Imigran di AS diburu petugas ICE bahkan saat mereka membuang sampah

Agen ICE - satu mengenakan masker gas dan yang lain mengenakan masker wajah - menangkap seseorang yang tampaknya memegang semacam tongkat atau senjata.

Sumber gambar, Stephen Maturen / Stringer via Getty Images

Keterangan gambar, Petugas ICE menangkap seseorang yang tampaknya memegang semacam tongkat atau senjata.
    • Penulis, Valentina Oropeza
    • Peranan, BBC News Mundo
  • Waktu membaca: 7 menit

Pendeta Sergio Amezcua, pemimpin gereja injili God Speaks Today di Minneapolis, menerima panggilan darurat. Ada pemuda yang nekat melompat dari lantai tiga ketika melihat petugas berseragam tengah mencari migran ilegal di gedung tempatnya tinggal.

"Pemuda itu sedang mencuci di ruang binatu. Saat dia mendengar keributan di lorong, dia buru-buru memecahkan jendela dan melompat keluar untuk melarikan diri," ujar Amezcua (46) ketika dihubungi.

Usai upaya tersebut, pria itu berjalan sekitar satu kilometer dalam kondisi terluka untuk meminta bantuan. Beberapa tetangga akhirnya membukakan pintu rumahnya dan menolongnya, kata pemuka agama itu.

"Saat itu, ia tidak memakai sepatu atau kemeja, hanya mengenakan celana pendek dalam suhu di bawah nol derajat, mengetuk pintu, dan menangis."

Sejak pekan pertama Desember 2025 ketika petugas Imigrasi dan Penegakan Hukum Bea Cukai (ICE) gencar merazia di Negara Bagian Minnesota, Amezcua telah menerima banyak laporan telepon tentang kasus-kasus berbeda setiap harinya.

Pendeta Sergio Amezcua, yang memegang cangkir kopi dan mengenakan setelan jas biru tua serta dasi kuning, menyapa orang-orang di sekitarnya.

Sumber gambar, Iglesia Dios Habla Hoy

Keterangan gambar, Pendeta Sergio Amezcua tidak bisa melupakan beberapa kisah yang dia dengar tentang orang-orang yang mencoba menghindari ICE.

Amezcua semula juga merupakan pendatang. Ia lahir di Meksiko, tapi ia telah tinggal di Minnesota sejak 24 tahun lalu dan menjadi warga negara AS.

Lebih dari satu dekade lalu, ia mendirikan gereja yang menggelar ibadah dalam bahasa Inggris dan Spanyol untuk jemaat yang sebagian besar terdiri dari orang Latin.

Tak hanya rentetan aduan telepon, Amezcua juga menjadi saksi mata dari insiden yang sulit dilupakannya.

Salah satunya menimpa perempuan dari jemaatnya.

Di hadapan petugas ICE, perempuan itu berlutut dengan bayi di pelukannya sambil terus memohon agar suaminya tidak dibawa pergi.

Apa yang terjadi pada perempuan itu terekam dalam video dan viral di media sosial.

Kasus lain adalah pria yang bersembunyi di sebuah bangunan selama empat jam dalam suhu di bawah nol derajat untuk menghindari razia ICE.

"Mereka menelepon saya meminta bantuan untuk melacak anggota keluarga yang ditahan, untuk bertanya apakah kami bisa mendapatkan pengacara untuk mereka, atau meminta makanan, susu, dan popok," jelas Amezcua.

"Petugas ICE memburu orang biasa dengan tiba-tiba, seperti saat mereka keluar dari apartemen untuk membuang sampah. Ini mengerikan apa yang terjadi di Minnesota," imbuhnya.

Seorang pria di ruang gereja membawa kotak makanan. Ada kotak-kotak lain yang ditumpuk di sekitar ruangan, dan orang-orang berdiri di sekitarnya serta bekerja di latar belakang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Jemaat Gereja Injili God Speaks Today telah mengorganisir distribusi makanan untuk mereka yang terdampak oleh operasi ICE.

Pada Desember 2025, Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) mengumumkan lebih dari 2,5 juta migran ilegal akan meninggalkan AS pada 2025.

Lebih dari 605.000 di antaranya dideportasi, di tengah operasi nasional yang diluncurkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap imigran ilegal.

Minnesota menjadi target

Minnesota menjadi salah satu negara bagian yang disasar dengan penempatan petugas ICE terbesar dibandingkan negara bagian lain.

Padahal menurut perkiraan dari Migration Policy Institute, jumlah imigran ilegal di Minnesota tercatat tidak sampai 1% dari sekitar 14 juta imigran ilegal di seantero AS.

Pejabat terkait berkata inisiatif yang diberi nama "Operation Metro Surge" bertujuan untuk memulihkan keamanan publik dengan menangkap dan mendeportasi imigran ilegal yang memiliki catatan kriminal. Dalam operasi ini, kekerasan selalu terjadi.

Seorang wanita yang mengenakan pakaian musim dingin berlutut di depan monumen yang dihiasi dengan bunga. Dia dikelilingi oleh orang-orang yang membawa spanduk.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Demonstrasi digelar setelah pembunuhan dua warga negara AS oleh agen federal baru-baru ini.

Seperti yang terjadi bulan lalu, dua warga negara AS di Minneapolis ditembak dan dibunuh oleh agen federal. Akibatnya, imigran dengan catatan bersih serta warga negara AS turut terjebak dalam penindakan tersebut.

Taktik pemerintahan tersebut telah memicu ribuan orang di seluruh negeri untuk turun ke jalan dan melancarkan aksi protes.

Sepak terjang ICE ini kian disoroti dan makin memicu kekecewaan yang meluas. Terlebih ketika ada petugas ICE yang tertangkap kamera sedang memegang Liam Conejo Ramos, anak laki-laki berusia lima tahun yang ditangkap bersama ayahnya, Adrian Conejo, pada 20 Januari lalu.

"Mengapa mereka menangkap anak berusia lima tahun? Jangan bilang anak ini akan diklasifikasikan sebagai penjahat kekerasan," kata Zena Stenvik, pendidik senior.

"ICE TIDAK menargetkan seorang anak," bunyi pernyataan yang diunggah Departemen Keamanan Dalam Negeri di media sosial untuk menanggapi situasi tersebut.

Beberapa hari kemudian, Liam dan ayahnya dibebaskan dari pusat penahanan di Texas dan kembali ke Minneapolis.

Namun banyak yang mengaku rasa takut masih besar menghantui, meski dilaporkan ada penarikan sebagian personel ICE dari negara bagian tersebut sebagai respons terhadap protes massal.

Liam Conejo Ramos, yang mengenakan topi biru muda, terlihat bersama ayahnya yang mengenakan topi hitam, berdiri di luar apa yang tampaknya merupakan penjara. Keduanya tersenyum ke arah kamera.

Sumber gambar, Cortesía de la congresista Ilan Omar

Keterangan gambar, Liam baru berusia 5 tahun saat dia ditahan bersama ayahnya - dan kemudian dibebaskan.

Menurut Amezcua, banyak migran yang memilih untuk mengurung diri di rumah dan membatasi pergerakan mereka untuk menghindari pertemuan dengan patroli ICE.

"80% jemaat tidak berkumpul karena takut ICE. Saya berbicara tentang warga negara, orang-orang yang legal, karena mereka telah menangkap warga negara begitu saja dan orang-orang tidak ingin anak-anak mereka mengalami trauma dari pengalaman itu," kata Amezcua.

Pendeta yang telah menjadi warga negara AS dan anak-anaknya lahir di AS ini juga turut merasakan ketakutan bahkan di dalam rumahnya sendiri.

"Ketika paket Amazon tiba di rumah saya, kurir sering menutupi wajah mereka karena cuaca dingin, dan putri-putri saya menjadi takut karena mereka mengira itu adalah ICE."

"Trauma ini bersifat kolektif dan mempengaruhi semua orang, tidak hanya migran tetapi juga orang-orang yang lahir di sini."

'Kami menolong siapa saja yang membutuhkan'

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sejak ICE mulai berpatroli di jalan-jalan Minneapolis, Amezcua juga bertindak menyalurkan bantuan.

Berbekal pengalaman mengoordinasikan bantuan kemanusiaan bagi anggota gereja selama masa lockdown saat pandemi Covid, ia kini memimpin operasi menyalurkan makanan kepada migran yang takut ditangkap di jalanan dan kemudian dideportasi ke negara asal mereka.

Bantuan tersebut diumumkan melalui akun media sosial gereja. Ia mengundang orang untuk mendaftar dan menerima donasi makanan dalam tujuh hari ke depan.

"Kami mendukung lebih dari 100.000 orang di komunitas kami, mendistribusikan antara 175 hingga 200 ton makanan per minggu," jelasnya. Ia menambahkan bahwa makanan tersebut dibiayai oleh anggota gereja, bank makanan, dan yayasan yang mendukung mereka.

Amezcua berkata gereja melatih relawan yang bersedia mendistribusikan makanan. Saat ini, 4.000 orang membantu upaya ini, meski operasinya seringkali berisiko.

"Saya tidak bisa memberikan detail, tetapi jika mereka melihat ICE mengawasi mereka, mereka berbalik dan tidak mengantarkan makanan."

Bantuan untuk sebuah keluarga biasanya berisi sayuran, buah-buahan, pasta, saus, protein, susu, dan keju.

"Isi bantuannya sedikit berbeda setiap hari, tetapi termasuk: tortilla, tepung, adonan, minyak, gula, garam, sabun, popok, susu formula, dan kertas toilet."

Tantangan lainnya, bukan hanya pada distribusi melainkan juga pada penyimpanan bantuan tersebut. "Ada banyak bantuan yang tersedia, tapi kami tidak punya tempat untuk menyimpan semua bahan baku itu," katanya.

Jemaat tidak hanya menghindari pergi ke supermarket. Banyak di antara mereka juga menghentikan anak-anak mereka untuk pergi ke sekolah dan tidak pergi ke rumah sakit untuk berobat.

"Ini adalah upaya bersama," kata pendeta. "Kami di sini untuk membantu, bukan untuk menentang pemerintah. Kami tidak menanyakan siapa yang memiliki dokumen. Siapa pun yang meminta bantuan, kami bantu."