'Saya terus memimpikan wajah suami saya yang hilang' - Trauma korban banjir di Sumbar

Sumber gambar, Halbert Chaniago
Banjir bandang dan lahar di sejumlah wilayah di Sumatra Barat telah menyebabkan setidaknya 61 orang meninggal dunia sampai Sabtu (19/05). Sejumlah orang dinyatakan hilang, termasuk suami Ritawati yang bernama Sahar, warga Jorong Galuang, Kecamatan Sungai Puah, Kabupaten Agam.
Saat ditemui di tempat pengungsian, Rabu (15/05), Ritawati, 64 tahun, tengah meluruskan badannya di atas kasur.
Dia masih mengeluh sakit pada lengan kanannya akibat terbentur benda keras saat banjirmenghantam rumahnya Sabtu (11/05) lalu.
Petang itu perempuan yang akrab disapa Rita itu terlihat berkelakar dan kadang-kadang mengumbar tawa bersama pengungsi lainnya. Ada kesan bahwa pengalaman horor yang menimpa dia dan keluarganya tiga hari sebelumnya tak berdampak pada dirinya.
Tapi itu hanya yang tampak di permukaan. Faktanya, pikiran Rita masih disergap kengerian dan perih saat dirinya tengah sendiri menjelang tidur malam.
"Setiap ingin tidur saya selalu teringat wajah suami saya," ungkapnya dengan tekanan suara datar.
"Sampai hari ini dia belum ditemukan," tutur Rita merujuk suaminya yang bernama Sahar berusia sekitar 60-an tahun.
Ketika hujan deras disertai petir menggelegar di malam nahas itu, mereka tengah bersiap tidur. Rumah mereka tak jauh dari aliran sungai yang membelah kampungnya.
Ketika itu Rita sedang tidak enak badan lantaran masuk angin. Dia meminta tolong suaminya untuk memijat punggungnya.
Lalu terdengar bunyi "geluduk, geluduk" dan sekonyong-konyong bah menerjang dan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu kerasnya terjangan bah itu, tembok rumah mereka jebol. Lemari kayu di ruangan kamar lalu jatuh dan sempat menjepit Rita dan suaminya.
Belum lagi kayu gelondongan dan atap seng yang berjatuhan dan diseret banjir. Dalam sekejap mata, mereka pun terseret banjir.
"Terus ibu bilang 'Allahu Akbar, Allahu Akbar', dan terus ibu menoleh, bapak udah enggak ada lagi," ungkapnya masih dengan intonasi datar.

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, Getty Images
Di tengah kekalutan yang berlangsung cepat itu listrik tiba-tiba padam. Suasana menjadi gelap gulita.
"Tolong, tolong, Allahu Akbar," Ritawati berusaha bertahan dari arus deras yang seperti tak habis-habisnya itu.
"Ya Allah susutkan air ini."
Banjir akhirnya surut. Rita bertahan dengan berpegang pada gelondongan kayu yang diseret arus air.
Teriakan "minta tolong" Ritawati akhirnya didengar seorang warga. Dalam kondisi tangan kanannya yang sakit, dia kemudian diselamatkan dengan digendong ke lokasi yang lebih aman.
Ketika itu jarum jam menunjuk angka satu dini hari malam.
Lalu pikirannya kembali teringat suaminya, Sahar. Dia bertanya ke sana-kemari tapi hasilnya nihil. Suaminya kemudian dinyatakan hilang.
"Sampai hari ini keberadaan suami saya belum diketahui," ujarnya kepada wartawan Halbert Chaniago yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (15/05).
"Saya masih berharap dia selamat dan kami bisa berkumpul kembali," lanjutnya seraya menambahkan, salah-satu anak lelakinya yang tinggal di luar kota akan tiba dan akan berusaha mencari ayahnya.

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

Sumber gambar, AFP
'Saya tidak mau tinggal di sini, saya trauma'
Walaupun berusaha mengalihkan pikirannya, Ritawati sulit mengenyahkan trauma, utamanya saat mendengar gelegar petir dan suara hujan deras.
Yang bisa dilakukannya, tentu saja, berusaha menutup rapat-rapat telinganya.
"Pokoknya saya merasa takut," ujar Rita.
Ditemui wartawan di lokasi pengungsian, Rabu (15/05), Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengeklaim pihaknya sudah memberikan pemulihan trauma (trauma healing) kepada korban yang terdampak.
Tak semata soal suara gemuruh petir atau hujan deras, Rita pun berniat untuk pindah ke tempat lain yang jauh dari gunung, lantaran "enggak sanggup lagi".
"Kalau sudah selesai urusan ini, ibu tidak mau tinggal di sini. Pokoknya mau keluar dari daerah sini.
Keinginan Rita untuk pindah ke tempat lain yang dianggapnya lebih aman, sepertinya sejalan dengan rencana pemerintah.
Seperti diketahui, pemerintah berencana memindahkan atau merelokasi warga yang rumahnya terletak di pinggir sungai.
Hal itu dilakukan agar mereka tidak lagi menjadi korban saat ada banjir atau lahar dingin. Sebagian besar korban yang terdampak adalah masyarakat yang tinggal di pinggir sungai, termasuk keluarga Ritawati.

Sumber gambar, Getty Images
Sebelumnya, Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto menyatakan bahwa pihaknya memang berencana untuk merelokasi masyarakat yang terdampak bencana banjir lahar dingin tersebut.
"Kita akan data dan nanti akan dilakukan relokasi untuk warga yang terdampak bencana banjir lahar dingin ini," katanya.
Menurutnya, opsi untuk melakukan relokasi tersebut sudah harus dilakukan. Karena, dengan banyaknya korban tersebut pemerintah harus bergerak cepat.
"Untuk lokasinya nanti akan kita bahas bersama Kementerian PU dan juga Pemerintah Provinsi Sumatera Barat," lanjutnya.
Bagi Ritawati, rencana pemerintah itu seperti berkah, setidaknya agar dirinya tak terus didera trauma.
"Meskipun [rumahnya yang rusak] akan diperbaiki oleh pemerintah, saya tidak mau lagi. Karena saya sudah sangat trauma dengan kejadian kemarin itu," akunya.
Wartawan di Sumatra Barat, Halbert Caniago, berkontribusi untuk liputan ini










