan Tk'emlúps te Secwépemc dalam rencana perjalanannya meskipun ada undangan resmi.
Persatuan Kepala Suku Indian menuduh Paus menunjukkan "pengabaian terang-terangan" atas kejahatan yang dilakukan di sekolah-sekolah asrama masyarakat adat itu.
Tetapi mengingat usia lanjut Paus dan luas wilayah Kanada, Konferensi Waligereja Kanada, yang ditugaskan untuk merencanakan kunjungannya, mengatakan bahwa Paus akan berfokus pada "kelompok komunitas yang ditargetkan" meskipun ada beberapa permintaan untuk mengunjungi situs-situs di seluruh Kanada.
Paus Fransiskus baru-baru ini menghadapi masalah kesehatan, dan telah menggunakan kursi roda sejak Mei. Masalah kesehatan di lututnyajuga telah memaksanya untuk membatalkan perjalanan baru-baru ini ke Afrika.









