Bonnie Blue ditangkal masuk Indonesia selama 10 tahun – Mengapa Bali jadi destinasi produksi konten erotis?

Tia Billinger alias Bonnie Blue dideportasi dari Bali

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Tia Billinger alias Bonnie Blue dideportasi dari Bali, pada Sabtu (13/12).
Waktu membaca: 6 menit

Bali bukan cuma memikat pelancong, tetapi juga produser dan pemeran film porno. Yang terbaru adalah Bonnie Blue, perempuan asal UK yang bernama asli Tia Billinger.

Kini, Bonnie Blue, telah ditangkal masuk ke Indonesia selama 10 tahun, kata pejabat keimigrasian Indonesia.

Ini sekaligus mengoreksi klaim Bonnie Blue yang menyebut dirinya ditangkal selama enam bulan.

"Betul, [kami tangkal selama] 10 tahun, bukan enam bulan seperti yang disebutkan yang bersangkutan dalam video," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Imigrasi Yuldi Yusman, dalam keterangan tertulis, Senin (22/12).

Pihaknya sudah mengajukan penangkalan itu sejak 12 Desember 2025 lalu, seperti dikutip dari Antara.

Bonnie Blue ditangkal karena diduga melakukan pelanggaran hukum dan penyalahgunaan izin tinggal.

Tia Billinger, Bonnie Blue

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA / AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Tia Billinger (tengah), yang dikenal sebagai Bonnie Blue, menghadiri persidangannya di Pengadilan Negeri di Denpasar, Bali, Jumat (12/12).

Sebelumnya, Bonnie dan tiga pria—dua warga negara UK dan satu warga negara Australia—dideportasi oleh imigrasi Indonesia pada Sabtu (13/12) dini hari.

Mereka sempat menjalani pemeriksaan polisi dan menghadiri persidangan.

Sebetulnya, Bonnie Blue bukanlah aktris pornografi pertama yang berupaya membuat konten di Bali.

Veronika Troshina, misalnya. Video aksi perempuan asal Rusia di Gunung Batur pada 2019 itu hingga kini tersebar di situs film porno.

Bagaimana kronologi kasus Bonnie Blue?

Kasus yang menjerat Bonnie Blue bermula ketika kepolisian menggerebek studio di Badung, salah satu distrik wisata populer di dekat Denpasar, pada pekan kedua Desember 2025.

Dalam penggerebekan, polisi menahan Billinger bersama tiga pria lainnya—dua warga negara UK dan satu warga negara Australia. Mereka dicurigai terlibat dalam produksi konten pornografi.

Bonnie disebut sedang menjalani tur "Bang Bus", dengan berkeliling dunia dalam minivan dan bertemu penggemarnya.

Sebelum tiba di Bali, Bonnie Blue sempat mengumumkan kedatangannya melalui akun Instagram pribadinya.

"Hai teman-teman, bagi yang akan pergi ke Schoolies dan bagi yang masih dalam usia legal, saya tak sabar bertemu kalian di Bali, jadi kalian tahu persis apa artinya itu," tulisnya.

Schoolies merujuk pada para remaja SMA Australia yang baru lulus dari kelas 12. Para remaja itu biasanya berbondong-bondong ke Bali dan sekitar Australia untuk merayakannya.

Di Bali, Bonnie disebut memperoleh mobil pikap dan mengendarainya ke tempat-tempat pesta yang ramai. Ia juga menggunakan kendaraan itu untuk membuat konten OnlyFans.

Bonnie Blue bahkan memfilmkan dirinya saat mengendarai mobil pikap dengan para pria muda yang berpesta di bagian belakang mobil.

Dalam penggerebekan pada 4 Desember 2025, polisi menyita truk pikap berwarna biru tua berlabel "Bang Bus."

Namun, belakangan polisi menyatakan tidak menemukan bukti materi dewasa dari lokasi penggerebekan tersebut.

Kapolres Badung AKBP Arif Batubara menyebut, "Bonnie Blue tidak terbukti membuat dan mendistribusikan konten bermuatan pornografi dalam pemeriksaan dan penyelidikan."

Adapun konten porno yang tersimpan di dalam ponsel Bonnie Blue, lanjut Arif, yaitu adegan masturbasi, merupakan koleksi pribadi Bonnie dan tidak disebarluaskan.

Bonnie Blue, Tia Emma Billinger

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Keterangan gambar, Aktris film dewasa asal UK Tia Billinger alias Bonnie Blue berjalan menuju ruang sidang di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Jumat (12/12).

Persidangan dan denda Rp200.000

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Setelah penggerebekan polisi, Bonnie Blue dan rekan-rekannya disidang di Pengadilan Negeri Denpasar atas kasus pelanggaran lalu lintas karena menggunakan truk pikap bukan pada peruntukkannya. Ia tidak ditahan, namun diminta membayar denda Rp200.000.

"Para terdakwa melakukan pelanggaran bersama-sama dan terus menerus," ujar Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Ketut Somanasa.

Sementara itu, menurut Kantor Imigrasi Ngurah Rai Bali, visa berlibur yang dicap di halaman buku paspor Bonnie Blue digunakan untuk memproduksi konten komersial.

Kepala Kantor Imigrasi Bali, Ngurah Rai Winarko, mengatakan kehadiran Bonnie Blue yang berwisata dengan membuat konten-konten komersial telah membuat kegaduhan.

"Kami sudah ajukan ya (deportasi dan penangkalan) kira-kira 10 tahun dan bisa diperpanjang (lebih dari 10 tahun)," terang dia ditemui dalam konferensi pers, Kamis (11/12).

Bonnie Blue dan rekan-rekannya lantas dideportasi dari Bali pada Sabtu (14/12) dini hari.

Edward Pangkahila, kuasa hukum Bonnie Blue, menegaskan kliennya tidak terbukti melakukan pelanggaran pornografi. Namun kliennya bersalah dalam kasus pelanggaran lalu lintas dan izin tinggal.

"Makanya dia dideportasi dan dikenakan penangkalan, ya sudah, memang seperti itu konsekuensi hukumnya," katanya.

Tia Billinger alias Bonnie Blue

Sumber gambar, EPA/Shutterstock

Keterangan gambar, Tia Billinger alias Bonnie Blue tiba di kantor imigrasi di Bali, pada 10 Desember 2025.

Bukan kasus pertama

Bonnie Blue bukanlah satu-satunya bintang film porno yang mendatangi Bali untuk membuat konten.

Sebut saja Veronika Troshina, warga asal Rusia yang membuat adegan porno di puncak Gunung Batur.

Troshina mengunggah video tersebut di situs Pornhub dan ditonton lebih dari 1,2 juta kali.

Akun Instagram Troshina pun menjadi bulan-bulanan warganet Indonesia. Troshina dan rekannya saat itu, Mikhail Morozov, menjadi buruan polisi Bali.

Selain Troshina, Taylor Kirby Whitemore asal Amerika Serikat tercatat memproduksi konten pornografi di Bali.

Whitemore terbukti melanggar UU Pornografi dan ditahan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Jakarta Pusat pada 16 Mei lalu.

Mengapa Bali jadi destinasi produksi konten erotis?

Gede Kamajaya, Sosiolog Universitas Udayana, menilai kasus Bonnie Blue dan deretan produksi film porno asing di Bali, ada hubungannya dengan reputasi Bali sebagai tempat wisata yang eksotis.

"Lebih-lebih Bali yang secara reputasi mentereng untuk dijadikan tagline tertentu, dalam konteks ini produksi pornografi," katanya kepada wartawan Christine Nababan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Bonnie Blue, Tia Emma Billinger

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Keterangan gambar, Aktris film dewasa asal UK, Tia Billinger alias Bonnie Blue di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Jumat (12/12).

Ida Bagus Susena, sosiolog sekaligus ketua umum Dewan Koordinator Nasional (Puskor) Koordinasi Hindu Indonesia, menyatakan Bali sebagai ikon pariwisata di dunia punya nilai jual tinggi.

"Apabila digabungkan dengan bisnis, termasuk bisnis-bisnis kotor, seperti memproduksi konten porno, mungkin menjadi lebih unik. Karenanya akan lebih menjual. Apalagi, orang matanya tertuju pada Bali, pariwisata budaya yang mendunia dan dikenal dengan reliji yang kuat, tetapi memberi ruang bebas, orang bebas berekspresi. Bali sangat terbuka dan welcome (hangat) dengan wisatawan atau pendatang," imbuhnya.

Begitu pula dengan bisnis yang dibuka lebar-lebar di Bali.

"Bahwa ada keleluasaan bagi orang yang membawa duit. Yang begini ini yang mempengaruhi budaya dan reliji Bali yang sebenarnya cukup kuat," lanjutnya.

Bonnie Bluem, Tia Emma Billinger

Sumber gambar, Gilbert Flores/Variety via Getty Images

Keterangan gambar, Bonnie Blue di sebuah acara di Palm Springs, California, AS, 11 April 2025.

Keterbukaan masyarakat Bali dan karakter orang Bali yang tidak ingin tahu urusan orang lain dan tidak ingin mengganggu orang lain itulah yang kerap dimanfaatkan oleh pelaku industri film porno dan tindak kejahatan lainnya, menurut pengamat ekonomi dan pariwisata, Trisno Nugroho.

"Orang Bali kan sopan dan santun, enggak kepo, enggak reseh. Jadi wisatawan merasa bebas," ujar Trisno.

Hal ini, menurut sosiolog Ida Bagus Susena, semestinya membuat masyarakat Bali introspeksi diri.

"Ini mengindikasikan bahwa Bali perlu berbenah. Mulailah menyaring orang-orang yang datang ke Bali. Desa adat juga harus berperan, sekarang ini kan sudah tidak seketat dulu. Saya orang Bali, kita harus akui itu, kita mulai lemah dalam memproteksi Bali," papar Susena.