Mengapa ada kucing pendiam dan ada kucing yang cerewet?

Beberapa kucing pendiam, sementara yang lain mengeong keras untuk mencari perhatian. Perbedaan ini mungkin terkubur jauh di dalam gen mereka.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Beberapa kucing pendiam, sementara yang lain mengeong keras untuk mencari perhatian. Perbedaan ini mungkin terkubur jauh di dalam gen mereka.
    • Penulis, Grace Carroll
    • Peranan, BBC Future
  • Waktu membaca: 5 menit

Beberapa kucing pendiam, sementara yang lain mengeong keras untuk mencari perhatian. Perbedaan sifat ini mungkin terkubur jauh di dalam gen mereka.

Jika Anda pernah berbagi rumah dengan lebih dari satu kucing, Anda akan tahu betapa berbedanya kepribadian mereka.

Satu kucing mungkin mencicit lembut untuk minta makan, atau mendengkur keras di pangkuan Anda, hingga menyapa pengunjung di pintu.

Namun, kucing yang lain mungkin lebih suka mengamati dengan tenang dari kejauhan.

Jadi, mengapa ada beberapa kucing menjadi teman yang cerewet, sementara yang lain tampak lebih pendiam?

Seekor kucing bernama "Zeytin", yang kehilangan mata kanannya dan mengalami patah tulang belakang setelah ditabrak mobil di Turki.

Sumber gambar, Evrim Aydin/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Seekor kucing bernama "Zeytin", yang kehilangan mata kanannya dan mengalami patah tulang belakang setelah ditabrak mobil di Turki.

Sebuah penelitian terbaru yang dipimpin oleh peneliti satwa liar Yume Okamoto dan rekan-rekannya di Universitas Kyoto, Jepang, menunjukkan bahwa sebagian jawabannya mungkin terletak pada gen kucing.

Pemilik kucing dari seluruh Jepang diminta untuk mengisi kuesioner tentang kucing mereka (Feline Behavioural Assessment and Research Questionnaire).

Survei itu mencakup pertanyaan tentang berbagai perilaku kucing, termasuk saat mendengkur dan mengeluarkan suara lain yang ditujukan kepada manusia.

Kucing mendengkur atau mengeong ketika mereka merasa nyaman, senang atau bahkan sedang stres dan sakit.

Mereka juga diminta mengambil sampel usap dari pipi hewan peliharaan untuk menyediakan sampel DNA.

Jale Olcay menjalani kehidupan yang 'ramah kucing' di rumah terpisah dua lantai miliknya bersama 18 kucing yang diadopsinya.

Sumber gambar, Cigdem Munibe Alyanak/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Seorang perempuan di Turki menjalani kehidupan yang 'ramah kucing' di rumah terpisah dua lantai miliknya bersama 18 kucing yang diadopsinya.

Para peneliti dalam studi Jepang baru-baru ini berfokus pada gen reseptor androgen (AR) kucing, yang terletak pada kromosom X.

Gen ini membantu mengatur respons tubuh terhadap hormon seperti testosteron dan berisi bagian di mana urutan DNA berulang. AR adalah bagian penting dari biologi vertebrata.

Bentuk gen AR yang paling kuno muncul pada nenek moyang semua vertebrata berahang, lebih dari 450 juta tahun yang lalu.

AR mengontrol pembentukan organ reproduksi jantan, karakteristik seksual sekunder, dan perilaku reproduksi.

Jumlah urutan ini menentukan seberapa responsif gen tersebut. Pengulangan urutan yang lebih pendek membuat reseptor lebih sensitif terhadap androgen.

Pada spesies lain, termasuk manusia dan anjing, pengulangan yang lebih pendek pada gen AR telah dikaitkan dengan peningkatan agresi dan ekstraversi.

Seekor kucing Persia putih bernama 'Gule Rana', mengenakan mahkota kertas emas, setelah memenangkan festival kucing di Irak.

Sumber gambar, Fariq Faraj Mahmood/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Seekor kucing Persia putih bernama 'Gule Rana', mengenakan mahkota kertas emas, setelah memenangkan festival kucing di Irak.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Di antara 280 kucing yang sudah dikebiri, mereka yang memiliki varian gen AR pendek lebih sering mendengkur.

Kucing jantan dengan varian ini juga memiliki skor lebih tinggi untuk vokalisasi yang ditujukan, seperti mengeong untuk diberi makan atau diizinkan keluar.

Namun, kucing betina dengan genotipe yang sama lebih agresif terhadap orang asing.

Sementara itu, kucing dengan gen versi yang lebih panjang dan kurang aktif, cenderung lebih pendiam. Varian ini lebih umum pada ras kucing murni, yang biasanya dibiakkan untuk sifat jinak.

Mungkin Anda tertarik:

Domestikasi umumnya dianggap telah meningkatkan perilaku suara pada kucing. Jadi mungkin terasa aneh bahwa versi gen—yang terkait dengan peningkatan komunikasi dan ketegasan—juga ditemukan pada spesies liar seperti lynx.

Namun, studi ini tidak menceritakan narasi yang lugas tentang bagaimana domestikasi kucing memilih sifat-sifat yang mudah bersosialisasi.

Sebaliknya, ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Sifat leluhur tertentu seperti agresi mungkin masih berguna, terutama di lingkungan domestik yang memiliki tingkat stres tinggi atau sumber daya langka.

Beberapa hewan menghabiskan banyak waktu di sekitar manusia karena mereka tertarik pada sumber daya yang kita miliki, dibandingkan sebagai hewan pendamping atau hewan ternak.

Burung camar kota menawarkan contoh menarik tentang bagaimana kedekatan dengan manusia tidak selalu membuat hewan lebih jinak.

Di kota-kota, camar-camar Herring dan Lesser Black-backed (keduanya sering disebut sebagai burung camar) menjadi lebih berani dan agresif.

Kedekatan dengan manusia tidak menurunkan tingkat agresi pada beberapa hewan, seperti burung camar.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kedekatan dengan manusia tidak menurunkan tingkat agresi pada beberapa hewan, seperti burung camar.

Para peneliti di Liverpool John Moores University menemukan bahwa burung camar kota kurang takut pada manusia dan lebih cenderung agresif, dibandingkan dengan camar pedesaan.

Di daerah perkotaan, di mana makanan sangat diperebutkan, menjadi hewan yang tegas akan memberikan hasil (makanan).

Selama musim kawin, burung camar sering disebut oleh media Inggris sebagai penjahat kota. Mereka menukik untuk merebut makan siang Anda atau mengejar pejalan kaki.

Ini menunjukkan bahwa hidup berdampingan dengan manusia kadang-kadang dapat mendukung perilaku yang lebih konfrontatif.

Jika diparalelkan dengan kucing, hal ini menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana lingkungan dan gen membentuk perilaku.

Temuan Okamoto dan rekan-rekannya mungkin mencerminkan adanya pertukaran.

Sifat-sifat yang terkait dengan varian AR pendek, seperti vokalisasi atau ketegasan yang lebih besar, mungkin menawarkan keuntungan dalam mendapatkan perhatian dari manusia, di situasi yang tidak pasti atau kompetitif.

Beberapa kucing tengah minum susu.

Sumber gambar, Ridvan Korkulutas/Anadolu via Getty Images

Keterangan gambar, Beberapa kucing tengah minum susu.

Namun, sifat-sifat yang sama ini juga dapat bermanifestasi sebagai agresi, menunjukkan bahwa domestikasi dapat menghasilkan campuran sifat-sifat yang diinginkan dan menantang.

Penting untuk diingat bahwa jenis variasi antara individu ini adalah fundamental bagi evolusi spesies.

Tanpa variasi perilaku, spesies akan kesulitan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Bagi kucing, ini berarti mungkin tidak ada temperamen ideal yang tunggal, melainkan serangkaian sifat yang terbukti berguna dalam kondisi domestik yang berbeda.

Dari kucing hingga camar, hidup berdampingan dengan manusia tidak selalu menghasilkan hewan yang lebih lembut. Terkadang, sedikit dorongan bisa membuahkan hasil.

--

Artikel versi Bahasa Inggris berjudul The answer to a cat's loud meow might be buried in its genes dapat Anda baca di BBC Future.