Penipuan tiket Coldplay jerat banyak korban, Adrie Subono: 'jangan beli tiket dari orang tak dikenal'

Sumber gambar, Getty Images
Animo masyarakat Indonesia untuk menonton konser Coldplay di Jakarta pada November mendatang dimanfaatkan 'aktor jahat' untuk melakukan penipuan. Mantan promotor musik, Adrie Subono mewanti-wanti agar tidak membeli tiket konser dari orang yang tidak dikenal.
Polisi telah menetapkan dua orang asal Yogyakarta sebagai tersangka penipuan dengan modus jasa titip (jastip) tiket Coldplay.
Mereka diciduk setelah polisi menerima laporan dari orang-orang yang sudah membayar tetapi tidak kunjung mendapatkan tiketnya.
Pada Selasa (23/05), beberapa korban menyambangi Mabes Polri untuk memberikan keterangan.
Kuasa hukum korban, Zainul Arifin mengatakan ada 60 orang yang sudah meminta advokasi terkait dugaan penipuan ini.
“Untuk saat ini, yang melakukan ataupun memberi advokasi kepada kami yang awalnya hanya 14 orang, kemudian bertambah jadi 60 orang, dengan nilai kerugian yang awalnya Rp32 juta sekarang menjadi Rp183 juta,” ungkapnya kepada wartawan.
Polda Metro Jaya mengatakan mereka telah menerima 60 laporan hingga Senin (22/05), namun belum memastikan apakah semuanya merupakan korban dari dua tersangka tersebut.
Pihak Polda Metro berkoordinasi dengan Mabes Polri terkait kasus ini.
Mantan promotor musik terkemuka di Indonesia, Adrie Subono, mengatakan penipuan dengan modus jastip ini sulit dicegah oleh promotor karena mereka tidak bisa mengontrol siapa yang membeli tiket.
Tertipu setelah kalah ‘war’
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Direktur Reskrisus Polda Metro Jaya Kombes Auliansyah Lubis mengatakan kedua tersangka adalah laki-laki berinisial ABF dan perempuan berinisial W. Keduanya yang merupakan pasangan suami-istri ditangkap di Bantul, Yogyakarta.
Auliyansyah mengatakan para tersangka membeli sebuah akun Twitter dengan banyak pengikut untuk mempromosikan ‘jasa’ mereka, dan memajang testimoni-testimoni palsu guna meyakinkan calon korban.
"Mereka ini selaku pelaku membuka website dengan nama @findtrove_id, web ini mereka beli dari Twitter dari seseorang. Memilih web ini karena sudah cukup banyak follower-nya," kata Auliyansyah kepada wartawan, Senin (22/05).
Salah satu korban yang mengaku bernama Arif mengatakan ia menggunakan jastip setelah kalah rebutan tiket, atau “war”, di situs web resmi.
"Pertamanya itu saya kan enggak dapat tiket dari (situs web) resminya... Jadi saya coba jastip di Twitter, terus saat itu pelaku sangat menyakinkan buat dia menjual tiket, tapi nyatanya dia itu penipuan," kata Arif kepada wartawan di Bareskrim Polri, Selasa (23/05).
Arif mengaku tidak curiga karena melihat banyak testimoni di akun tersebut. “Banyak bukti di akun Twitter-nya, sebelumnya banyak yang beli di dia,” ujarnya.
Ia kemudian membeli dua tiket kategori CAT6 dengan harga Rp4 juta, dua kali lipat dari harga resmi.
Dua hari setelah mentransfer pembayaran, ia belum mendapatkan tiket yang dijanjikan. Malah nomornya diblokir oleh akun jastip tersebut.
Sebelumnya, seorang pengguna Twitter dengan nama @imyourpuduu menuduh akun @findtrove_id melakukan penipuan dalam sebuah utas yang belakangan menjadi viral.
Tangkapan layar percakapan dengan akun tersebut menunjukkan bahwa korban awalnya diminta untuk mentransfer sejumlah uang untuk memesan slot dan kemudian ketika tiket disebut sudah didapatkan, korban diminta membayar sisanya.
Korban disebut merugi Rp1,2 juta akibat dugaan penipuan ini. Beberapa pengguna merespons utas tersebut dengan mengaku menjadi korban dari akun yang sama, dengan kerugian jutaan rupiah.

Sumber gambar, Wildan Noviansah/Detikcom
Direktur Reskrisus Polda Metro Jaya Kombes Auliansyah Lubis mengatakan bahwa, menurut penyidikan sementara, tersangka meraup keuntungan hingga Rp257 juta dari penipuan tersebut.
Guna meyakinkan calon korban, mereka membuat testimoni palsu di akunnya yang memberi kesan bahwa mereka pernah menjual berbagai tiket konser sebelumnya dan berhasil.
"Di Twitter tersebut menyampaikan bahwa dia sudah berhasil menjual tiket-tiket konser yang sebelum-sebelumnya, misalnya K-pop apa dan lain sebagainya.
"Jadi komentar-komentar daripada follower ini dikatakan bagus, kemudian ini bener, ini asli, dan lain sebagainya sehingga menarik masyarakat yang melihat di Twitter ini untuk membeli tiket konser Coldplay," imbuhnya.
Keduanya juga mengeluarkan uang untuk membeli tiket asli kategori festival seharga Rp4,5 juta. Tiket tersebut, kata Auliyansyah, dipajang di akun Twitternya supaya korban tertarik.
‘Sulit dicegah’
Praktik pencatutan atau pencaloan tiket konser biasa terjadi di Indonesia. Calo membeli tiket dalam jumlah besar kemudian menjualnya kembali dengan harga berkali-kali lipat.
Seiring pembelian tiket beralih sepenuhnya menjadi lewat online, banyak orang menawarkan jasa titip alias jastip. Mereka menawarkan jasa untuk membelikan tiket, dengan bayaran tentu saja, supaya si pembeli tidak harus ikut mengantre atau rebutan tiket — atau ‘war’, kata anak zaman sekarang.
Beda jastip dengan calo adalah biasanya jastip tidak menawarkan tiket di luar masa penjualan.
Promotor musik terkemuka Indonesia yang sekarang sudah pensiun, Adrie Subono, mengatakan praktik pencatutan tiket sudah ada dari dulu. Adrie, yang dengan perusahaannya Java Musikindo mendatangkan banyak musikus mancanegara di tahun 1990-an sampai 2000-an, mengatakan dahulu tukang catut atau calo menjual tiket langsung di gedung pertunjukan.

Sumber gambar, Adriesubono/Instagram
“Karena kalau dahulu tukang catut itu kan terjadi di luar gedung, itu kan langsung ada barang ada uang. Nah sekarang kan masih berbentuk jastip-jastip itu,” kata Adrie kepada BBC News Indonesia.
Adrie mengatakan pihak promotor sulit untuk mencegah pencatutan tiket karena mereka tidak bisa benar-benar mengetahui siapa si pembeli tiket dan apa yang hendak mereka lakukan dengan tiket tersebut.
Penjualan tiket secara online sesungguhnya memudahkan pihak promotor maupun pembeli tiket, menurut Adrie. Namun, kebetulan minat masyarakat yang tinggi untuk menonton konser Coldplay ini dimanfaatkan oleh para penipu.
Sebagai gambaran, pihak promotor menyediakan sekitar 70.000 tiket. Sedangkan orang yang mengantre untuk tiket pre-sale – khusus bagi pemilik rekening BCA – saja mencapai 1,5 juta orang.
Video yang tersebar di media sosial menunjukkan sederetan komputer yang semuanya membuka situs web resmi penjualan tiket Coldplay, terus menerus menyegarkan laman situs.
Beberapa warganet menuding ada pihak-pihak yang menggunakan bot untuk memenangkan ‘war’.
Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati X pesan
“Semua orang punya hak yang sama untuk membeli tiket... Jadi saya rasa itu sesuatu yang susah dihindari. Dari dulu juga waktu jamannya belum online saya juga membatasi orang membeli tiket hanya 4 tiket untuk satu orang.
Itu juga ketika dia beli tiket saya juga nggak tanya ke dia kamu mau jual lagi apakah kamu pakai? Sedangkan ada satu pembeli yang dia suruh sopirnya untuk beli,” kata Adrie.
Dengan situasi ini, ia menyarankan supaya para peminat konser tidak membeli tiket dari orang yang tidak dikenal.
“Kalau boleh saya sarankan ya jangan beli di orang yang kita enggak kenal. Mungkin juga si orang itu dia cuma menawarkan melalui online tapi dia sendiri juga enggak punya tiket,” ujarnya.
Perjuangan yang ‘hopeless’
‘War’ untuk tiket Coldplay kemarin disebut-sebut sebagai rebutan tiket paling sengit baru-baru ini. Beberapa penggemar mengatakan bahkan ‘war’ untuk konser BTS tahun 2017 lalu tidak separah ini.
Dyshelly adalah salah satu penggemar berat Coldplay yang kalah dalam ‘war’ kemarin. Perempuan berusia 31 tahun yang tinggal di Bogor, Jawa Barat itu bercerita ketika penjualan tiket mulai dibuka untuk umum pada tanggal 19 Mei pukul 10:00, ia harus menunggu hampir satu jam untuk masuk.
Dan ketika akhirnya bisa masuk, ia berada dalam antrean ke 48.000. Suaminya, yang mencoba masuk lewat gawai lain, bahkan tidak bisa masuk antrean sama sekali.
“Aku udah hopeless banget 48.000 antreannya. Memang ada orang lain yang sampai 500.000 antreannya. Tapi kayaknya udah nggak dapat deh,” katanya kepada BBC News Indonesia.
Semua kategori tiket dilaporkan habis dipesan dalam waktu 30 menit. Bahkan, kategori tiket termahal Ultimate Experience (CAT1) dengan harga Rp11 juta sudah habis dalam 6 menit.
Meskipun gagal dapat tiket, Dyshelly tidak berniat untuk membeli dari calo. “Memang belum rezeki aja,” ujarnya.
Wartawan BBC News Indonesia, Nicky Aulia, berhasil mendapat tiket setelah mengantre sendiri dan menggunakan jastip dari orang terpercaya yang sudah ia kenal.
Nicky menjelaskan pihak jastip memesan tiket menggunakan data pribadinya, kemudian mengirimkan rincian pembayaran ke virtual account promotor. Dengan cara ini, ia membayar ongkos tiket langsung ke promotor dan bukan ke pihak jastip.
Menurut Nicky, banyak orang yang tertipu membayar harga tiket penuh dan biaya jasa ke pihak jastip, dengan janji uang akan dikembalikan jika tidak dapat tiket.
“War sendiri memang bikin frustasi, pakai jastip karena nggak yakin bakal dapat tiketnya,” ujarnya.
Ia sendiri sampai menggunakan empat gawai – tiga komputer dan satu ponsel – untuk rebutan tiket. Hanya satu gawai yang akhirnya bisa masuk, setelah antre empat jam.
Ia berkata untuk menang ‘war’, tidak bisa bergantung hanya pada kecepatan internet, atau dapat antrean di depan. Kadang-kadang ada faktor keberuntungan juga.
“Bisa aja orang yang antrenya depan juga enggak dapet karena pas mereka masuk ke halaman pemilihan tiket itu full book semua, nggak ada yang gagal bayar.
"Di tengah keputusasaan dan segala faktor yang bikin hopeless itu, aku paham banget kenapa akhirnya orang-orang lari ke jastip."
PK Entertainment dan TEM Presents selaku promotor resmi dari konser Coldplay Music of the Spheres World Tour Jakarta mengatakan pihaknya hanya menjual tiket lewat situs web resmi dan tidak bekerja sama dengan pihak manapun.
Mereka juga menekankan bahwa setiap pembelian tiket melalui situs web resmi hanya untuk menonton konser, dan tiket dilarang digunakan untuk hal-hal di luar peruntukan tersebut.
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan













