Semut-semut yang bisa mengendus kanker

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Petra Zivic
- Peranan, Journalist
Berkat sistem indera penciumannya yang sangat sensitif, semut suatu hari nanti disebut bisa digunakan untuk membantu mendeteksi kanker pada manusia, menurut sebuah studi terbaru.
Untuk pertama kalinya, ilmuwan kini telah menemukan bahwa semut dapat mendeteksi penyakit tersebut pada tikus lab.
"Semut bisa dilatih dalam sepuluh menit untuk mencium kanker dalam urine tikus," ujar Baptiste Piqueret, penulis utama studi ini kepada BBC.
Piqueret memulai riset lapangannya pada 2017 dan mampu melatih semut untuk membedakan bau sel-sel tubuh yang sehat dengan sel-sel kanker yang ditumbuhkan di laboratorium.
Saat ini, timnya sudah selangkah lebih maju: kali ini semut bisa mendeteksi tumor manusia dari urine tikus.
Baca juga:
Melatih semut mengendus bau menyengat
Piqueret dan timnya menggunakan teknik yang disebut xenografting - yakni transplantasi kanker payudara manusia ke tubuh tikus dan membiarkannya tumbuh.
Mereka lalu mengumpulkan sampel urine tikus dari dua kelompok, yang sehat dan dengan kanker.
"Selama masa pelatihan, kami meletakkan semut di arena melingkar dan memberikan makanan sebagai imbalan di dekat urine tikus yang memiliki kanker," ujarnya.
Ketika semut menemukan imbalan itu, mereka mengasosiasikan bau sel-sel kanker dengannya dan belajar mengenalinya.

Sumber gambar, Getty Images
"Sel mirip dengan pabrik, mereka butuh nutrisi untuk tetap hidup dan mereka melepaskan limbah. Sel-sel kanker menghasilkan limbah yang bisa dideteksi melalui baunya," jelas Piqueret.
Secara khusus, penelitian ini menjelaskan, sel-sel kanker memiliki senyawa organik volatil spesifik yang dapat dideteksi dalam urine atau napas.
Selama proses latihan, semut akan tinggal lebih lama di sekitar sampel urine yang mengandung kanker, bahkan setelah para ilmuwan menghilangkan imbalan makanan.
Apakah semut bisa dipakai untuk mendeteksi kanker pada manusia?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Saat ini belum, kata Piqueret.
"Supaya lebih maju, kita harus mulai pengetesan dengan urin manusia," imbuhnya, tapi ini akan jauh lebih rumit dari pengetesan dengan urine tikus.
Melatih semut untuk mendeteksi bau menyengat kanker pada manusia akan melibatkan banyak variabel, seperti usia, jenis kelamin, pola makan, termasuk bau tubuh spesifik yang dimiliki setiap manusia.
"Manusia tidak memiliki bau tubuh sama, berbeda-beda setiap orang, dan kami tidak tahu apakah semut akan bisa fokus ke sel-sel berkanker," terang Piqueret.
Namun Piqueret telah bertekad untuk melakukan riset lebih lanjut, karena dia yakin semut bisa jadi detektor yang sangat efektif dan berbiaya rendah, juga tak butuh terlalu banyak waktu untuk dilatih.
"Salah satu keuntungannya mungkin karena semut hidup dalam koloni-koloni dan berbagi informasi satu dengan lainnya," tukasnya.
Piqueret menduga bila 10% dari sebuah koloni semut dilatih untuk mendeteksi kanker, mereka dapat menyebarkan pengetahuan ini kepada sisanya.
"Mungkin informasi ini akan menyebar, dan kita tidak harus buang-buang waktu untuk melatih seluruh koloni," ujarnya.
Teori ini telah terbukti bekerja pada lebah, namun butuh investigasi lebih lanjut dengan semut, kata Piqueret.
Binatang lain yang bisa membantu mendeteksi kanker?

Sumber gambar, Derrick L. Turner/Michigan State University
Selama sepuluh tahun, Dr Debajit Saha dari Michigan State University telah mempelajari belalang dan kemampuan mereka untuk mendeteksi sel-sel kanker.
Timnya menemukan bahwa belalang dapat mencium perbedaan antara sel-sel yang sehat dan sel kanker.
Namun mereka tidak mencoba melatih belalang, alih-alih, mereka mencoba untuk mempelajari otak hewan itu.
"Kita bisa langsung melihat otak mereka dan menggunakan ilmu neurosains yang ada sekarang untuk membuat permodelan dari sinyal-sinyal syaraf mereka," kata Dr Saha kepada BBC.
Mereka berharap pengetahuan yang didapatkan dari mempelajari otak belalang akan menyediakan dasar untuk membangun sebuah alat yang menyerupai syaraf sensor serangga dalam mendeteksi kanker dengan hanya menggunakan napas pasien.
"Saya menyukai gagasan menggunakan organisme biologis dan memikirkan cara menggunakannya untuk mendeteksi penyakit," kata Saha.
Namun bukan hanya serangga yang bisa membantu kita.

Sumber gambar, Getty Images
Di Inggris, sebuah lembaga amal bernama Medical detection dogs telah mengembangkan hidung elektronik yang dapat mengendus kanker prostat.
"Kami mulai dengan menginvestigasi apakah anjing dapat menemukan kanker kandung kemih. Ini sangat efektif karena anjing bisa menemukannya dari sampel yang diambil dari urine seorang pasien kanker," kata Sophie Aziz, kepala riset dan pengembangan komersial lembaga itu kepada BBC.
Mereka melatih enam anjing berbagai ras pada 2004 dan menemukan akurasi diagnosisnya tiga kali lebih tinggi dari tingkat yang diharapkan. Studi lanjutan mengkonfirmasi bahwa anjing dapat mengendus kanker kandung kemih dengan tingkat akurasi 90%.
Sebuah penelitian lain menunjukkan bahwa anjing juga dapat mengendus kanker ovarium dari sampel darah pasien. Anjing-anjing yang terlatih dapat mendeteksinya 99% dari kasus.
Selanjutnya adalah tahap riset untuk mengembangkan hidung elektronik, namun ini terbukti menantang karena adanya perbedaan-perbedaan samar soal bau.
"Terutama bila menyangkut penyakit, bau dapat berbeda tergantung pada mikroorganisme masing-masing orang, respons imun mereka terhadap penyakit," ujar Aziz.
Namun dia tetap yakin bahwa penelitian baru tentang serangga bisa melengkapi studi-studi lain soal deteksi kanker.
"Semakin kita bisa mempelajari tentang binatang, semakin baik. Semakin banyak riset yang dilakukan oleh lembaga seperti kami, atau ilmuwan yang menguji bagaimana semut bisa mendeteksi kanker, maka semakin baik. Semuanya akan berkontribusi dalam membangun gambaran yang lebih luas," kata Aziz.












