Mantan PM Bangladesh, Sheikh Hasina divonis hukuman mati

Mantan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mantan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina.
Waktu membaca: 3 menit

Mantan Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan dijatuhi hukuman mati.

Sebuah pengadilan khusus memutuskan, Hasina bertanggung jawab atas perintah penindasan brutal terhadap protes yang dipimpin mahasiswa tahun lalu.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) memperkirakan korban tewas mencapai 1.400 orang, sebagian besar akibat tembakan dari pasukan keamanan.

Hasina diadili secara in absentia [tidak hadir] karena ia berada di India, tempat ia melarikan diri sejak dipaksa mundur dari kekuasaan.

Dalam komentarnya kepada BBC pekan lalu, Hasina menggambarkan persidangan yang digelar tanpa kehadirannya sebagai "pengadilan kanguru".

Keamanan telah diperketat di seluruh Bangladesh akibat kekhawatiran akan reaksi balik, dengan beberapa demonstrasi yang telah meletus sejak pagi waktu setempat.

Apa kata Hasina?

Dalam email kepada BBC pekan lalu, Sheikh Hasina menyebut persidangan in absentia-nya sebagai "komedi" yang diselenggarakan oleh "pengadilan boneka" yang dikendalikan oleh lawan politiknya.

Hasina didakwa, secara pribadi memerintahkan pasukan keamanan menembak demonstran dalam beberapa minggu sebelum dia melarikan diri. Dia mengatakan dia "secara tegas" membantah tuduhan tersebut.

"Saya tidak membantah bahwa situasi menjadi tidak terkendali, atau bahwa banyak nyawa hilang secara sia-sia. Tapi saya tidak pernah mengeluarkan perintah untuk menembak warga sipil yang tidak bersenjata," katanya dalam jawaban tertulis.

Apa yang memicu protes besar di Bangladesh?

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pemicu protes mematikan tahun lalu adalah kemarahan kalangan anak muda di Bangladesh terhadap cara pemerintah membagikan pekerjaan.

Sejak perang kemerdekaannya dari Pakistan pada 1971, Bangladesh selalu menyisihkan 30% dari semua posisi ASN untuk veteran dan, yang lebih penting, keturunan mereka.

Pada 2024, ribuan pekerjaan diberikan kepada orang-orang berdasarkan keturunan mereka daripada berdasarkan prestasi. Dalam praktiknya, mereka seringkali merupakan pendukung Sheikh Hasina dan partainya, Liga Awami.

Bagi mahasiswa dan lulusan muda yang menghadapi tingkat pengangguran yang sangat tinggi, sistem kuota mulai dianggap sebagai tanda nepotisme di kalangan elit Bangladesh, bukan sebagai penghargaan atas patriotisme.

Baca juga:

Sejak pemerintah interim mengambil alih, sistem kuota telah dikurangi secara signifikan. Kini hanya 5% dari jabatan pemerintah yang diberikan kepada keturunan veteran perang.

Pemimpin baru Bangladesh, Muhammad Yunus, juga telah sedikit menstabilkan ekonomi dengan meningkatkan cadangan devisa negara dan memperoleh pinjaman vital dari Dana Moneter Internasional (IMF).

Namun, Bangladesh, salah satu produsen pakaian terbesar di dunia, membutuhkan lebih banyak investasi asing untuk memperbaiki ekonominya yang rapuh. Hal itu tidak akan terjadi selama kekerasan dan ketidakstabilan politik terus berlanjut.

Siapa Sheikh Hasina?

Sheikh Hasina adalah perdana menteri terlama dalam sejarah Bangladesh. Ia menjadi ikon pro-demokrasi ketika bergabung dengan partai-partai politik lain untuk menentang pemerintahan militer pada 1980-an. Ia pertama kali terpilih sebagai perdana menteri pada 1996.

Periode keduanya, yang dimulai pada 2009 menjadi kontroversial. Periode tersebut diwarnai dengan tuduhan pembunuhan di luar proses hukum, penghilangan paksa, dan penindasan terhadap oposisi. Situasi ini menjadi sebuah perubahan drastis bagi seorang pemimpin yang pernah berjuang untuk demokrasi multipartai.

Hasina menyebut pembunuhan selama demonstrasi anti-pemerintah tahun lalu sebagai "tragis", tetapi secara tegas membantah secara pribadi memerintahkan pasukan keamanan menembak demonstran beberapa minggu sebelum dia melarikan diri.

Mahasiswa Bangladesh membakar stasiun televisi milik negara selama protes tahun lalu.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mahasiswa Bangladesh membakar stasiun televisi milik negara selama protes tahun lalu.

Ayahnya, Sheikh Mujibur Rahman, memimpin kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan pada 1971 dan menjadi presiden pertama.

Ayahnya dibunuh bersama sebagian besar anggota keluarganya pada 1975. Hanya Hasina dan adik perempuannya, Sheikh Rehana, yang selamat karena mereka berada di luar negeri saat itu.

Hasina adalah politikus licin, bertahan dari berbagai penangkapan saat berada di oposisi dan beberapa upaya pembunuhan. Namun, vonis bersalah hari ini akan secara signifikan mengurangi peluangnya kembali ke panggung politik atau bahkan kembali ke Bangladesh dalam waktu dekat.

Berlindung di India

Pada 5 Agustus 2024, pesawat militer Sheikh Hasina mendarat di Pangkalan Udara Hindon di Ghaziabad saat ia melarikan diri dari protes besar-besaran di Bangladesh.

Hari itu menandai dimulainya tempat perlindungan yang sudah familiar di negara yang pernah membantu sebelumnya.

Sekitar lima dekade lalu, ia tiba di India bersama saudarinya setelah ayah mereka, Presiden Pertama Bangladesh - Sheikh Mujibur Rahman, dibunuh bersama sebagian besar keluarganya dalam kudeta militer pada 1975.

Para demonstran di Bangladesh

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Setelah Sheikh Hasina melarikan diri dari negara tersebut tahun lalu, ribuan orang berduyun-duyun menyerbu kediaman resminya di Dhaka.

Kedua saudari tersebut sedang berlibur di luar negeri saat pembunuhan terjadi. Tanpa ada tempat aman untuk ditinggali, mereka beralih ke India, sekutu kunci Bangladesh dalam Perang Kemerdekaan 1971 melawan Pakistan.

Hasina diberikan suaka politik oleh Perdana Menteri India saat itu, Indira Gandhi.

Ia, bersama anak-anaknya, suaminya, dan saudarinya, tinggal di Delhi di lokasi mewah Pandara Road selama hampir enam tahun dengan identitas palsu.

Selama periode ini, ia menjalin hubungan politik yang kuat dengan para pemimpin India sebelum akhirnya kembali ke Bangladesh dan memasuki arena politik sendiri.

Artikel ini akan terus diperbarui.