'Saya meminta suami menerima orang lain dalam pernikahan kami' – Apa itu hubungan seksual terbuka?

Sumber gambar, Dokumen pribadi
- Penulis, Marina Rossi
- Peranan, BBC News Brasil
- Melaporkan dari, São Paulo
- Waktu membaca: 5 menit
Pada peringatan pernikahan ke-10 mereka, seorang penulis sekaligus seksolog bernama Ilana Eleá memberi usul kepada suaminya—ide yang akan mengubah pernikahan mereka secara fundamental. Eleá dan suaminya meninggalkan pernikahan monogami dan membuka kesempatan bagi orang lain bergabung dalam hubungan mereka.
Eleá adalah lulusan pendidikan terapi seks dari Institut Kontemporer Seksologi Klinis di Brasil. Dia tinggal di Swedia sejak tahun 2011.
Eleá telah meneliti hubungan seks terbuka selama beberapa tahun. Dia juga menulis buku berjudul Emma e o Sexo (Emma dan Seks), buku pertama dalam seri fiksi erotis.
Melalui karakter utama bernama Emma, Eleá mengeksplorasi sejumlah gagasan yang dia teliti.
Suami Eleá menerima usulan untuk menerima kehadiran orang lain dalam hubungan mereka. Pasangan ini merayakannya dengan minum sampanye.
Lima tahun setelahnya, Eleá dan suaminya menyebut diri mereka menjalankan hubungan "campuran". Mereka mengklaim pola hubungan itu "sukses".
Bagaimanapun, Eleá tidak memandang hubungan seksual terbuka sebagai sesuatu yang romantis.
"Sepertiga hubungan yang dibuka seperti itu berakhir," katanya.
"Tapi hal yang sama juga rata-rata dialami hubungan monogami. Dengan kata lain, itu tidak benar-benar penting. Jadi, lebih baik memilih format yang paling sesuai dengan diri Anda," kata Eleá.
Non-monogami yang disepakati bersama
Eleá menganut konsep non-monogami konsensual. Ini adalah istilah umum yang merujuk pada orang-orang yang memiliki sejumlah pasangan seksual. Konsep ini ditandai dengan "keterbukaan yang eksplisit" bagi semua pihak yang terlibat.
Oleh karena itu, para ahli menyebut jenis hubungan ini sebagai "non-monogami atau bertanggung jawab". Hubungan seksual terbuka seperti ini dianggap tak bisa disamakan dengan perselingkuhan.
"Konsep ini mencakup segala jenis hubungan yang disetujui oleh semua pihak dan yang membuat fleksibel, dalam berbagai cara dan tingkat, gagasan eksklusivitas yang diasumsikan, baik itu emosional, erotis, romantis, atau seksual," kata Eleá.
Eleá menanggap hubungan terbuka berbeda dengan poliamori.
"Hubungan terbuka biasanya memungkinkan kebebasan seksual tanpa romansa atau pertemuan kasual, tanpa jatuh cinta. Poliamori memeluk cinta dan gairah, termasuk yang disebut 'energi hubungan baru' dan kegembiraan jatuh cinta lagi," ujarnya.
Eleá mempraktikkan apa yang dia sebut sebagai "kesepakatan campuran, sensual, penuh cinta, dan empati".
"Saya memiliki satu kaki di poliamori. Tidak sepenuhnya, tapi dengan pemikiran bahwa mencintai dan memiliki hubungan romantis dengan lebih dari satu orang mungkin dilakukan," ujarnya.
Pikirkanlah hubunganmu
Menurut pengalaman Eleá, titik awal yang paling umum bagi pasangan yang membuka hubungan seksual mereka untuk orang lain adalah pendekatan yang disebut "jangan bertanya-jangan bercerita".
"Misalnya, 'Saya pikir eksklusivitas mungkin tidak mungkin atau diinginkan di antara kami. Tapi saya tidak ingin tahu. Jangan beri tahu saya, dan saya tidak akan bertanya,'" kata Eleá.

Sumber gambar, Erdark via Getty Images
Eleá memperingatkan, pola hubungan seksual yang melibatkan lebih dari orang sering gagal karena kurangnya kejujuran dan komunikasi.
"Yang dimaksudkan untuk mendekatkan orang justru menciptakan jarak," katanya.
Sebelum membicarakan kemungkinan membuka hubungan dengan pasangan, Eleá menyarankan untuk melakukan "inventarisasi emosional".
"Pikirkan tentang hubunganmu. Apa yang kurang? Apa keinginan dan batasmu? Tuliskan fantasi-fantasimu dengan jujur. Tidak ada yang akan melihatnya —ini hanya untukmu," katanya.

Sumber gambar, Getty Images
Membuka hubungan juga membutuhkan dialog dan empati.
"Ini momen yang sulit... terutama bagi mereka yang dibesarkan dengan keyakinan bahwa monogami adalah cara paling mulia untuk mencintai dan melambangkan rasa hormat dan kesetiaan antara orang yang saling mencintai," kata Eleá.
"Kesepakatan dibuat melalui percakapan: Sejauh mana kamu bersedia melangkah? Dengan siapa? Dan penting untuk tidak meremehkan batasan, tapi memahaminya," katanya.
Jaringan dukungan juga sangat penting, katanya. "Bacalah tentang topik ini, dengarkan podcast. Cari kelompok berdasarkan minat Anda," kata Eleá.
"Stigma itu nyata. Carilah bimbingan dari profesional yang memahami bahwa ini adalah cara yang sah untuk mengalami cinta," ucapnya.

Sumber gambar, Erik Thor/Personal archive
Eleá menambahkan bahwa membuka hubungan untuk memperbaiki apa yang rusak jarang berhasil.
"Lupakan saja," katanya. "Ini bukan terapi atau upaya terakhir. Keterbukaan biasanya terjadi secara sadar dan alami ketika hubungan baik, dan keduanya ingin memperbaikinya bersama-sama."
Benci dan harapan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Ketika Eleá pertama kali berbicara secara terbuka tentang perubahan dalam pernikahannya, dia menerima ribuan komentar kebencian.
"Beberapa di antaranya konyol: 'Kamu melakukannya karena tidak ingin kehilangan suamimu,'" kenangnya.
Namun, dia juga menerima dukungan, termasuk surat dari pasangan yang merasa termotivasi untuk membahas topik ini.
"Tidak ada yang dilahirkan monogami," argumen Eleá. "Tidak ada yang bertanya apakah kamu mau. Hukum, keyakinan, dongeng, ekspektasi keluarga - semuanya mengarah pada cinta yang eksklusif antara dua orang. Secara historis, pria memiliki kebebasan sementara wanita dihukum," jelasnya.
Sistem ini, katanya, terkait dengan warisan, agama, dan garis keturunan.
"Monogami wajib mengasumsikan monogami adalah baik, bersih, mulia, dan menstigmatisasi siapa pun yang menyimpang."
Jadi, apakah Eleá lebih bahagia sekarang? "Tidak diragukan," katanya.
"Tapi ini juga tentang siapa aku sekarang. Lima belas tahun yang lalu, setelah trauma dan pengkhianatan, aku tidak akan pernah siap. Eksklusivitas dulu membuatku merasa aman. Seiring waktu, hasrat memudar. Itu hal yang umum, 40% hubungan jangka panjang menjadi pernikahan tanpa seks."
Bagi dia, membuka diri adalah tentang kejujuran dan kebebasan.
"Mengapa cinta harus berakhir hanya karena orang-orang berpikir ada satu-satunya cara untuk mencintai?" tanyanya.

























