Pulau milik masyarakat di Skotlandia yang hidup dengan energi terbarukan

Sumber gambar, markferguson2/Alamy
- Penulis, Hugh Tucker
- Peranan, BBC Travel
Meskipun merupakan salah satu pulau terkecil di Skotlandia, dengan jumlah penduduk yang hanya 110 orang, Pulau Eigg menjadi contoh bagaimana masyarakat yang menatap masa depan hidup dengan konsep berkelanjutan dan sadar lingkungan.
Saat kapal feri terombang-ambing mengikuti gelombang ombak yang menghantam dermaga beton di Pulau Eigg, ada sesuatu yang terjadi sehingga penumpang tidak dapat langsung turun ke daratan.
Semua muatan diangkat dari perahu ke tempat tunggu di atas. Haluan juga diperiksa ulang untuk memastikan tidak ada yang terlupakan.
Yang terakhir diturunkan adalah seikat koran, yang digulung rapat dan diberi label tersendiri.
Saat diangkat, salah satu dari ikatan koran ini terpeleset dan terguling kembali ke tangga, jatuh ke air. Koran itu lalu diambil oleh salah satu awak kapal feri sesaat sebelum mencapai tepian.
Meskipun itu hanya kumpulan kertas, bahkan mereka yang baru tiba tampaknya merasakan pentingnya untuk menghentikan koran itu dan ikut merasa lega saat 'penyelamatan' itu terjadi.
Eigg adalah salah satu dari kumpulan pulau di kawasan yang dikenal dengan Scottish Inner Hebrides. Wilayah ini juga kerap disebut sebagai Small Isles (Kepulauan Kecil).
Pulau ini terletak 24 kilometer dari daratan. Kehidupan warga pulau ini bergantung pada kapal feri yang operasionalnya ditentukan cuaca. Kapal yang datang beberapa kali seminggu itu menjadi penentu pasokan kebutuhan dasar dan transportasi. Oleh karena itu, sampah bukanlah suatu pilihan di sini. Keberlanjutan adalah suatu keharusan.
“Keberlanjutan selalu menjadi bagian dari kehidupan di sini,” kata Norah Barnes, penjaga hutan Scottish Wildlife Trust di Eigg.
"Anda menjadi lebih sadar akan apa yang Anda gunakan. Anda tidak bisa hanya pergi ke toko di ujung jalan untuk mendapatkan sesuatu. Apa pun yang kami inginkan, kami benar-benar harus bergantung pada kapal," tuturnya.
Jika digabungkan, Pulau Kecil Eigg, Canna, Sanday, Rùm, dan Muck hanya berpenduduk 150 hingga 200 orang.
Berukuran 32 kilometer persegi, Eigg merupakan pulau terbesar kedua. Namun sejauh ini Eigg merupakan pulau terpadat dengan sekitar 110 penduduk. Jumlah penduduk ini turut membantu menumbuhkan komunitas yang secara kolektif mampu mengambil alih masa depan pulau tersebut.

Sumber gambar, Ashley Cooper pics/Alamy
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Turun dari feri, saya berjalan sebentar ke An Laimhrig , pusat dermaga.
Kompleks dermaga tersebut baru-baru ini diperluas dan dibangun kembali untuk melayani jumlah penduduk pulau dan pengunjung yang meningkat. Kawasan dermaga ini merupakan jantung kehidupan masyarakat.
Saat saya mempelajari peta, penduduk pulau itu datang dan pergi, mengumpulkan kiriman, mengantarkan surat, dan membeli perbekalan di satu-satunya toko kelontong di pulau itu. Toko itu juga berfungsi sebagai kantor pos dan titik kumpul masyarakat seperti kafe.
Selain kafe dan toko kelontong, kompleks ini juga memiliki toko kerajinan, persewaan sepeda, toilet, dan kamar mandi bagi mereka yang berkemah di alam atau tinggal di tempat perkemahan milik komunitas.
Di sinilah juga berdiri monumen batu untuk memperingati pembelian pulau oleh masyarakat pada tahun 1997 .
Setelah sejumlah pemilik tanah keluar dari pulau tersebut atau tidak tertarik dengan pembangunannya, penduduk Eigg yakin bahwa kepemilikan dengan sistem komunal adalah satu-satunya cara untuk menjamin masa depan pulau tersebut.
"Pulau ini menyadari bahwa kita tidak akan dapat membangun sebuah komunitas kecuali kita melakukannya sendiri," kata Maggie Fyffe, sekretaris Isle of Eigg Heritage Trust (organisasi yang memiliki Pulau Eigg).
Ketika pulau itu dijual pada tahun 1996 , penduduk setempat mulai mengumpulkan uang.
"Warga berkontribusi dan kami mengadakan kampanye penggalangan dana besar-besaran. Tapi kami punya donor misterius yang akhirnya memberi kami satu juta poundsterling (sekitar Rp9,5 miliar dengan kurs saat ini).
"Itulah yang membuat kami akhirnya berhasil memiliki pulau ini," ujarnya.
Baca juga:
Meskipun pengunjung datang karena berbagai alasan, Eigg paling cocok bagi mereka yang tertarik dengan alam terbuka.
Pemandangan yang paling terkenal adalah Pantai Singing Sands di utara pulau yang berdecit ketika pasir bergerak dan pemandangan punggung bukit An Sgurr yang menjulang tinggi. Bukit ini terbentuk sekitar 58 juta tahun yang lalu dari letusan gunung berapi yang membayangi timur pulau itu.
Di pulau itu juga terdapat dataran terjal, tegalan, hutan, pantai berpasir putih, dan bahkan sebagian kecil hutan hujan beriklim sedang.
Sebagian besar wilayah pulau ini belum tersentuh oleh industri yang telah mengubah pedesaan di sebagian besar wilayah Inggris.
“Kami tidak memiliki pertanian yang sangat intensif di sini,” kata Barnes.
“Bentang alamnya kondusif bagi satwa liar. Tidak ada penangkapan ikan komersial atau pertanian skala besar dan garis pantai dan laut merupakan perairan yang bersih dan jernih,” tuturnya.
Untuk memanfaatkan langit cerah dan pemandangan dari puncaknya, saya berangkat mendaki An Sgurr.
Lanskap ini tampak curam dengan dinding batu hitam tipis yang menjulang tinggi. Namun jalan setapak yang melengkung di punggungnya menawarkan pendakian yang relatif mudah ke puncak.
Pada ketinggian hampir 400 meter, pemandangan dari puncak sungguh luar biasa, membentang hingga ke arah Rùm, Skye dan daratan utama.
Tapi tidak ada tempat yang menawarkan panorama Eigg yang lebih baik, dan saat angin mulai berhembus, mata saya tertuju ke tempat turbin angin di pulau itu.

Sumber gambar, Vincent Lowe/Alamy
Diluncurkan pada tahun 2008, Eigg adalah komunitas pertama di dunia yang meluncurkan sistem listrik independen yang memanfaatkan tenaga angin, air, dan sinar matahari.
Ketiga sistem tersebut saling melengkapi sehingga hampir semua kondisi cuaca kondusif untuk menghasilkan listrik.
Untuk menjamin pasokan listrik, warga juga memiliki generator cadangan. Namun sebagian besar listrik berasal dari sumber terbarukan.
“Jumlah energi terbarukan yang kami gunakan bervariasi tergantung cuaca, tapi kami telah melakukan sebanyak 90%,” kata Fyffe.
Manfaat sistem energi terbarukan sangat banyak. Sebelumnya, pulau ini bergantung pada generator diesel, yang menurut Barnes merupakan masalah logistik.
“Solar harus dibawa dengan kapal, dituangkan ke dalam tong, membawa tong tersebut ke rumah Anda dan mengisi generator Anda. Ini adalah pekerjaan yang sangat besar. Penggunaan energi terbarukan telah memberikan banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari masyarakat dan juga lingkungan," ujarnya.
Hal ini juga merupakan sebuah langkah menuju swasembada. Ketika krisis energi global mendorong kenaikan harga di seluruh dunia, Fyffe menjelaskan bagaimana pendekatan ini bisa turut mencegah warga pulau tersebut dari peningkatan biaya hidup.
“Pada mulanya, harga satuan di wilayah kami lebih tinggi dibandingkan di wilayah daratan, tapi saat ini kami mungkin lebih murah," kata Fyffe.
"Kami menaikkannya sedikit dari waktu ke waktu, namun kami belum melakukan hal ini dalam beberapa tahun terakhir karena banyak orang mengalami kesulitan belakangan ini," tuturnya.
Dengan pencapaian mereka saat ini, warga Pulau Eigg belum berpuas diri. Mereka terus berupaya menjadi lebih 'ramah' terhadap lingkungan.
“Kami sedang terlibat dalam studi kelayakan lainnya untuk mencari cara bagaimana kami bisa mencapai karbon netral,” kata Fyffe.
“Kami berharap bisa membangun rumah dan merenovasi ruang operasi dokter untuk disewakan.
"Kami akan menguji coba pompa panas sumber udara (yang berasal dari jaringan listrik) untuk melihat seberapa efisiennya. Lalu, orang bisa pindah ke sana. Kami memerlukan lebih banyak pasokan untuk ini, mungkin tiga turbin besar, meskipun ini masih tahap awal," ucapnya.

Sumber gambar, Ashley Cooper pics/Alamy
Untuk pemanas ruangan, sebagian besar rumah di Pulau Eigg saat ini menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Warga Eigg menjalankan proyek kehutanan berkelanjutan untuk menjamin pasokan, menebang pohon untuk menyediakan kayu bakar bagi penduduk pulau dan kayu untuk ekspor sekaligus melakukan penanaman kembali dan memperluas hutan.
Untuk membantu reboisasi, Barnes mengatakan, "Pembibitan pohon telah didirikan untuk menanam kembali pohon-pohon baru dari pohon-pohon tua yang ditebang. Beberapa akan digunakan untuk bahan bakar kayu, dan beberapa akan dipertahankan untuk satwa liar. Ini adalah pohon asli wilayah ini. Pohon yang kuat.”
Populasi di pulau ini saat ini merupakan yang tertinggi selama setidaknya setengah abad terakhir.
Eigg juga tampaknya menghindari masalah 'rumah kedua' yang mempengaruhi beberapa pulau di Skotlandia. Pulau-pulau itu kosong saat musim dingin. Faktanya, saat berjalan melintasi pulau, tantangan utama yang dihadapi warga pulau ini adalah menyediakan rumah permanen bagi penduduk yang tinggal di karavan atau akomodasi sementara.
"Kami mencoba menyediakan rumah bagi orang-orang yang tinggal di sini. Kami memiliki beberapa orang yang tinggal sementara sehingga pihak Trust mencoba meningkatkan properti yang tersedia untuk disewa," kata Fyffe.
"Ada cukup banyak orang yang menunggu properti sewaan tersedia."
Meskipun infrastruktur mengalami kemajuan, pertumbuhan dan permintaan akan perumahan merupakan pertanda positif dalam melawan ancaman depopulasi yang dihadapi oleh banyak pulau kecil di kawasan ini. Optimisme ini tampaknya juga dimiliki oleh satwa liar.
“Kami melihat sepasang elang laut kembali ke pulau ini empat tahun lalu setelah punah di Eigg,” kata Barnes.
“Mereka diperkenalkan kembali ke Rhum tetapi kembali dengan sendirinya ke Eigg dan telah menghasilkan anak selama tiga tahun terakhir,” ujarnya.
---
Versi bahasa Inggris artikel ini dengan judul 'The Isle of Eigg: The community-owned island that powers itself' di BBC Travel.









