Mengapa lagu Natal 'All I Want for Christmas is You' menjadi hit setiap tahun?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Jeffrey Ingold
- Waktu membaca: 8 menit
Tiga dekade setelah pertama kali dirilis pada 1994, lagu All I Want for Christmas is You mendominasi tangga lagu selama musim liburan. Apa rahasia di balik kesuksesannya?
Selain pajak dan kematian, ada satu lagi hal yang pasti dalam hidup: lagu All I Want for Christmas is You yang dinyanyikan Mariah Carey terdengar tiap bulan Desember, terutama mendekati Natal.
Nyanyian khas penyanyi asal New York, AS itu terngiang-ngiang di pusat perbelanjaan, acara kantor, dan layanan streaming.
Dirilis 30 tahun yang lalu, All I Want for Christmas is You masuk ke jajaran lagu-lagu Natal legendaris seperti Blue Christmas, Rockin' Around the Christmas Tree, dan It's the Most Wonderful Time of the Year.
Pada awalnya, lagu yang ditulis dan diproduksi Mariah Carey bersama Walter Afanasieff hanya meraih sukses kecil ketika pertama dirilis pada 1994.
Di AS, lagu ini menduduki peringkat 12 di tangga lagu Radio Songs Billboard. Lagu ini meraih peringkat kedua di Jepang serta Inggris (dikalahkan Stay Another Day oleh band East 17).
Seiring berjalannya waktu, All I Want for Christmas is You kembali hadir setiap musim liburan dan kian populer.
Kini, lagu pop Natal itu sudah menduduki puncak tangga lagu di lebih dari 25 negara, termasuk AS dan Inggris.

Sumber gambar, Getty Images
Billboard pun secara resmi menobatkannya sebagai lagu liburan terbaik sepanjang masa dari segi komersial pada tahun 2023.
Keberhasilan dan daya tahan All I Want for Christmas is You bisa dibilang menakjubkan.
Beberapa pakar berusaha menjawab bagaimana lagu kesayangan Carey ini menjadi identik dengan Natal seperti halnya Sinterklas.
"Pada dasarnya lagu ini sangat menyenangkan," papar Dr Brittnay L. Proctor, profesor studi media dan budaya populer di The New School, New York.

BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.
Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

"Banyak lagu-lagu Natal tradisional sebenarnya tidak terlalu menyenangkan."
Bagi Dr. Proctor, All I Want for Christmas is You "mengambil ide lagu standar Natal" kemudian memberi inovasi dengan "secara luwes menyatukan elemen-elemen gospel, R&B, dan pop".
Dr. Proctor menyebut gubahan Carey ini "menyentuh gagasan semangat Natal" secara "tulus dan ceria".
Secara terpisah, jurnalis musik BBC, Kate Solomon, menggambarkan lagu ini sebagai "lagu pop yang sempurna. Kebetulan saja bertemakan Natal."
Memasukkan unsur Natal secara tepat
Menciptakan lagu Natal modern—yang kemudian diterima sebagai klasik—bukanlah perkara mudah.
Artis-artis seperti Taylor Swift, Justin Bieber, dan The Killers sudah mencoba melakukannya. Namun, lagu-lagu mereka gagal bertahan di telinga pendengar.
Nate Sloan, pakar musik dan pemandu podcast Switched On Pop, menjelaskan bahwa artis pop "harus berinovasi dan menciptakan suara-suara baru" dalam proses penulisan lagu.
Aturan "suara-suara baru" ini justru tidak berlaku ketika mereka ingin membuat lagu Natal yang sukses.
Sloan mengakui artis seperti Dua Lipa atau Bruno Mars sering kali merujuk ke suara-suara lama seperti disco atau new jack swing dalam musik mereka,
"Namun, lagu-lagu hit mereka harus terdengar baru dan segar... [sedangkan] ketika Desember tiba, justru tuntutan dari para pendengar adalah bernostalgia ke musik 1940-an dan 1950-an seperti Bing Crosby dan Brenda Lee," tutur Sloan.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sudah banyak artis pop kontemporer yang berusaha menciptakan lagu Natal orisinal dengan memasukkan suara-suara jadul dengan sentuhan modern
Ariana Grande, misalnya, berusaha melakukan ini lewat Santa Tell Me yang dirilis pada 2014. Akan tetapi, upaya meracik kedua unsur ini sering kali gagal.
Namun, All I Want for Christmas is You berhasil mengawinkan berbagai era dan genre musik. Sejak awal, Carey ingin agar lagunya terdengar abadi dan tidak terasa seperti hit 1990-an.
Carey pun merekam suaranya secara ganda dengan cara yang mirip dengan gaya produksi 'Wall of Sound' Phil Spector.
Secara spesifik, karyanya dengan Ronnie Spector dari Ronettes dan versi Sleigh Ride mereka.
Kritikus budaya pop Aisha Harris kepada BBC mengatakan All I Want for Christmas is You "terasa modern sekaligus nostalgia" berkat "instrumentasi, bunyi lonceng, dan harmoni yang jelas merupakan penghormatan kepada Christmas (Baby Please Come Home) yang dinyanyikan Darlene Love [diproduksi oleh Spector]."
Lagu ini terdengar seperti hit klasik yang abadi ketika pertama kali dirilis. Karena hanya diputar sekali setahun, lagu ini selalu terdengar segar.
Hal lainnya yang membuat All I Want for Christmas is You seolah berasal dari era musik lain adalah progresi akordnya.
"Sebagian besar lagu pop hit saat ini, seperti A Bar Song oleh Shaboozey, adalah lagu empat akord," ujar Sloan.
"Lagu-lagu liburan seperti The Christmas Song (Chestnuts Roasting on an Open Fire) memiliki akord kromatik kompleks yang terus berubah."
Sloan memperkirakan All I Want for Christmas is You memiliki tiga belas akord. Hal ini membuat para pendengar "merasakan lanskap harmonik yang berbeda".

Sumber gambar, Getty Images
Di luar kualitas lagunya, ada faktor-faktor penting lain yang membuat All I Want for Christmas is You menjadi lagu klasik musim liburan yang disukai banyak orang.
Faktor utamanya adalah artisnya sendiri.
"Mariah sangat cerdas. Dia sadar akan merek dagangnya," ujar Harris.
"Dia mencintai Natal, dan kebetulan sesuatu yang sangat dicintainya memberinya reputasi, aliran pendapatan, dan sumber daya yang berkelanjutan."
Dalam memoarnya tahun 2020, Carey mengungkapkan bagaimana "keluarganya yang berantakan" selalu merusak suasana Natal. Sejak kecil, dia bersumpah untuk "memastikan Natal sempurna setiap tahun" begitu dewasa.
Carey bahkan berusaha untuk mendaftarkan merek dagang julukan 'Queen of Christmas' alias Ratu Natal yang diberikan penggemarnya pada tahun 2022.
Namun, aplikasinya ditolak.
Promosi yang cerdik selama bertahun-tahun
Meningkatnya popularitas All I Want for Christmas is You sebagai lagu standar Natal secara signifikan terdorong lewat adegan klimaks film komedi romantis Love Actually yang dirilis 2003.
Dalam film itu, artis muda Olivia Olson membawakan lagu ini pada salah satu adegan akhirnya.
Love Actually dirilis ketika Carey berada pada titik terendah dalam karirnya: setelah debut filmnya, Glitter, gagal di pasaran.
Carey mengalami gangguan mental yang dipublikasikan secara luas. Dia pun menjadi sasaran lelucon para pembawa acara larut malam dan majalah tabloid.
Popularitas Carey di ambang kehancuran.
"Kesuksesan Love Actually benar-benar menjadikan lagu ini sebagai pilar dalam konteks lagu-lagu Natal," ujar Dr. Proctor.
Hubungan simbiosis antara kecintaan orang terhadap film dan kecintaan terhadap lagu ini pun berkembang.
"Lagu ini pun terus diputar di rumah-rumah orang setiap musim Natal," imbuhnya.

Sumber gambar, Getty Images
Sejak itu, Carey terus menemukan cara-cara baru dan inovatif untuk menjaga agar All I Want for Christmas is You tetap berada di hati dan pikiran orang-orang.
Pada tahun 2010, dia merilis album Natal kedua dengan versi baru dari lagu tersebut. Ada juga versi lainnya dengan Justin Bieber (2011), penampilan viral lagu tersebut dengan The Roots di acara Jimmy Fallon (2012), dan duet dengan Michael Bublé (2013).
Selain itu, lagu Carey itu juga ditampilkan dalam acara Carpool Karaoke yang bertabur bintang (2016), acara spesial Natal Apple TV (2020).
Carey bahkan menggelar residensi konser Natal tahunan di New York City yang berubah menjadi tur Amerika Utara dan Eropa sejak 2014 hingga sekarang.
Pada 2019, Carey memulai tradisi tahunan dengan mengunggah video di media sosial pada tanggal 1 November.
"Sudah waktunya!" ujar Carey untuk menandai dimulainya musim Natal.

Sumber gambar, Getty Images
Harris mengaitkan popularitas All I Want for Christmas is You yang terus meningkat dengan kepiawaian Carey dalam mengikuti perubahan cara orang mengonsumsi musik, khususnya layanan streaming.
"Sebagian besar bisnis dan tempat umum menggunakan platform seperti Spotify dan Apple untuk memutar lagu-lagu," ujarnya.
"Mereka memutar lagu yang sama berulang-ulang [setiap musim liburan."
Carey menjaga agar All I Want for Christmas is You tetap menjadi berita setiap tahun sehingga "[lagu itu] hampir selalu berada di puncak setiap daftar lagu."
Faktor kesuksesan lainnya yang kurang diperhatikan
Ada elemen penting lain dari All I Want for Christmas is You yang sering terlewatkan. Faktor ini menjelaskan mengapa lagu ini begitu berpengaruh terhadap para pendengar.
Elemen ini adalah intro lagu tersebut.
Dalam durasi 50 detik, vokal Carey yang lambat dan melismatik tidak hanya menarik perhatian, tetapi membuat pendengar "seolah memasuki ruang baru", ujar Sloan.
Pada akhir intro, suara lonceng kereta luncur dan drum masuk dengan "ritme triplet".
Sloan mengatakan suara ini terdengar seperti "seperti kuda atau kereta luncur yang berlari kencang dan riang".

Sumber gambar, Getty Images
Ahli musik itu menjelaskan unsur-unsur suara ini mengelevasi lagu Carey ini dari lagu-lagu lainnya.
"Kita tidak hanya memasuki dunia lagu ini, tetapi dunia musim ini yang berdiri terpisah dari apa pun yang Anda dengarkan," ujar Sloan.
Secara sonik, pendahuluan All I Want for Christmas is You mengawali periode liburan bagi banyak orang.
Itulah sebabnya intro lagu ini ditampilkan secara menonjol dalam setiap postingan "Sudah waktunya!"

Sumber gambar, Getty Images
Namun, yang terpenting, All I Want for Christmas is You menyentuh hati begitu banyak orang karena pesannya. Lagu ini menarasikan harapan dan optimisme pada musim spesial yang jatuh setahun sekali.
Bait-bait lagu menceritakan segala sesuatu yang tidak diinginkan Carey. Yang dia inginkan hanyalah kehadiran satu orang.
"Natal juga mengandung pesan optimisme. All I Want for Christmas is You secara gamblang mengandung semangat itu," ujar Solomon.
"Nuansa lagu ini begitu gembira. Semua orang yang pernah jatuh hati pasti dapat memahami perasaan lagu ini."
Pada tahun 2019, lagu Carey mencapai nomor satu di Billboard Hot 100 di Amerika Serikat.
Di sisi lain, banyak pendengar yang sudah menerima lagu ini di hati mereka jauh sebelumnya.
Carey boleh jadi gagal mendaftarkan merek dagang 'Queen of Christmas', tetapi popularitas All I Want for Christmas is You yang tak terbatas membuatnya selalu meratui musim liburan.
Versi bahasa Inggris dari artikel ini, Mariah Carey's I Want for Christmas is You went from modest 1990s hit to Christmas's defining song - here's why, dapat dibaca di BBC Culture.












