'Sekarang saya tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan seutuhnya' - Kisah perempuan yang menjalani operasi rekonstruksi akibat sunat perempuan

Shamsa Sharawe
Keterangan gambar, “Saya hanya ingin untuk tidak merasakan sakit ini lagi," tutur Shamsa Sharawe.
    • Penulis, Bushra Mohamed
    • Peranan, BBC News
    • Melaporkan dari, London
  • Waktu membaca: 7 menit

Peringatan: Artikel ini memuat detail kekerasan yang mungkin dapat mengganggu kenyamanan Anda.

“Saya takut dengan ide pemotongan ulang, meskipun kali ini atas persetujuan saya. Tapi saya harus melakukannya demi kesehatan mental saya.”

Shamsa Sharaawe tengah mendiskusikan keputusannya untuk menjalani operasi rekonstruksi setelah klitoris dan vulvanya dimutilasi 25 tahun lalu, saat dia masih berusia enam tahun.

Female genital mutilation (FGM) atau pemotongan alat kelamin perempuan – dikenal dengan sunat perempuan – ini dilakukan oleh anggota keluarga besarnya dan bidan tradisional di rumahnya di Somalia.

Lebih dari 230 juta anak dan perempuan dewasa telah menjalani FGM di seluruh dunia, menurut laporan Unicef ​​baru-baru ini.

Di Indonesia sendiri, merujuk hasil survey pengalaman Hidup (SPHPN) 2021, masih terjadi praktik sunat perempuan pada perempuan usia 19-45 tahun sebanyak 21,6%. Sedangkan yang melakukan secara simbolis sebanyak 33,1%.

Sementara di Afrika – wilayah di mana sunat perempuan masih kerap dilakukan – FGM telah terjadi pada lebih dari 140 juta perempuan dan anak perempuan.

Di Somalia, Guinea dan Djibouti, sebagian besar anak perempuan menjalani FGM – atau sekitar 90% dari populasi.

Ada kepercayaan umum di negara-negara ini bahwa FGM akan menjamin keperawanan seorang gadis muda. Banyak komunitas di Somalia yang percaya bahwa keperawanan perempuan dan kehormatan keluarga mereka saling terkait erat.

Mereka yakin kehormatan keluarga akan tetap utuh jika anak perempuan disunat.

Perempuan yang tidak menjalani FGM dianggap oleh banyak masyarakat Somalia sebagai perempuan yang memiliki moral yang rendah atau dorongan seks yang tinggi, yang mereka yakini berisiko merusak reputasi seluruh keluarga.

Shamsa Sharawe menjalani masa pemulihan di rumah sakit setelah operasi.

Sumber gambar, Shamsa Sharaawe

Keterangan gambar, Shamsa Sharawe menjalani masa pemulihan di rumah sakit setelah operasi.

Rekonstruksi klitoris

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Beranjak dewasa, Shamsa mengaku dia mengalami rasa sakit yang luar biasa setiap kali menstruasi.

“Saya hanya ingin untuk tidak merasakan sakit ini lagi,” katanya.

Pada akhir tahun 2023, ketika berusia 30 tahun, Shamsa memutuskan untuk mencari kemungkinan operasi rekonstruksi guna mengakhiri penderitaannya.

Saat ini dia tinggal di Inggris dan menjadi aktivis media sosial yang vokal menentang pemotongan alat kelamin.

Pandangan bahwa banyak perempuan yang mengalami kondisi sepertinya – yaitu tidak mengetahui apakah dapat melakukan sesuatu untuk meningkatkan kualitas hidup mereka – membuatnya bertekad untuk meningkatkan kesadaran mengenai operasi.

Baca juga:

''Tidak ada cukup informasi mengenai operasi itu sendiri. Itulah alasan mengapa saya membicarakan hal ini,'' kata Shamsa.

Bedah rekonstruksi klitoris dilakukan untuk tujuan fungsional dan bukan estetika.

Tindakan ini mencakup rekonstruksi klitoris, labia, pengangkatan kista dan jaringan parut guna mengurangi rasa sakit serta memulihkan kehidupan seks perempuan.

Dalam beberapa kasus, lubang vagina membesar juga kembali normal.

Setelah melakukan banyak penelitian, Shamsa menemukan satu-satunya pilihan yang layak untuk operasinya berada di Jerman.

Dia lalu melakukan penggalangan dana secara online dan berhasil mengumpulkan US$ 31.000 (sekitar Rp502 juta).

Dokter Adan melakukan operasi di kliniknya di Nairobi

Sumber gambar, Adan Abdullahi

Keterangan gambar, Dokter Adan melakukan operasi di kliniknya di Nairobi.

Meskipun mendapat bantuan dari pendukungnya yang beberapa di antaranya belum pernah mendengar tentang FGM, Shamsa menyadari bahwa dirinya masih belum mempunyai cukup uang untuk membiayai operasi dan pengeluaran lainnya.

Pada akhirnya, Shamsa menghabiskan lebih dari US$37.000 (sekitar Rp600 juta) yang digunakan untuk penitipan anak putrinya, biaya terbang ke Jerman, dan menjalani prosedur tersebut.

Hal ini membuatnya berutang pada rumah sakit sekitar US$4.045 (setara Rp65 juta).

“Saya belum bisa kembali melakukan konsultasi pasca-perawatan karena tidak mampu membayar biayanya,'' kata Shamsa.

“Membayar kerusakan yang tidak Anda pilih sendiri, atau tidak Anda ciptakan, sungguh tidak adil.”

Dokter Reham Awwad di kliniknya di Mesir tidak percaya bahwa operasi adalah pilihan terbaik bagi perempuan yang mengalami FGM.

Sumber gambar, Reham Awwad

Keterangan gambar, Dokter Reham Awwad di kliniknya di Mesir tidak percaya bahwa operasi adalah pilihan terbaik bagi perempuan yang mengalami FGM.

Apa itu FGM atau sunat perempuan?

Ada empat jenis pemotongan alat kelamin perempuan (FGM), dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Tipe satu adalah pengangkatan sebagian atau seluruh klitoris.

Tipe kedua adalah pemotongan sebagian atau seluruh klitoris dan labia bagian dalam (bibir bagian dalam yang mengelilingi vagina), dengan atau tanpa pengangkatan labia majora (lipatan kulit tebal bagian luar).

Tipe ketiga melibatkan penyempitan lubang vagina dengan membuat segel, dibentuk dengan memotong dan mengubah posisi labia.

Tipe keempat, yang paling drastis, adalah pengangkatan klitoris, vulva, dan lainnya serta menjahit jaringan yang tersisa menjadi satu.

Dalam beberapa dekade terakhir, ahli bedah plastik telah mulai mengembangkan teknik medis khusus untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh FGM.

Pada tahun 2004, operasi rekonstruksi FGM pertama dikembangkan oleh ahli urologi Perancis, dokter Pierre Foldès.

Sejak itu, ahli bedah lain telah mengembangkan teknik restorasi yang berbeda.

Namun, di Afrika, dimana permintaan terhadap tindakan ini sangat tinggi, akses terhadap tindakan bedah sangat terbatas.

Saat ini layanan tersebut hanya tersedia di Kenya. Di sana, pasien harus membayar sendiri atau di Mesir, tempat organisasi non-pemerintah dapat menanggung biaya untuk beberapa penyintas.

Di Eropa, beberapa negara menawarkan operasi dengan biaya yang sangat rendah. Rekonstruksi klitoris ditanggung oleh asuransi kesehatan masyarakat di Belgia, Jerman, Perancis, Swedia, Finlandia dan Swiss. Ini juga tersedia di Belanda.

Menurut seorang dokter spesialis FGM di Kenya, bedah rekonstruktif menjadi spesialisasi yang berkembang di beberapa negara Barat.

“Ada beberapa ahli bedah Eropa dan Amerika yang melakukan prosedur ini untuk komunitas diaspora,” kata dokter Adan Abdullahi, seorang ahli bedah yang berbasis di Nairobi.

“Tetapi tidak semua ahli bedah bisa melakukan operasi ini karena kerumitannya dan setiap pasien berbeda.”

Abdullahi mengatakan perempuan yang mengalami semua jenis FGM bisa mendapatkan manfaat dari prosedur ini. Namun, perempuan yang menerima bantuan paling banyak adalah mereka yang paling terkena dampaknya.

“Ini berdampak positif pada persalinan, terutama pada tipe tiga yang berhubungan dengan penyempitan vagina,” ujarnya.

Dia mengatakan masalah lain seperti rasa sakit saat berhubungan seks dapat disembuhkan secara signifikan setelah operasi.

Selain itu, Abdullahi menambahkan bahwa pasiennya juga sering kali mengalami pemulihan harga diri “dan rasa kesempurnaan.”

FGM, sunat perempuan
Keterangan gambar, Di Eropa terdapat negara-negara yang menawarkan bedah rekonstruktif yang dibiayai melalui asuransi kesehatan masyarakat.

'Tangguh pada tubuhmu'

Haja Bilkisu, perempuan berkewarganegaraan Jerman dari Sierra Leone, telah menjalani beberapa kali operasi rekonstruksi FGM.

Dia mendorong para penyintas lainnya untuk meneliti secara menyeluruh apa saja prosedur yang mungkin dilakukan sebelum melakukan operasi.

“Rekonstruksi bukan hanya merekonstruksi klitoris,” katanya.

"Perempuan yang mengalami ini [pemotongan] memiliki banyak bekas luka, jaringan parutnya tebal. Harus didiskusikan dengan dokter. Bagaimana cara menghilangkan bekas lukanya? Apa yang bisa dilakukan agar vulvanya lebih elastis?"

Perempuan itu menjelaskan bahwa operasi tidak hanya penting untuk hubungan intim tetapi juga untuk melahirkan.

Setiap operasi yang dijalani Haja memakan waktu sekitar enam jam untuk dilakukan.

“Tentu saja itu berat bagi tubuhmu. Anda dibius. Anda harus minum obat setelahnya. Saya tidak bisa berjalan selama tiga minggu,” katanya.

Karena dampak operasi terhadap tubuh, beberapa dokter menyarankan prosedur non-bedah.

Reham Awwad adalah salah satu pendiri klinik di Mesir, Restore, pada tahun 2020 yang menawarkan berbagai perawatan bagi para penyintas FGM.

Awwad mengatakan dirinya terinspirasi untuk mendirikan pusat kesehatan setelah menemukan kasus FGM saat masih magang di bidang medis.

Haja bersama keluarganya setelah perjalanan ke Sierra Leone pada tahun 2002.

Sumber gambar, Haja Bilkisu

Keterangan gambar, Haja bersama keluarganya setelah perjalanan ke Sierra Leone pada tahun 2002.

Hal ini membawanya untuk menyelesaikan pelatihan bedah spesialis dalam pengobatan bagi para penyintas.

Perempuan ini mengatakan meskipun tindakan operasi dapat memberikan kesembuhan, pemotongan terkadang sangat parah sehingga, bahkan dengan teknik bedah paling canggih sekalipun, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengembalikan fungsinya.

“Saya yakin operasi bukanlah jawaban untuk semua orang,” katanya.

“Kami sebenarnya telah mengurangi jumlah operasi yang perlu dilakukan.”

Awwad mengatakan bahwa sekitar separuh kasus yang dirawat di kliniknya sekarang menggunakan perawatan non-bedah untuk meningkatkan aliran darah ke area tersebut.

Seperti terapi psikologis, bertujuan untuk mengatasi trauma bagi perempuan yang mengalami pemotongan alat kelamin pada usia yang muda.

Dia menjelaskan ada beberapa prosedur non-bedah yang dapat dicoba - seperti platelet-rich plasma, sebuah proses yang sekarang digunakan di berbagai bidang kedokteran.

“Plasma [dapat] melakukan regenerasi, stimulasi peningkatan aliran darah dan mengurangi peradangan di area tempat Anda menyuntikkannya,” katanya, meskipun dia memperingatkan bahwa biaya perawatan ini di luar jangkauan banyak orang yang membutuhkannya.

Tubuh baru

Bagi mereka yang memilih operasi rekonstruktif, implikasinya bisa sangat emosional.

Bagi Haja asal Sierra Leone, butuh waktu untuk membiasakan diri dengan tubuh barunya.

''Pertama kali saya benar-benar melihat klitoris saya, saya kaget karena seperti bukan milik saya,” katanya.

“Saya mengalami pemotongan ketika berusia delapan tahun. Saya tidak pernah melihat bagian tubuh itu.”

Sementara itu, Shamsa kini dalam masa pemulihan. Meskipun memiliki utang, ia senang telah berinvestasi dalam operasi itu.

“Saat saya pulih, saya harus belajar bagaimana hidup dengan klitoris baru dan vulva baru saya,” katanya.

“Tapi sekarang aku tahu bagaimana rasanya menjadi perempuan seutuhnya.”