'Curiga tapi tetap beli karena takut tiket habis'- Modus festival musik bodong di tengah musim konser

Sumber gambar, Annisa Fitri Ramadhanti
- Penulis, Trisha Husada
- Peranan, BBC News Indonesia
Di tengah maraknya festival dan konser musik, sejumlah promotor palsu menipu ratusan pecinta musik dan pengunjung konser. Para korban kini menuntut keadilan atas kerugian finansial yang mereka alami serta kepercayaan mereka yang rusak terhadap acara-acara musik yang sangat mereka nantikan.
Annisa Fitri Ramadhanti merupakan seorang pecinta acara musik di Pontianak, Kalimantan Barat. Memori paling berkesan saat ia masih kanak-kanak adalah menonton festival musik di pusat kota bersama ayahnya yang saat itu bertugas sebagai aparat keamanan.
“Iya dulu waktu bapak masih aktif kerja jadi polisi saya nonton di alun-alun. Dan sekalian gratis. Jadi saya diajak papa lagi jaga terus saya ikut nonton,” ungkap Annisa lewat video Zoom dengan BBC News Indonesia.
Sejak itu, Annisa jatuh cinta dengan suasana konser seru yang membuatnya bisa menikmati lagu-lagu dari para artis favoritnya di panggung yang diramaikan penonton.
“Pokoknya kalau ada band atau artis yang mau konser di Pontianak, saya pasti beli tiketnya,” katanya.
Namun, sebelum pandemi, ia mengatakan jarang ada pertunjukan yang mengundang artis besar ke Pontianak. Kini, situasi sudah berubah total sejak wabah covid-19 mereda.
“Dulu mungkin satu tahun itu bisa dua sampai tiga kali [acara musik]. Itu pun jeda waktunya lama. Sekarang habis pandemi bisa berderet, jeda satu bulan aja enggak ada,“ kata Annisa.
Karena ia sendiri sempat ‘rehat’ pergi ke acara musik selama hampir dua tahun, Annisa senang melihat banyaknya promotor acara yang mengadakan konser maupun festival musik di Pontianak.
Salah satu festival musik yang menyita perhatiannya adalah Bergembira Fest, sebuah festival musik yang dipromosikan lewat akun Instagram dengan lebih dari 9.000 pengikut. Festival itu berjanji akan menghadirkan band Sheila On 7, yang sebelumnya belum pernah tampil di Pontianak.
”Saat itu memang ada Sheila On 7 di lineup-nya, langsung beli-beli-beli semua. Karena rata-rata korbannya sama kayak saya alasannya, karena kepingin nonton band itu, jadi belinya enggak pakai mikir ini bohong atau enggak gitu,” ungkap Annisa.

Sumber gambar, Annisa Fitri Ramadhanti
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Pada saat itu, ia mendengar dari temannya bahwa tiket penjualan awal alias early bird sudah terjual habis. Sementara, babak penjualan tiket berikutnya diadakan lewat pengisian Google form (G-form). Annisa membeli dua tiket, masing-masing seharga Rp275.000.
”Yang saya beli waktu itu dengan isi pakai G-form tapi ada teman saya yang pertama kali mereka penjualan early bird. Mereka buka penjualan mereka di Loket.com. Mereka pakai Loket, jadi transaksinya nyata gitu dan e-ticketnya juga ada.
”Ada perasaan curiga [karena pakai Google Form] tapi aku tetap check-out karena takut tiket habis,” kata Annisa.
Namun, tiga puluh menit setelah melakukan transaksi dan mengirim formulir beserta bukti transaksi, ia tak kunjung menerima electronic-tiket dari pihak penyelenggara acara.
”Jadi saya inisiatif chat adminnya di IG terus beberapa menit setelah saya kirim chat itu. Saya buka IG-nya tiba-tiba akunnya sudah enggak ada sama sekali. Jadi benar-benar proses penipuannya memang cepat gitu,” tungkasnya.
Annisa dan beberapa korban pembeli tiket lainnya akhirnya bergabung dalam grup WhatsApp untuk mengumpulkan bukti dan melaporkan penipuan itu kepada pihak kepolisian Kalimantan Barat.
Setelah diselidiki, ternyata penipuan tersebut terjadi di berbagai daerah, tidak hanya Pontianak tetapi juga Medan, Samarinda, Manado, dan Makassar. Total kerugian sementara diperkirakan mencapai kurang lebih Rp400 juta.
”Itu ternyata masih banyak yang belum mengisi [data] karena ya perwakilan aja yang isi. Tapi pelakunya ketangkap, diproses dan tertangkap. Sekitar 100 orang yang melapor, dan sebenarnya belum semua itu,” katanya.
Kasus penipuan berkedok festival musik terjadi di sejumlah daerah

Sumber gambar, Annisa Fitri Ramadhanti
Baca juga:
Ketua Bidang Humas Polda Kalimantan Barat, Kombespol R. Petit Wijaya, mengatakan bahwa saat ini kasus penipuan online dengan modus penjualan tiket konser sudah sampai pada tahap satu. Berarti, berkas hasil penyelidikan sudah dikirim ke Kejaksaan untuk diperiksa kelengkapannya.
”Kami masih menunggu dari kejaksaan dulu. Kalau kejaksaan menyatakan berkas sudah memenuhi unsur seluruhnya lengkap, baru nanti diserahkan ke kejaksaan untuk vonis persiapan penuntutan di pengadilan,” kata Petit kepada BBC News Indonesia pada Kamis (13/4).
Ia menyebut jumlah tersangka ada tiga orang yang berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka diduga sebagai pelaku dalam jaringan penipuan online yang lokasinya berada di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
”Status mereka ditetapkan sebagai tersangka, sudah ditahan. Sedang dalam tahanan,” sebutnya.
Petit menjelaskan bahwa para tersangka menggunakan akun media sosial palsu yang seakan-akan mempromosikan sebuah festival musik yang mengundang artis-artis ternama.
Setiap kali mereka menargetkan daerah baru, mereka akan membuat akun Instagram baru dengan nama festival dan artis berbeda. Padahal sebenarnya, mereka tidak ada niatan membuat acara tersebut maupun mengundang artis.
”Event ini untuk tiket Sheila on 7, kemudian ada Bersenandung Festival dengan mengundang JKT48, itu di Samarinda. Dijual tiketnya sampai Rp5 juta per orang.
”Kemudian, Bersenang Festival artisnya Rizky Febian itu di Medan, Sumatera Barat, [harga tiket] Rp1 juta per orang. Kemudian. Berdendang dengan Artis Raisa di Culut, dijual dengan harga Rp1 juta per orang,” jelasnya.
Petit memastikan bahwa tiga orang itu bukan promotor acara resmi. Salah satu tahanan masih berstatus mahasiswa, sedangkan dua orang lainnya belum bekerja.
Berdasarkan keterangan dari pihak polisi, para tersangka dapat dijerat dengan Pasal 45 A ayat (1) jo Pasal 28 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Mereka dapat divonis penjara paling lama enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar rupiah.
“Enggak ada acara, memang murni untuk menipu. Bukan penyelenggara itu. Dia modusnya seolah-olah akan ada konser. Mereka menjual tiket murah.
“Ini relatif angkanya karena terlihat kalau diperiksa itu hampir seluruh Indonesia dia permainkan itu. Sementara, kalau di sini itu ada 1.415 orang yang beli tiket mereka,” ungkap Petit.
BBC News Indonesia telah berusaha untuk menghubungi pihak Loket Group untuk meminta penjelasan mengenai klaim korban adanya penjualan tiket early bird Bergembira Fest pada situs mereka.
Namun, sampai artikel ini diterbitkan, pihak yang bersangkutan masih belum memberikan keterangan.
Gelombang acara musik setelah pandemi

Sumber gambar, Kiki Aulia Ucup
Kiki Aulia Ucup merupakan penyelenggara di balik sejumlah acara musik tahunan besar di Jakarta seperti Synchronize Fest dan Pestapora.
Ia mengatakan dirinya tidak heran bahwa sekarang semakin banyak promotor baru yang bermunculan dan membuat berbagai acara musik yang mengundang artis lokal maupun internasional.
Sebab, masa pasca-pandemi ini dianggap sebagai momen “buka puasa” bagi industri tersebut.
“Saya menganalogikannya saat bulan puasa tiba-tiba banyak yang jualan gorengan, banyak yang jualan tajil. Jadi memang permintaannya lagi tinggi terus banyak yang mengubah kariernya menjadi promotor,” kata Ucup.
Menurut dia, industri pegiat acara musik semakin kompetitif dengan semakin banyak pelaku baru yang masuk. Tetapi, ada pula pemain-pemain lama yang masih dipercaya oleh publik untuk mengusung acara-acara yang sudah memiliki nama besar.
“Kalau ngomongin secara persentasenya ya 50-50, banyak pelaku baru. Kebetulan saya juga munculnya dengan IP [nama acara] baru. Jadi yang big player-nya masih aktif, yang pelaku barunya juga banyak yang survive,” lanjutnya.
Ucup sebelumnya bekerja sebagai bagian dari perusahaan distribusi rekaman independen Demajors dalam menggelar acara-acara musik, salah satunya Synchronize Fest. Kemudian, pada 2022, ia mendirikan Boss Creator, perusahaan yang mengusung festival musik Pestapora.
Berdasarkan pengalamannya menggelar festival musik baru tersebut, ia merasa reputasi promotor acara masih dipertimbangkan oleh orang yang mau datang ke sebuah acara. Sehingga, kredibilitas promtor masih menjadi faktor penting.
“Mungkin salah satu [faktor] yang lumayan membantu Pestapora mungkin dari kredibilitas saya di tempat sebelumnya sampai akhirnya saya bikin sendiri dan orang melihat itu sebagai sebuah hal yang baru, hal yang fresh dan hal yang bisa meramaikan industrinya,” ungkap Ucup
Seniman sekaligus putri dari promotor musik kelas kakap Ardie Subono, Melanie Subono, juga setuju bahwa kini ada semakin banyak pemain baru dalam industri penggelaran acara musik. Hal ini, sambungnya, membuktikan bahwa siapa saja bisa membuat acara musik.
“Segala sesuatu lebih mudah dilakukan sekarang. Dan mungkin promo juga enggak [sulit]. Lu mau bikin event, promo enggak harus mahal. Dulu harus pasang di koran atau di TV yang harganya bisa ratusan juta. Sekarang asal dia punya akun Instagram dan itu seru,” jelas Melanie yang sempat bekerja sebagai kru talent di perusahaan ayahnya, Java Musikindo sejak ia berumur 17 tahun.
Oleh karena itu, ia merasa pada awal musim festival musik banyak bermunculan, reputasi promotor kurang menjadi penentu kesuksesan acara. Asalkan artis yang diundang nama besar dan bisa menggaet banyak penonton.
Meski begitu, ia tidak menyangkal bahwa semakin lama penikmat konser mulai semakin bijak dalam memilah acara musik mana yang akan mereka hadiri. Mereka juga akan melihat riwayat pembuatan acara sebuah promotor musik.
“Mereka juga suka ngomong ke aku sebagai bagian dari Java [Musikindo]. Atau mereka juga suka bilang "aduh ini kan dulu EO [event organizer] yang bikin ini, aduh jangan deh" ini itu. Mereka juga kadang ngomong "eh ini pas bikin acara ini pinter lho, bagus lho" jadi saya pikir orang-orang yang suka pergi ke konser juga mulai lebih cerdas sekarang,” katanya.
Tetapi, reputasi promotor yang rusak akibat acara gagal pun masih bisa dicarikan jalan keluar, kata Melanie. Sebab, mereka seringkali membuat perusahaan promotor baru untuk menggelar acara baru. Meski sebetulnya, orang yang bekerja di balik layar sama saja.
“Ini yang kadang-kadang mereka belum ngeh- begitu ada nama EO atau promotor baru, cari nama di baliknya. Kadang-orang orangnya yang sama lagi. Mereka tutup perusahaan yang mungkin bermasalah atau punya nama buruk. Mereka buka dengan nama baru, padahal orangnya itu-itu lagi.”
Baca juga:
Batalnya beberapa acara di tengah euforia acara musik

Sumber gambar, Maureen
Maureen sempat merasa kecewa dan bingung saat ia mendengar bahwa festival musik yang ia tunggu-tunggu masih belum mengembalikan uang tiketnya, meski acara itu sudah ditunda dan kemudian batal diselenggarakan.
“Sebenarnya awalnya bingung terus lama-kelamaan sempat merasa, 'masa ketipu sih?'. Kecewa juga. Sudah nanya teman juga, kira-kira [uang tiketnya] balik enggak ya? Aduh kayaknya susah deh,” kata Maureen.
Maureen sudah memesan tiket kategori terdepan untuk sebuah festival musik Korea yang seharusnya digelar pada bulan November di Madya Stadium GBK. Namun, promotor musik menunda ke Januari 2023 akibat tragedi Itaewon yang membuat masyarakat Korea berduka.
Meski begitu, acara tersebut tetap tak kunjung diselenggarakan saat Januari 2023 tiba.
Salah satu artis Korea Selatan yang dijanjikan akan datang adalah Chen dari grup band EXO. Maureen sudah menjadi penggemar EXO sejak 2012. Ia selalu datang ke pertunjukkan di mana grup tersebut maupun salah satu anggotanya datang ke Indonesia.
“Kalau yang pertama banget kan EXO ke sini SMTown itu aku enggak datang pas 2012. Itu saja sih, sisanya datang semua. Sudah tujuh kali,” kata Maureen.
Namun kali ini, ia tidak menyangka kesempatannya menonton Chen akan sirna. Akibatnya, Maureen rugi Rp2,3 juta.
Padahal sebelumnya pihak promotor sudah berjanji akan memproses refund selama satu bulan. Setelah dua bulan, Maureen dan korban-korban lainnya merasa dicurangi.
“Habis itu dia menghilang saja. Waktu awal-awal kan dia janji mau balikin, setelah itu sebulan enggak muncul. Tiba-tiba hilang dan enggak jelas, tiba-tiba Tiket.com yang terus-terus update uang kami,” katanya.
Maureen mengatakan ia bersyukur karena Tiket.com - selaku partner penjualan tiket untuk festival tersebut- bertanggung jawab atas kerugian yang menimpa para pembeli tiket.
Meski begitu, Maureen mengatakan bahwa ia tidak ‘trauma‘ akibat pengalaman itu. Ia tetap ingin membeli tiket acara musik yang dihadiri idolanya. Walaupun, ia sendiri merasa seringkali banyak promotor yang kurang profesional dalam menggelar sebuah acara musik.

Sumber gambar, Maureen
Baca juga:
Terkait refund yang Maureen klaim diberikan Tiket.com untuk festival musik Korea yang batal, Public Relation Senior Manager Tiket.com, Sandra Darmosumarto, mengatakan bahwa dalam hal tersebut Tiket.com berperan sebagai mitra penjual tiket resmi.
Oleh karena itu, mereka berusaha untuk "selalu memberikan solusi terbaik".
"Tim Customer Service Tiket.com akan selalu mengedepankan aspirasi serta kebutuhan customer," ujar Sandra lewat keterangan tertulis yang dikirim ke BBC News Indonesia.
Lebih lanjut, ia melihat ada lonjakan besar terhadap minat di industri kreatif sejak 2022 di mana pandemi sudah mulai terkendali.
Terbukti, sepanjang 2022 hingga April 2023 Tiket.com mengeklaim telah menangani penjualan tiket untuk 556 konser musik, baik online maupun offline (termasuk multiple days concerts).
"Antusiasme dari customer menjadi pertimbangan terbesar kami dalam memilih mitra acara musik.
"Dari sisi customer, kami bisa memahami trend musik dan artis yang sedang diminati, sehingga dari hal itu kami dapat memilih mitra yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan customer," jelasnya.
Selama setahun terakhir, ada pula beberapa acara musik yang batal digelar.
Salah satunya adalah GudFest 2022 yang seharusnya menghadirkan artis internasional seperti Lauv, Honne, Chvrches dan juga musisi lokal seperti Reality Club, Fariz RM dan Rendy Pandugo.
Sayangnya, festival musik tersebut dibatalkan hanya tiga hari sebelum tanggal yang dijadwalkan. Walau GudFest akhirnya ditunda bukan dibatalkan, promotor berjanji akan mengembalikan uang mereka yang sudah membeli tiket secepat mungkin.
Pada Desember 2022, pihak promotor menjanjikan proses refund diperkirakan selesai dalam 30-60 hari. Namun sampai Februari, banyak korban yang masih belum mendapatkan uang mereka kembali.
Menurut keterangan terakhir pada akun Instagramnya, periode pengajuan refund masih diperpanjang sampai 30 April 2023.
Bahkan, promotor acara tersebut, GUDLIVE, membuat acara baru yakni Gudfest 2023. Namun, festival itu kemudian dibatalkan lima hari sebelum tanggal acara. Dengan alasan, adanya pihak yang menyuarakan sentimen negatif tentang proses refund Gudfest 2022.
Sementara itu, Fosfen Music Festival gagal diselenggarakan di Bandung pada November 2022. Tak dipungkiri, promotor acara menyiarkan info penundaan acara hanya beberapa jam sebelum acara dimulai.
Beberapa musisi yang mengumumkan batal pentas di acara tersebut, di antaranya, Seringai, The Sigit, Danilla, Bilal Indrajaya, Grrrl Gang, hingga Lomba Sihir.
Pembatalan ini bukan yang pertama. Semula Fosfen Music Festival dijadwalkan akan digelar pada 27-28 Agustus 2022. Namun, kemudian diundur menjadi 12-13 November 2022.
Menurut laporan beberapa media, sampai pertengahan Februari, para pembeli tiket Fosfen Fest masih belum mendapatkan uang mereka kembali.
Terakhir, ada pula Berdendang Bergoyang Festival yang semula digelar selama tiga hari dihentikan dengan alasan keselamatan dan keamanan penonton.
Festival yang digelar di Istora Senayan pada 28-30 Oktober itu dihentikan setelah polisi mencabut izin penyelenggaraan.
Pencabutan izin itu dilakukan karena alasan potensi gangguan ancaman terhadap keselamatan penonton setelah 27 orang pingsan pada hari pertama dan kericuhan terjadi pada hari kedua.
Sampai sekarang pun, proses refund untuk acara Berdendang dan Bergoyang hari kedua dan ketiga masih belum sepenuhnya tuntas.
Terkait insiden-insiden seperti itu, Melanie Subono mengatakan bahwa kebanyakan promotor cenderung terlalu bergantung pada uang hasil penjualan tiket untuk memastikan jalannya acara.
“Padahal belum tentu yang beli segitu, sehingga terjadilah utang. Itu paling bete. Peraturan nomor satu dalam mengadakan event adalah jangan pernah bergantung pada uang tiket. Karena itu namanya berjudi,” kata Melanie.
Menurut dia, hal paling utama yang harus dipikirkan adalah kematangan persiapan, kemampuan, dan support. Sebab, lebih baik mengecilkan skala acara daripada membatalkannya setelah tiket laris.
“Kalau punya uang Rp5 perak tenaganya cuma dua, ya ukur kemampuan. Dan jangan pernah gengsi mengatakan, 'ternyata saya tidak bisa'.
“Kalau nanti uang tiket masuk biarkan itu menjadi bonus kalau ada yang beli. Intinya, lakukan sekemampuan lu, gitu. Lebih baik cancel atau mengecilkan ketimbang menipu,“ ujarnya.
Kiat-kiat supaya tidak terkena jebakan penipuan berkedok acara musik

Sumber gambar, Annisa Fitri Ramadhanti
Baca juga:
Sejak pengalamannya tertipu oleh Berdendang Fest, Annisa Fitri menjadi semakin berhati-hati dalam membeli tiket untuk menghadiri acara musik.
Jika promotor belum memberikan banyak informasi selain artis yang diundang, sambungnya, calon penonton konser bisa langsung menghubungi pihak manajemen artis tersebut.
“Kalau enggak percaya, ya udah langsung tanyain ke artisnya. Rata-rata manager artis terbuka dengan jadwal-jadwal manggung artis mereka.
“Terus juga jangan gampang transaksi pokoknya. Kalau sudah dengan Google Form gitu jangan pokoknya. Kalau udah curiga, terus enggak pakai aplikasi resmi enggak usah,“ katanya.
Selain itu, ia juga menyarankan agar masyarakat mencari tahu siapa promotor di balik acara yang akan diselenggarakan. Jika promotor itu punya riwayat cukup baik dalam membawakan acara, bisa saja acara itu dapat dipercaya
“Jadi menurutku kalau promotornya udah genah, kita tahu ini siapa di baliknya itu berarti aman. Jadi enggak usah takut,“ ungkap Annisa.
Bahkan, ia mengatakan bahwa grup WhatsApp yang dulunya sempat menjadi tempat korban-korban penipuan berkedok festival musik berkoordinasi, kini telah berubah menjadi grup info konser.
Sehingga, setiap kali ada acara musik baru di Pontianak, para anggota grup itu dapat sama-sama memverifikasi kebenarannya.
“Nanti adminnya yang cek ke promotor musik di Pontianak, benar enggak ada info ini? Jadi kami lebih hati-hati sih sekarang. Pokoknya kalau ada info [acara] musik, kami langsung kirim ke grup nanyain ke admin. Kalau admin bilang aman, baru kami berani beli,” kata Annisa sambil tertawa.
Ia menambahkan saat ini grup itu sudah berisi lebih dari 900 anggota dari yang sebelumnya hanya sekitar 100 orang.
”Karena kan udah bukan grup ini lagi. Udah bukan grup penipuan lagi. Jadi banyak yang join buat tahu info konser.
Promotor acara musik Kiki Aulia Ucup setuju dengan kiat-kiat Annisa dalam memverifikasi kebenaran sebuah acara musik. Ia mengatakan di era digital ini, seharusnya cukup mudah bagi seorang yang ingin menonton konser untuk memvalidasi sendiri acara yang ingin ia datangi.
“Hal lainnya kalau emang enggak mau ribet nanya ya beli tiketnya di hari-H. Cuma ada risiko pasti ya, kalau beli tiket di hari H bisa jadi kehabisan kalau ternyata konsernya emang asli ya pasti kehabisan tiketnya atau harganya sudah mahal."
Lebih lanjut, Ucup mengatakan bahwa kasus penipuan berkedok acara musik itu membawa efek berkelanjutan. Di tengah para penonton menjadi semakin waspada, para promotor acara musik pun harus berpikir lebih keras dalam membuat strategi promosi dan pengaturan acara tersebut.
”Yang baiknya orang makin berkurasi, makin berstrategi untuk bagaimana caranya bisa percaya, dan penontonnya juga makin bisa menilai untuk memvalidasinya.
”Misalnya di luar kota ada suatu festival baru, yang tampil seru-seru banget ya harus ada proses validasi dulu juga. Jangan sampai urgensi mendapatkan tiket murah dikedepankan,” lanjutnya.












