'Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah' – Kisah ibu dan dua anak di Kabupaten Bandung mengakhiri hidup diduga karena tekanan ekonomi

Sumber gambar, YULI SAPUTRA
- Penulis, Faisal Irfani
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 17 menit
Impitan ekonomi diduga menjadi pemicu utama di balik keputusan seorang ibu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengakhiri hidupnya dan dua anaknya. Para pengamat menilai ini adalah bukti kegagalan negara dalam menjamin kehidupan yang layak bagi masyarakat kelas bawah.
EN, perempuan 34 tahun, ditemukan tewas gantung diri di kusen pintu kamarnya. Dua anaknya yang berusia 9 tahun dan 11 bulan ditemukan tak bernyawa tak jauh dari sang ibu.
Kesimpulan sementara polisi kematian ketiganya bukan ulah orang luar, melainkan orang yang ada di lokasi kejadian.
Menurut polisi, kemungkinan besar sang ibu adalah pelaku penganiayaan terhadap kedua anaknya. Kesimpulan ini diperkuat dengan penemuan surat wasiat yang ditulis oleh sang ibu.
Surat itu mengungkapkan masalah keluarga, tepatnya kesulitan ekonomi, dan berisi pula permintaan maaf untuk seluruh keluarganya, termasuk kepada kedua anaknya yang telah meninggal.
Kasus bunuh diri dengan dugaan motif ekonomi tidak sekali ini saja terjadi, terutama dalam rentang 2023 sampai 2025.
Kematian ibu dan dua anak di Kabupaten Bandung memperlihatkan betapa jalan untuk menyelesaikan masalah sudah begitu "buntu," menurut sosiolog.
Sementara ekonom menyebut bunuh diri dengan faktor ekonomi yang berdiri di belakangnya sudah mengarah ke fenomena sosial. Maraknya kasus bunuh diri karena ekonomi memperlihatkan betapa realita di lapangan tidak seindah yang sering diklaim pemerintah.
Peringatan: Artikel ini mengandung konten bunuh diri. Jika Anda dalam kondisi depresi atau memiliki kecenderungan bunuh diri, mohon segera menghubungi layanan kesehatan jiwa terdekat.
'Saya melihat tali masih menjerat lehernya'
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Suasana sunyi di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada Jumat (05/09) dini hari mendadak pecah oleh teriakan minta tolong.
Teriakan itu berasal dari YS yang menemukan istrinya, EN, dan kedua anaknya, AA (9 tahun) dan AAP (11 bulan), dalam kondisi tak bernyawa.
Pada pukul 04.00 WIB, YS baru saja kembali ke rumah usai bekerja. Ketika mengetuk pintu, dia tak memperoleh jawaban seperti biasanya.
Dibantu tetangga, YS mengintip ke dalam rumah dan melihat tubuh istrinya sudah menggantung di kusen pintu kamar. YS histeris dan berusaha mendobrak pintu rumah kontrakan yang baru didiami kurang dari satu tahun itu.
Setelah pintu terbuka, YS melihat dua anak lelakinya juga sudah terbujur kaku.
Ketika mendengar kejadian tersebut, Ifan, teman dekat YS, bergegas mendatangi rumah YS.
Pria 40 tahun itu mendapati rumah dalam kondisi acak-acakan dengan jasad EN masih menggantung, sedangkan AA tertelungkup di dekat sofa dan AAP terlentang di ruang depan televisi.
"[Saya melihat] tali masih menjerat lehernya [anak-anak itu]," tutur Ifan kepada wartawan Yuli Saputra yang melaporkan untuk BBC News Indonesia saat ditemui di rumahnya, Minggu (07/09).
Mendapat laporan warga, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandung langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi menyimpulkan korban AA dan AAP dibunuh ibunya sendiri, EN. EN kemudian bunuh diri.
"Jadi, hasil olah TKP langsung, kami tidak menemukan adanya luka terbuka terhadap ketiga korban, termasuk juga pintu dan jendela masih dalam keadaan rapi dan terkunci dari dalam," papar Kasatreskrim Polresta Bandung, Kompol Luthfi Olot Gigantara.
Melihat temuan di TKP, Luthfi melanjutkan, polisi menyimpulkan sementara bahwa kematian ketiga korban ini "tidak dilakukan oleh orang luar, tetapi orang yang berada di dalam TKP."
"Kemungkinan besar yang melakukan tindakan penganiayaan atau kekerasan terhadap anak itu merupakan ibu dari korban sendiri dan adanya surat wasiat," jelas Luthfi.
Dia mengatakan surat wasiat yang disinyalir ditulis EN mengungkap permasalahan keluarga yang dia hadapi, sekaligus memuat permintaan maaf kepada seluruh keluarga—termasuk kedua anaknya yang meninggal dunia.
'Sudah lelah lahir batin'
Dalam surat yang telah beredar luas di masyarakat, EN mengutarakan kekecewaan terhadap suaminya, YS, yang dianggap selalu berbohong dan terlilit utang seolah tidak ada habisnya.
Surat yang dibikin dengan bahasa Sunda tersebut memuat pula rasa lelah EN akibat mengalami situasi penuh tekanan.
EN, di suratnya, mengatakan "sudah lelah lahir batin" serta "tidak kuat menjalani hidup seperti ini." Hidup yang EN maksud ialah "utang yang semakin hari semakin bertambah."
Sedangkan, EN menegaskan, "tidak tahu utang kepada siapa saja, berapa jumlahnya, dan untuk keperluan apa."
"Saya lelah punya suami yang selalu bohong, tidak ada sadarnya. Saya lelah terus-menerus disakiti hatinya, sudah jelas-jelas dikucilkan orang lain, diomongin, dibenci, padahal tidak merasa berbuat salah," tulis EN.

Sumber gambar, KOMPAS.COM/M. Elgana Mubarokah
Masih di surat yang sama, EN menjelaskan alasan mengambil jalan keluar tersebut. Dia berharap suaminya sadar dan tidak tega menyaksikan anak-anaknya sengsara.
"Saya harap, jika saya dan anak-anak sudah meninggal, dia akan sadar. Jika tidak sadar pun tidak apa-apa, yang penting tidak menyengsarakan anak-anak saya," tambah EN.
Kepada keluarganya, EN menyampaikan permohonan maaf lantaran merasa selalu menyusahkan orangtua dan kakak-kakaknya.
Permohonan maaf juga disampaikan ke kedua anaknya.
"Aa, Dede, maafkan Mamah. Jalannya harus seperti ini, karena Mamah sangat sayang. Daripada ditinggalkan oleh Mamah, kasihan nenek. Mamah lebih rela ke neraka daripada melihat Aa dan Dede sengsara. Aa dan Dede belum punya dosa. Biar Mamah saja yang menanggung dosanya ke neraka. Mamah tidak rela hidup terus-terusan susah," tandas EN.
"Maafkan Mamah tidak bisa memenuhi segala kebutuhan Aa dan Dede. Maafkan Mamah tidak bisa membahagiakan Aa dan Dede. Maafkan Mamah, Aa tidak jadi menari, ya. Maafkan Mamah. Aa dan Dede, insyaallah kalian akan masuk surga," pungkas EN.
'Kaget ada kejadian itu, ya Allah'
Salah satu warga Kampung Cae, Eti, menilai EN adalah pribadi yang ramah dan baik, meski sedikit tertutup.
Eti, yang mengaku tak terlalu dekat dengan EN, sama sekali tidak menyangka ibu dua anak itu mengalami kesulitan ekonomi, bahkan sampai terlilit utang.
"Enggak tahu punya kesulitan ekonomi, masalah utang juga. Kalau kami punya utang di bank emok—pinjaman informal. Dia enggak ikut pinjam ke bank emok. Kalau saya pinjam ke bank emok. Tetangganya juga pada hafal kalau sudah kenal," tutur Eti.
Eti mengaku bertemu EN terakhir kali pada Kamis (04/09) lalu, sehari sebelum kejadian. Saat itu, EN lewat di depan rumahnya dan bilang akan ke warung untuk membeli token listrik.
Kala itu, EN tidak memperlihatkan gelagat apa pun, menurut Eti.
Pada malam waktu kejadian, Eti juga tidak mendengar suara-suara yang mencurigakan kendati tembok rumahnya menempel langsung dengan kediaman EN.
"Tidak terdengar suara-suara. Padahal, satu tembok rumah saya dengan dia. Enggak ada terdengar suara gedebag-gedebug," Eti memberi tahu wartawan Yuli Saputra.
"Kedengarannya hanya suara orang gedor-gedor pintu. Saya keluar pas ada teriakan 'tolong, tolong'."
Kesan yang sama diucapkan Lilis, kerabat dekat suami EN.
Dia mengatakan sehari sebelum peristiwa naas, EN datang ke warungnya guna membayar utang. Biasanya, EN saban hari ke warung Lilis untuk belanja kebutuhan sehari-hari, tapi dua belakangan EN absen.
Tatkala berjumpa terakhir kali, Lilis mengamati wajah EN terlihat cekung. EN memberi tahu Lilis kalau dirinya sedang tidak enak badan.
"Tidak lama. Cuma sebentar ke sininya juga. Enggak ada yang aneh, biasa saja. Enggak terlihat murung. Cuma memang bilangnya [lagi] sakit perut, mencret," sebut Lilis ketika ditemui di warungnya, Minggu (07/09).
Lilis tidak menduga bahwa EN tengah tertekan secara ekonomi. Sebab, EN bahkan tidak pernah berutang ke warung Lilis.
Kalaupun berutang, EN selalu membayar tepat waktu kala suaminya mendapat gaji, imbuh Lilis.
"Tidak terlihat ada masalah sama suaminya juga. Enggak pernah cerita. Enggak pernah berkunjung ke tetangga. Enggak pernah kumpul. Ke bank emok juga tidak punya utang. Jadi enggak kelihatan susah," tandas Lilis.

Sumber gambar, YULI SAPUTRA
"Kaget ada kejadian itu, ya Allah. Kemarin si EN ada firasat, mungkin, jadi bayar utang dulu," ucap Lilis dengan raut muka nampak sedih.
Lilis bercerita bahwa seharusnya anak sulung EN, AA, akan mengikuti pentas kesenian di kampung dalam rangka peringatan 17 Agustus.
Malam sebelum meninggal, AA mampir ke warung Lilis, di sela-sela latihan menari, untuk membeli makanan ringan. AA, bersama teman-temannya, berlatih di rumah ketua RT, bersebelahan dengan warung Lilis.
AA, berdasarkan keterangan Lilis, membeli camilan sekitar pukul 20.00 WIB, berupa satu minuman dan mie kremes. AA menyodorkan Rp10.000 untuk pembayaran.
"Anaknya lincah, suka main sepeda, tidak kelihatan susah. Selalu [dapat] rangking di sekolahnya," kata Lilis.
Lilis masih memproses duka dan peristiwa pahit yang menimpa EN. Kenangannya berhenti di momen ketika EN dan kedua anaknya datang ke warungnya setiap pagi untuk membeli nasi kuning atau belanja sayuran.
Diduga bersumber dari utang judi online
Warga Kampung Cae yang lain, Ifan, mengaku cukup lama mengenal YS dan EN, dan oleh karenanya dia mengaku tahu bagaimana kehidupan pasangan suami dan istri itu berjalan.
Sebelumnya, menurut cerita Ifan, YS dan EN bisa dibilang keluarga yang berkecukupan. Mereka memiliki rumah berlantai dua yang baru dibangun setahun lalu.
Namun, Ifan meneruskan, rumah itu dijual tak lama kemudian. YS dan EN lantas pindah dan mengontrak rumah di sekitar pabrik tempat YS bekerja—masih satu wilayah dengan rumahnya dulu.
Ifan menduga titik baliknya ialah ketika YS terjebak di dunia judi online.
"Kalau dulunya, dia orang makmur, orang jaya. Dua-duanya hidup makmur. Cuma, entah kena setan apa, dia [YS] terjun ke dunia judi online. Akhirnya terpuruk. Sampai rumahnya habis, utang masih banyak," beber Ifan yang telah berteman dengan YS sejak 2019.
Keterangan Ifan tidak sekadar asumsi. YS kerap mencurahkan kesulitan maupun masalahnya saat mereka bercakap-cakap di warung bensin miliknya.
Utang YS, akibat judi online, disebut Ifan "begitu besar" dan "nominalnya tidak bisa dibayangkan."
Besarnya utang itu bahkan masih tidak mampu dilunasi andaikata "menjual semua harta," Ifan mengisahkan.
"Dan pas di BAP [Berita Acara Pemeriksaan] polisi juga sama dengan yang dicurhatin ke saya," tambah Ifan.
Jerat judi online berdampak terhadap keberlanjutan rumah tangga keduanya, Ifan berujar.
EN terpikir menggugat cerai YS saat mereka masih mempunyai satu momongan.
Rencana itu batal. Pernikahan keduanya lanjut sampai akhirnya memiliki anak kedua.
"EN cerita ke istri saya siapa tahu punya anak kedua suaminya akan berubah. Suami juga bilang kalau utangnya sudah lunas semua karena jual rumah," ungkap Ifan.
Ternyata, harapan EN bertepuk sebelah tangan. Utang YS masih menumpuk dengan banyak orang yang mendatangi EN untuk menagih utang, cerita Ifan.

Sumber gambar, YULI SAPUTRA
Pihak kepolisian sendiri masih menelusuri hubungan YS dengan utang sebab judi online.
Tapi, warga Kampung Cae mendesak pemerintah mengatasi persoalan judi online lantaran dampaknya tidaklah kecil: menghilangkan nyawa.
"Kalau bisa pemerintah membasmi si bandar-bandar judi online ini," tegas Ramdan, tetangga yang tinggal di depan kontrakan EN.
Kini, YS berada di rumah orangtuanya dengan kondisi mental yang "belum membaik," Ifan memberi informasi.
"Tadi pagi saya ngobrol sama orang tuanya. Dia [YS] sekarang ditahan di rumah karena masih bicara sendiri," jelas Ifan.
Nyawa hilang dampak tekanan ekonomi
Kasus bunuh diri dengan dugaan motif ekonomi tidak sekali ini saja terjadi, terutama dalam rentang 2023 sampai 2025.
Pada 2023, tiga anggota keluarga di Malang, Jawa Timur, ditemukan tanpa nyawa. Ketiganya adalah suami, istri, dan seorang anak. Kabar kematian keluarga tersebut bermula dari teriakan permintaan tolong dari anak yang lainnya.
Warga, yang mendengar teriakan itu, langsung mendobrak pintu kamar. Evakuasi ke rumah sakit pun ditempuh. Sayang, nyawa ketiganya tidak tertolong.
Penyelidikan polisi menemukan adanya dugaan bunuh diri, didukung oleh penemuan obat nyamuk dan pisau di lokasi kejadian.
Motif di balik kematian mereka diduga kuat adalah masalah ekonomi karena terlilit utang. Salah satu saksi bahkan menyebutkan bahwa korban sempat mengeluhkan ketidakmampuannya membayar utang pribadi.
"Salah satu dari tujuh saksi yang diperiksa mengatakan bahwa sekitar satu pekan sebelum peristiwa tersebut, korban atas nama W [38 tahun] menyampaikan dia tidak bisa mengembalikan uang yang telah dipinjam dari salah satu saksi tersebut," papar Kasatreskrim Polres Malang kala itu, AKP Gandha Syah Hidayat.
Pada 2024, satu keluarga terdiri dari pasangan suami istri beserta anak berusia tiga tahun ditemukan bunuh diri di Ciputat, Tangerang Selatan.
Penyelidikan Kepolisian Resor (Polres) Tangerang Selatan memberi tahu suami menghilangkan nyawa istri dan anaknya terlebih dahulu sebelum dia bunuh diri. Motifnya, merujuk penyelidikan polisi, diduga dipicu faktor ekonomi: utang pinjaman online (pinjol).
Korban, tambah polisi, meminjam uang secara online sejak 2023. Uang hasil pinjaman dipakai bermain judi online. Korban sempat pula mengirimkan email ke Bank Indonesia, menjelaskan kesulitannya dalam membayar pinjaman.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Makna Zaezar
Pada awal 2025, perempuan muda—yang juga berstatus ibu—ditemukan gantung diri di rumahnya di Lubuklinggau, Sumatra Selatan.
Sebelumnya, korban telah mencoba bunuh diri sebanyak tiga kali dan digagalkan suaminya.
Motif bunuh diri didorong kondisi ekonomi. Korban tidak bekerja, sementara suami menganggur. Kebutuhan hidup semakin mendesak terlebih mereka memiliki momongan.
"Selama ini, untuk kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan nafkah dari mertua korban yang rumahnya tak jauh dari rumah mereka. Namun, bantuan tersebut tidak diterima lagi dengan alasan mereka tidak enak jika dibantu terus," ungkap Kapolsek Lubuklinggau Selatan, AKP Nyoman Sutrisno.
Korban, polisi melanjutkan, sempat berkeinginan untuk merantau dan mencari pekerjaan. Tapi, keluarga, juga suaminya, tidak memberikan izin.
Pada Juni 2025, seorang pria diduga bunuh diri dari lantai 5 Tunjungan Plaza, Surabaya, Jawa Timur. Polisi memperoleh surat gadai ponsel ketika olah TKP (Tempat Kejadian Perkara).
"Motif diduga karena masalah ekonomi," ucap Kapolsek Tegalsari, Kompol Rizki Santoso.
Pada Agustus 2025, pasangan suami istri ditemukan meninggal dunia di rumah mereka di Tulungagung, Jawa Timur. Dugaan mengarah ke bunuh diri imbas tekanan ekonomi.
Penemuan korban berangkat dari anggota keluarga lainnya yang curiga lampu depan rumah mereka masih menyala pada pagi hari.
Saksi lalu masuk lewat pintu belakang dan melihat kedua korban sudah tergeletak berdampingan di lantai.
Di TKP, polisi mendapati dua gelas berisikan sisa racun.
"Tadi juga ditemukan dua botol racun tikus cair. Yang satu botol sudah habis dan satunya tinggal sedikit," kata Kanitreskrim Polsek Pucanglaban, Aiptu Bilal Ahmar.
Di luar racun tikus, polisi turut mendapatkan surat wasiat, berisikan permintaan maaf dan keinginan dimakamkan di satu tempat.
'Selama ini perlindungan sosialnya terlalu kecil'
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri menunjukkan tren bunuh diri cenderung meningkat secara konsisten dari tahun ke tahun, sejak 2019 hingga 2023.
Pada 2019, terdapat 230 kasus. Lalu naik ke titik 640 kasus setahun setelahnya.
Sempat turun 40 kasus pada 2021 menjadi 620, kasus bunuh diri melonjak kembali ke 902 kasus pada 2022. Jumlahnya bahkan tembus lebih dari 1.000 kasus—1.226—dua tahun silam, 2023.
Tahun lalu, per Agustus 2024, rekapitulasi Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri memperlihatkan angka kasus bunuh diri menyentuh 849 kasus.
Penyebab bunuh diri tidak pernah tunggal. Meski begitu, berdasarkan laporan Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri, masalah perekonomian menjadi alasan paling banyak yang memicu bunuh diri pada 2024, sekitar 31,91%.
Asosisasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia menjelaskan angka bunuh diri di Indonesia tidak sepenuhnya tercatat atau terlaporkan (underreporting).
Setidaknya beberapa alasan melatarbelakanginya, mulai dari stigma, permintaan keluarga atau pihak terkait seperti dokter maupun polisi, hingga sistem registrasi kematian yang belum akurat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Balik lagi ke pembahasan utama: bunuh diri karena tekanan ekonomi.
Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan pemerintah tidak boleh tinggal diam. Bhima menilai bunuh diri dengan faktor ekonomi yang berdiri di belakangnya sudah mengarah ke fenomena sosial.
Maraknya kasus bunuh diri karena ekonomi memperlihatkan betapa realita di lapangan tidak seindah yang sering diklaim pemerintah, ujar Bhima.
Lapangan kerja yang menyempit, daya beli masyarakat yang merosot, hingga pemutusan hubungan kerja yang masif bermunculan adalah hal-ihwal yang benar-benar dirasakan masyarakat, utamanya kelompok ekonomi menengah ke bawah, dalam kehidupan sehari-hari, papar Bhima.
Ketika situasi terbatas, maka jalan pintasnya yakni pinjaman atau judi online, yang sayangnya tidak menyelesaikan apa pun dan malah menempatkan masyarakat di bawah tekanan.
"Di sisi yang lain, data-data yang disampaikan oleh pemerintah adalah data-data yang cenderung bias terhadap kondisi riil atau tidak menggambarkan situasi," jawab Bhima ketika diwawancarai BBC News Indonesia, Senin (08/09).
Bhima memberi contoh angka pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2025 yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,12%.
Argumentasi Bhima menyatakan basis capaian itu—dari mana, misalnya, asal angka investasi naik—tidak jelas.
Padahal, "indikator lain menunjukkan sebaliknya: tekanan," tambah Bhima.
"Begitu juga kemiskinan diklaim turun. Kenyataannya, angka kemiskinan atau garis kemiskinan di Indonesia ini terlalu rendah," tegas Bhima.
Keadaan yang dihadapi masyarakat di tapak bawah, dalam pandangan Bhima, tidak didukung tangan-tangan kebijakan pemerintah yang berdampak.
Dari segi anggaran perlindungan sosial, contohnya, pemerintah hanya menyediakan 2,4% untuk periode 2025-2026, merujuk data APBN dan Kementerian Keuangan yang diolah CELIOS.
Proporsi atas PDB (Pendapatan Domestik Bruto) 2024 pun sekitar 1,3%.
Apabila dibandingkan komponen fiskal lainnya, seperti pertahanan, misalnya, yang menyentuh 36,7%, dana perlindungan sosial kalah jauh.

Sumber gambar, CELIOS
Bhima menganalisis anggaran perlindungan sosial terlalu kecil, dan pemerintah sendiri "cenderung menaikkan perlindungan sosial jelang pemilihan umum [pemilu]," ujar Bhima.
Hampir tidak ada lagi stimulus signifikan yang ditujukan kepada masyarakat yang rentan, Bhima menerangkan.
"Kalaupun diberikan stimulus, diskon tarif listrik, misalnya, itu cuma beberapa bulan. Bantuan subsidi upah juga sama. Sudah kekecilan, yang dapat pekerja formal, pekerja informalnya enggak dapat bantuan subsidi upah," Bhima memaparkan.
Bhima meminta pemerintah lebih 'peka' atas kenyataan masyarakat.
Alih-alih berfokus pada anggaran pertahanan dan keamanan, atau kebijakan lain yang memakan ongkos besar seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah seharusnya mengalihkan perhatiannya ke masalah yang lebih fundamental.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Galih Pradipta
"Jadi yang menjadi perhatian itu sudah tahu ada ketimpangan, sudah tahu ada masalah kemiskinan, dan juga susah cari kerja, banyak yang terlilit utang, pinjol, tapi dijawabnya itu dengan mengalihkan fokus ke anggaran pertahanan," kritik Bhima.
"Nah, inilah yang membuat masalah fundamentalnya tidak selesai. Jadi, ada kasus bunuh diri [karena ekonomi] yang terus berlanjut."
Sekitar dua hari setelah kasus bunuh diri yang menimpa keluarga di Kabupaten Bandung, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintahannya berhasil membuka banyak lapangan pekerjaan baru.
"Kita mengerti masalah kesulitan mendapat lapangan kerja di tempat-tempat tertentu dan pada golongan-golongan tertentu. Tapi, kita sudah buktikan pemerintah yang saya pimpin sudah ciptakan cukup banyak lapangan kerja dan potensi lapangan kerja ke depan sangat besar," ucapnya.
Lalu Prabowo menegaskan pemerintah "telah mengalokasikan bantalan ataupun jaringan pengaman untuk mereka yang paling susah dengan cukup besar."
Situasi yang berlapis
Kematian ibu dan dua anak di Kabupaten Bandung memperlihatkan betapa jalan untuk menyelesaikan masalah sudah begitu "buntu," ujar sosiolog dari Universitas Indonesia, Ida Ruwaida, kepada BBC News Indonesia, Senin (08/09).
Korban tidak lagi mempunyai support system, berwujud dukungan psiko-sosial maupun ekonomi, sehingga mengambil pilihan mengakhiri hidup.
"Kalaupun istri dapat pinjaman, ternyata suami kecanduan judol, yang akhirnya menelantarkan istri dan anak," kata Ida.
"Dengan demikian, jelas bahwa masalah ekonomi keluarga menjadi sumber ketegangan. Sebagian besar kasus yang ada, menempatkan istri dan anak sebagai korban."
Isu keretakan yang bersumber masalah ekonomi, Ida menerangkan, bukan sebatas sebab judol, melainkan perselingkuhan, kawin siri, dan lainnya.
Sehingga "ada pengabaian tanggung jawab ekonomi maupun psiko-sosial kepada keluarga," imbuh Ida.
Ida melihat dimensi kasus bunuh diri lantaran motif ekonomi ini cukup berlapis.
Dari sisi lingkungan sosial, menurut Ida, terdapat pergeseran relasi antartetangga. Ida memandang relasi bermasyarakat perlahan mengindikasikan bahwa nilai dan praktik gotong royong, khususnya untuk masalah ekonomi, "memang sudah minus," jelasnya.
"Ada keluarga dan tetangga yang tidak ingin memberi bantuan ekonomi sehingga membuat yang dibantu ketergantungan. Dalam situasi dan kondisi marak dan mudahnya pinjol, maka pinjol seolah penyelamat," tandasnya.
"Namun, yang terjadi justru tidak sedikit yang terjebak bunga dan berbunga lagi sehingga terlilit utang. Apalagi jika pinjaman digunakan bukan untuk menafkahi atau modal usaha, tapi untuk judol," imbuh Ida.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Putra M. Akbar
Maka, dari sini, tekanan sosial—selain ekonomi—yang dialami bakal jauh lebih berat, tutur Ida, lantaran merenggut kepercayaan berbagai pihak yang berperan mengurangi utang.
Alhasil, perempuan, atau istri, mendapatkan beban ganda guna menanggung keterbatasan finansial.
Perempuan harus bekerja ekstra demi "membantu" suami memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sekaligus menutup utang-utang yang sudah menebal.
"Kalaupun perempuan punya pendapatan, tidak jarang pendapatannya lebih banyak untuk kepentingan keluarga. Apalagi jika suaminya atau bapaknya justru lalai atau bahkan tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya," ungkap Ida.
Kajian berjudul Beban Ganda Perempuan Bekerja: Sebuah Refleksi atas Konstruksi Budaya Patriarki (2023), yang ditulis Agnes Ernaningtyas dan Eka Christiningsih Tanlain, menuturkan beban ganda perempuan dapat menimbulkan dampak psikologis dan sosial.
Dampak psikologis di sini berupa stres atau depresi imbas kelelahan fisik.
Dimensi lain yang Ida soroti yaitu keterlibatan pemerintah. Menurut Ida, pemerintah memang telah melakukan intervensi kepada keluarga miskin melalui bantuan sosial (bansos).
Permasalahannya, insentif pemerintah tidak banyak membantu, terlebih jika hanya diterima sekian bulan sekali.
"Kajian kami menunjukkan biasanya [bansos] langsung habis untuk kebutuhan ini dan itu karena mereka memang keluarga kurang sejahtera, bahkan masuk kategori kemiskinan kronis," paparnya.
Perhitungan pemberian bansos, atau jaring pengaman sosial, setidaknya mesti memperhatikan beberapa variabel, Ida menambahkan.
Karakteristik keluarga, seperti jumlah tanggungan atau akses pendidikan, turut memengaruhi atas kerentanan yang dihadapi—secara ekonomi, sosial, atau politik.
"Artinya, bansos yang diberikan pun bisa jadi hanya 'penyambung' hidup, bukan modal untuk hidup," Ida melanjutkan.
Berbagai kebijakan berskala besar yang dikeluarkan pemerintah, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Sekolah Rakyat, "belum mampu mengatasi isu ketidakadilan atas akses sumber daya ekonomi," Ida menilai.
Belum lagi, Ida meneruskan, "kurangnya campur tangan signifikan terhadap pinjol dan judol yang justru menjadi penyebab utama kerentanan ekonomi keluarga."
"Dan yang paling terdampak adalah perempuan dan anak," pungkasnya.
Wartawan Yuli Saputra di Bandung berkontribusi dalam artikel ini.
Jika Anda, sahabat, atau kerabat memiliki kecenderungan bunuh diri, segera hubungi psikolog, psikiater, atau dokter kesehatan jiwa di puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Anda dapat mengakses situs Emotional Health For All jika membutuhkan bantuan.
Layanan dari Kementerian Kesehatan dapat Anda hubungi melalui nomor 119 ext 8. Anda juga dapat menghubungi layanan 24 jam BISA Helpline melalui nomor WhatsApp 08113855472.








