Kisah bocah Palestina yang ditangkap Israel - 'Ibu, saya ada di ruang interogasi'

- Penulis, Muhannad Tutunji
- Peranan, BBC Arab
- Melaporkan dari, Tepi Barat
Karim adalah satu dari 260 warga Palestina di Tepi Barat yang ditangkap oleh tentara Israel selama pekan pertama jeda pertempuran di Gaza yang kini telah berakhir, menurut data dari NGO lokal, Palestinian Prisoners’ Club. Pihak berwenang Israel tidak membantah angka tersebut.
Seorang ibu enam anak di Palestina, Falestin Nakhle, jatuh pingsan.
Kami berada di ruang tamunya ketika dia menerima sebuah telepon dari anaknya Karim, 12 tahun, yang mengabarkan sedang berada di dalam tahanan Israel.
Wajah Nakhle tiba tiba tampak pucat, basah karena air mata, dan jari-jarinya membeku.
Perempuan itu baru saja berbicara lewat telepon dengan putranya Karim kurang dari satu menit.
"Halo? Karim? Apa yang terjadi padamu?"
"Ibu, saya [Karim] ada di ruang interogasi."
“Mereka masih menyelidiki seorang anak berusia 12 tahun?” Nakhle bertanya, mengarahkan pertanyaannya pada petugas.
"Itulah hukumnya," jawabnya [petugas]. “Itulah hukumnya.”
"Apakah ada seseorang yang bersamanya [Karim]?"
"Saya [petugas] bersamanya."
"Ketika Anda menangkap seseorang yang berusia 18 tahun, Anda mengizinkannya membawa ayah atau pengacaranya. Namun seorang anak berusia 12 tahun - seorang anak kecil - Anda membawanya dan menangkapnya sendirian?"
"Dia baik-baik saja. Kami akan terus mengabarimu."
"Kapan dia akan dibebaskan?"
Petugas itu lalu menutup telepon.

Sumber gambar, Getty Images
'Sedikitnya 260 warga Palestina ditahan'
Karim ditahan oleh tentara Israel di Tepi Barat selama pekan pertama jeda pertempuran di Gaza.
Sebuah NGO lokal, Palestinian Prisoners' Club, menyatakan setidaknya 260 warga Palestina telah ditahan di Tepi Barat dalam periode yang sama.
Pihak berwenang Israel yang dihubungi BBC tidak membantah angka tersebut.
Angka tersebut melebih jumlah tahanan Palestina yang dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan pembebasan sandera Israel dan Hamas.

Keluarga Karim terbiasa berselisih dengan pihak berwenang Israel.
Empat saudara laki-laki Karim, berusia 17-25 tahun, kini berada di balik jeruji besi.
Tiga di antara mereka tidak dikenakan tuntutan, sementara satu lainnya menjalani hukuman penjara selama 15 bulan karena melakukan penghasutan di media sosial.
Namun keluarga itu tidak pernah menyangka kalau putra bungsu mereka juga ditahan.
Pamannya bocah itu, Msalam Ghawanmeh, mengatakan pada pukul enam pagi puluhan pasukan Israel memaksa masuk ke dalam rumahnya di kamp pengungsian Jalazone, sebelah utara Ramallah.
Rekaman yang diambil secara diam-diam oleh seorang tetangga melalui jendela lantai dua - telah diperiksa oleh BBC Verify - menunjukkan pasukan bersenjata menuju ke dalam rumah.
Senapan mesin 'Carlo'
Penggerebekan itu merujuk pada sebuah video yang menampilkan Karim tengah bermain dengan 'Carlo' - senapan mesin ringan buatan, yang biasanya diproduksi di bengkel kecil Palestina.
Karim mengatakan seorang teman dari saudara laki-lakinya menemukan senjata itu di dalam tas di bawah pohon zaitun.
Mereka memfilmkan diri mereka sendiri bermain dengan senjata tersebut, kemudian menyerahkan ke polisi.
Karim berada di rumah ayahnya saat penggerebekan berlangsung.
Seorang petugas menelepon dan meminta ayah Karim untuk menyerahkan putranya kepada tentara.
Sang ayah lalu membawa anaknya ke pusat penahanan di permukiman Israel terdekat dengan harapan dapat membawa Karim kembali setelah interogasi singkat.
Namun, Karim malah ditahan tanpa dakwaan.
Kamp pengungsi Jalazone

Di Desa Jalazone yang menyerupai labirin, sulit untuk menemukan laki-laki atau remaja pria yang tidak pernah ditangkap atau ditahan.
Tidak jauh dari sana, di dalam sebuah rumah besar yang baru dibangun di pinggiran kamp, Iham Nahala, berusia 18 tahun, melangkah ke ruang tamu sambil membawa makanan ringan baklava dan cangkir kecil kopi Arab yang mengandung rempah kapulaga di atas nampan.
Tetangga Nahala datang menyambutnya pulang.
Penahanan administratif
Iham ditahan selama 14 bulan tanpa persidangan atau dakwaan, atau yang dikenal sebagai penahanan administratif. Iham adalah satu dari sekian banyak warga Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran pada hari Minggu.
Dokumen-dokumen pemerintah Israel mendeskripsikan pelanggaran yang dia lakukan adalah "merugikan keamanan daerah setempat".
Baca juga:
Usai dibebaskan, Iham Nahala mengaku kini ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan bergabung dengan pabrik baja milik keluarganya, namun dia khawatir akan kembali dipenjara.
“Saya sudah berjanji kepada ibu bahwa saya tidak akan keluar rumah jika lewat tengah malam, dan jika saya melihat tentara Israel, saya akan pergi,” katanya.
Pembebasan tahanan Hamas
Di Ramallah, Menteri Otoritas Palestina yang mengurus perkara tahanan, Qadora Fares, terlihat tengah merokok di kantornya sambil mempelajari catatan penjara terbaru.
Sebuah TV besar tergantung di atas mejanya, menayangkan liputan berita mengenai negosiasi untuk melanjutkan jeda pertempuran di Gaza.
Perannya agak berbeda dengan sebagian besar rekan-rekan internasionalnya.

Sumber gambar, Getty
Alih-alih menjalankan atau mereformasi penjara yang dikendalikan oleh Pasukan Pertahanan Israel, ia berkampanye untuk mengeluarkan sebanyak mungkin narapidana.
Dia menghabiskan sepekan terakhir berbicara langsung dengan pimpinan Hamas tentang warga Palestina mana yang harus mereka dorong untuk dibebaskan dalam pembicaraan yang dimediasi dengan pemerintah Israel.
Bagaimana dia memberikan advokasi agar para pemimpin faksi militan, anggota senior Hamas, dan terpidana pembunuh – meskipun tidak ada yang termasuk dalam kesepakatan ini – untuk dibebaskan dari penjara?
“Saya meminta semua orang untuk melihat realitas konflik ini dan melihat para tahanan ini sebagai pejuang kemerdekaan,” kata Fares.
“Ini merupakan prasyarat untuk setiap perundingan damai.”

Pandangan Fares dianut secara luas di wilayah Palestina. Setiap malam, banyak orang di Ramallah berkumpul untuk menyambut bus Palang Merah membawa tahanan yang dibebaskan.
Ini terlihat seperti parade kemenangan, dengan nyanyian dan beberapa pengibaran bendera Hamas.
Namun bagi pihak berwenang Israel – dan banyak negara di seluruh dunia – pandangan ini menyinggung dan berbahaya.
Mereka melihat para tahanan sebagai teroris yang bertekad menghancurkan negara Israel, dan serangan tanggal 7 Oktober sebagai bukti nyata ancaman yang ditimbulkan oleh beberapa tahanan tersebut.
Serangan halte bus
Para pejabat Israel mengutip contoh lain yang baru terjadi pada Kamis pagi.
Tiga orang tewas di Yerusalem dan sedikitnya 16 lainnya terluka saat dua bersaudara dilaporkan melepaskan tembakan di halte bus di lingkungan Yahudi ortodoks.
Ini bukan pertama kalinya wilayah tersebut menjadi sasaran.
“Mereka tampaknya adalah agen Hamas,” kata Itamar Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, kepada wartawan.
“Mereka berbicara di sini dengan dua suara: satu suara gencatan senjata, dan yang kedua suara teror.”

Sumber gambar, Getty Images
Kembali ke rumah di Jalazone
Kembali ke Jalazone, Karim kini telah di rumah. Keluarganya merasa lega namun masih kaget.
Di bawah pengawasan neneknya, Karim terlihat bersemangat, meski lelah.
Dia menunjukkan tanda warna merah muda di bagian belakang leher dan kaki kanannya. Dia mengatakan telah dianiaya, ditampar, dan dipukuli.
“Saya khawatir, ketika saya sudah dewasa, mereka akan menahan saya lebih lama, seperti yang mereka lakukan terhadap saudara-saudara saya,” katanya kepada kami.

Selama tujuh jam dalam tahanan, Karim mengatakan dia disuruh menonton rekaman kamera keamanan yang menunjukkan dua anak Palestina dibunuh oleh pasukan Israel awal pekan ini.
Karim mengatakan dia diperingatkan bahwa, jika dia melempar batu maka akan mengalami nasib serupa.
Keluarga tersebut mengatakan mereka diperintahkan untuk membayar sekitar Rp8,3 juta (2.000 shekel Israel) secara tunai. Mereka menunjukkan kepada kami apa yang mereka katakan sebagai tiket denda.
Ketika BBC meminta polisi Israel untuk mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerapkan pinalti ini, pasukan tersebut menjawab: "Kami menghargai pertanyaan Anda. Sayangnya kami tidak dapat membantu permintaan Anda saat ini karena kurangnya rincian."
'Apa yang Anda inginkan darinya?'

“Joe Biden, Benjamin Netanyahu, apa yang Anda inginkan dari seorang anak berusia 12 tahun?”, teriak paman Karim dalam bahasa Inggris yang terbatas.
"Tentara datang ke rumah ini untuk mencari seorang anak berusia 12 tahun. Apa yang Anda inginkan darinya? Apa yang dia lakukan? Dia sedang bermain di jalan. Dia membutuhkan ibunya."
Pihak berwenang Israel mengatakan 156 anak di bawah umur Palestina ditahan pada 1 September, termasuk 23 anak yang ditahan secara administratif.
Karim telah dilepaskan, namun seluruh komunitas kini hidup bukan karena takut untuk ditangkap, tapi karena mereka hidup dalam kepasrahan.
Laporan tambahan oleh Daniel Wittenberg.














