Jeda pertempuran Israel dan Hamas akan dimulai, bagaimana nasib RS Indonesia dan tiga WNI?

Sumber gambar, Reuters
Menjelang jeda pertempuran yang disepakati oleh Israel dan Hamas, pelayanan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza telah berhenti total. Sementara itu, pemerintah Indonesia berupaya mengevakuasi tiga WNI relawan RSI dari Gaza.
Ketua Presidium MER-C, organisasi pengelola RSI, Sarbini Abdul Murad mengatakan hal itu terjadi karena RSI telah diduduki oleh tentara Israel.
“Pelayanannya [RSI] sudah berhenti total, sudah tidak ada lagi orang di situ, sudah dikosongkan, sudah diduduki tentara Israel,” kata Sarbini saat dihubungi BBC News Indonesia, Kamis (23/11).
Sarbini menambahkan, RSI juga mengalami banyak kerusakan akibat serangan-serangan Israel, seperti plafon yang hancur, kaca pecah, dan kabel listrik berjatuhan.
Sementara itu tiga warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi relawan MER-C di RSI telah mengungsi.

Sumber gambar, Getty Images
Sarbini mengatakan, mereka bersama sekitar 600 warga dan pasien RSI telah dipindahkan ke selatan Gaza, tepatnya di wilayah Rafah.
“Mereka diungsikan ke salah satu sekolah di Rafah, di samping rumah sakit Eropa di sana,” kata Sarbini.
Sarbini mengatakan kondisi ketiga WNI tersebut sehat secara fisik, walaupun mengalami sedikit tekanan psikologis akibat suara bom dan rangkaian peristiwa yang terjadi di RSI.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Apakah ketiga WNI itu akan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman atau pulang ke Indonesia?
Sarbini mengatakan bahwa hal itu tergantung perkembangan yang terjadi di sana.
“Karena kami maunya mereka tetap di sana untuk bisa menghandle RS, jadi kita masih punya rencana-rencana besar di sana.
"Tapi kalau misalnya rumah sakit sudah tidak beroperasi dan mereka tidak ada di sana, kita juga akan berpikir ulang di mana posisi mereka. Masih kita diskusikan sama teman-teman yang lain,” katanya.
Adapun, Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan KBRI Kairo dan KBRI Amman, untuk mengupayakan evakuasi ketiganya dari Jalur Gaza menuju Mesir.
"Evakuasi akan kita upayakan secepatnya," kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, Kamis (23/11) malam, seperti dikutip dari kantor berita Antara.
Sama seperti evakuasi sejumlah WNI sebelumnya, kata Judha, proses evakuasi warga negara asing dari Gaza tak mudah karena harus melibatkan banyak pihak.
Sebelum diizinkan keluar dari Gaza, warga negara asing termasuk WNI, harus dimasukkan namanya dalam daftar evakuasi yang telah diperiksa dan disetujui oleh otoritas Mesir, Israel, Palestina.
"Prosesnya memang kompleks, tetapi akan kita upayakan," tegas Judha.

Sumber gambar, ALEXIS AUBIN/AFP via Getty Images
Kesepakatan Israel dan Hamas untuk melakukan jeda pertempuran selama empat hari dan juga pertukaran sandera diperkirakan akan mulai berlangsung pada Jumat (24/11).
Jeda pertempuran itu awalnya akan dimulai pada Kamis (23/11), namun sumber pemerintah Israel mengatakan kepada BBC bahwa kesepakatan itu akan tertunda.
Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati itu, 50 orang Israel yang disandera oleh Hamas akan dibebaskan. Sebaliknya 150 perempuan dan remaja Palestina di penjara-penjara Israel akan dibebaskan.
Hingga Rabu (23/11), Israel masih melakukan serangan ke wilayah utara Gaza, menurut kantor berita Palestina, Wafa. Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Riyad al-Maliki, mengeklaim 52 orang yang tewas di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara pada Rabu pagi.
Jika kesepakatan ini berhasil, maka akan menjadi jeda pertempuran pertama sejak awal perang yang dimulai dari invasi Hamas ke Israel pada 07 Oktober.
Berikut hal-hal yang sejauh ini diketahui dari kesepakatan kedua belah pihak:
Siapa tawanan yang akan dibebaskan?
Para pejabat Israel mengatakan sebanyak 50 sandera yang akan dibebaskan dari Gaza, semuanya perempuan dan anak-anak. Puluhan sandera ini diyakini diculik oleh pejuang Hamas lalu dibawa ke Gaza saat serangan 07 Oktober silam.
Di sisi lain, Hamas mengatakan 50 sandera yang akan dibebaskan nantinya ditukar dengan 150 perempuan dan anak-anak Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.
Kapan jeda pertempuran mulai berlaku?

Sumber gambar, Getty Images
Masih belum jelas kapan jeda pertempuran akan dimulai.
Awalnya perjanjian tersebut – yang mencakup jeda pertempuran selama empat hari – dijadwalkan berlangsung pada Kamis (23/11) pukul 10:00 waktu setempat.
Namun, seorang pejabat senior Israel mengatakan sandera yang ditahan di Gaza tidak akan dibebaskan sebelum hari Jumat (24/11).
Pemerintah Amerika Serikat berharap pembebasan sandera dapat dimulai pada Jumat, dan menekankan bahwa kesepakatan antara Israel dan Hamas "sesuai rencana".
“Kesepakatan telah dan tetap disepakati. Kedua pihak sedang mengerjakan rincian logistik akhir khususnya untuk hari pertama penerapannya,” menurut laporan yang mengutip juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Adrienne Watson.
“Tujuan utama kami adalah memastikan mereka [sandera] dibawa pulang dengan selamat. Hal ini berjalan sesuai rencana dan kami berharap penerapannya akan dimulai pada Jumat pagi.”
Sebelumnya, Qatar sebagai pihak mediator mengatakan, pengumumannya akan dilakukan dalam 24 jam ke depan.
Jeda tersebut akan berlangsung selama empat hari, dan "dapat diperpanjang" waktunya. Sebagaimana pihak Israel menyebutkan bahwa setelah 50 sandera dibebaskan, maka jeda pertempuran akan ditambah satu hari untuk setiap pembebasan 10 sandera berikutnya dan seterusnya.
Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani mengapresiasi Amerika Serikat dan Mesir karena telah membantu Qatar menengahi jeda pertempuran di Gaza.

Sumber gambar, JACK GUEZ/AFP via Getty Images
Ia berharap upaya tersebut akan membentuk "kesepakatan yang komprehensif dan berkelanjutan" yang akan "mengakhiri perang dan pertumpahan darah".
Perdana Menteri juga mengatakan bahwa ia berharap kesepakatan tersebut akan "mengarah pada pembicaraan serius untuk proses perdamaian yang komprehensif dan adil".
Apa saja hal lain yang diatur dari kesepakatan ini?
Qatar, yang menjadi penengah dalam kesepakatan tersebut, mengatakan bahwa sejumlah besar truk yang membawa bantuan, pasokan medis, dan bahan bakar akan diizinkan memasuki Gaza, yang sedang menghadapi situasi kemanusiaan yang mengerikan.
Bantuan bahan bakar - yang sangat dibutuhkan untuk generator rumah sakit, desalinasi air, dan fasilitas pembuangan limbah - hanya akan berlangsung selama jeda pertempuran.
Meskipun kesepakatan tersebut akan menghentikan sebagian besar operasi militer Israel dan memungkinkan orang-orang di Gaza melakukan perjalanan yang aman dari utara ke selatan.
Tapi, kesepakatan ini tidak akan mengizinkan ratusan ribu warga Palestina yang mengungsi dari utara untuk pulang ke rumah mereka.
Apakah ini akan menjadi akhir serangan Israel ke Gaza?

Sumber gambar, KENA BETANCUR/AFP via Getty Images
Israel bersikeras bahwa kesepakatan ini bukanlah akhir dari perang - yang "akan terus berlanjut" untuk membawa pulang semua sandera, "menuntaskan pemberantasan Hamas" dan memastikan "tidak ada ancaman baru" terhadap Israel dari Gaza.
Berapa banyak tahanan dari masing-masing pihak?
Hamas dituduh telah menyandera sekitar 240 orang Israel pada serangan 07 Oktober.
Di sisi lain, Israel mengumumkan daftar 300 warga Palestina yang dapat dibebaskan dari penjara Israel.
Mayoritas daftar tahanan ini adalah pria berusia 17-18 tahun.
Baca Juga:
Daftar itu meliputi nama, usia serta pelanggaran yang pernah dilakukan.
Mereka dipenjara karena tuduhan percobaan pembunuhan, pelemparan bom, membuat bahan peledak, melempar batu, memiliki hubungan dengan organisasi musuh, dan pembakaran dengan alasan nasionalis.
Namun perlu diingat, hanya 150 tahanan yang akan dibebaskan dalam kesepakatan jeda pertempuran pertama.

Sumber gambar, Alexi J. Rosenfeld/Getty Images
Human Rights Watch mengatakan kepada BBC bahwa hampir 7.000 warga Palestina ditahan di Israel. Jumlah itu termasuk 200 perempuan, dan sekitar 60 anak-anak.
Beberapa anak ditahan karena diduga melakukan pelanggaran yang "relatif kecil seperti melempar batu," kata Direktur Program HRW, Sari Bashi.
Ia menambahkan, anak-anak Palestina tunduk pada hukum militer, yang dapat membuat mereka "ditangkap di tengah malam... diinterogasi tanpa didampingi orang tua atau pengacara, dan ditahan dalam waktu yang lama untuk pelanggaran yang relatif kecil".
Israel juga mengatakan sampai pengumuman dipublikasi, pihaknya akan terus melakukan serangan darat dan udara di Gaza.
Bagaimana kondisi terkini, termasuk RS Indonesia?

Sumber gambar, Getty Images
Meskipun jeda pertempuran kemungkinan akan diumumkan kurang dari 24 jam, Israel masih melakukan operasi militer darat dan udara di Gaza.
Pemerintah Israel bersikukuh, ini bukanlah akhir dari perang, dan menegaskan kembali komitmennya untuk "menghabisi Hamas secara tuntas".
Israel mulai menyerang Gaza setelah para pejuang Hamas menyeberangi perbatasan pada tanggal 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 240 orang lainnya
Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas mengatakan lebih dari 14.000 orang - termasuk lebih dari 5.000 anak-anak - tewas dalam serangan Israel.
Serangan udara ini juga dilancarkan ke beberapa rumah sakit, termasuk RS Indonesia (RSI) di Gaza.
Organisasi pengelola RSI, MER-C, menyatakan bahwa situasi di sekitar fasilitas kesehatan tersebut kian mencekam.
"Kondisi sekarang makin suram, makin berbahaya," ujar Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, kepada BBC News Indonesia.









